Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hasil Uji Coba Terburu-Buru Hasilkan Vaksin Covid-19 Kurang Berkualitas

Ilmuwan menyebut melakukan imunisasi penyakit tidak bisa menjadi urusan sederhana untuk membasmi virus. Faktanya, bisa jadi akan muncul kebingungan yang cukup besar karena para peneliti masih berjuang untuk menentukan versi terbaik bagi kelompok rentan yang berbeda seperti orang tua.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 26 Oktober 2020  |  12:08 WIB
Botol vaksin CoronaVac SARS-CoV-2 Sinovac ditampilkan di acara media di Beijing, China, pada 24 September.  - Bloomberg\\r\\n
Botol vaksin CoronaVac SARS-CoV-2 Sinovac ditampilkan di acara media di Beijing, China, pada 24 September. - Bloomberg\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Para ilmuwan memperingatkan bahwa adopsi awal dari vaksin Covid-19 dengan efektivitas sedang dapat mengganggu upaya untuk uji coba dan versi vaksin yang lebih baik. Hal ini muncul di tengah gencarnya perlombaan mengembangkan vaksin untuk menghentikan pandemi.

Ilmuwan menyebut melakukan imunisasi penyakit tidak bisa menjadi urusan sederhana untuk membasmi virus. Faktanya, bisa jadi akan muncul kebingungan yang cukup besar karena para peneliti masih berjuang untuk menentukan versi terbaik bagi kelompok rentan yang berbeda seperti orang tua.

Adam Finn, profesor dari Bristol University mengatakan bahwa vaksin yang paling cepat tersedia adalah vaksin yang paling eksperimental. Mungkin saja vaksin itu tidak akan terlalu bagus, dari yang dibuat menggunakan metode lebih teruji dengan kecepatan standar.

“Akan tetapi untuk membuktikan hal itu, akan menjadi sangat sulit jika banyak orang telah diberikan vaksin pertama. Diperlukan banyak orang untuk mendemonstrasikan mana yang terbaik, atau lebih cocok bagi kelompok tertentu,” katanya seperti dikutip The Guardian, Senin (26/10).

Finn mengatakan kebingungan seperti itu dapat menyebabkan kemunduran dalam menangani Covid-19. Dia menambahkan bahwa peneliti harus bersiap untuk menghadapi tantangan ini dan mencari cara untuk membandingkan keefektifan vaksin awal.

Dilaporkan ada sebanyak 198 vaksin Covid-19 saat ini yang sedang dikembangkan di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, empat versi utama telah menjalani uji coba fase 3 terakhir, termasuk vaksin BNT162b2 dari Pfizer dan vaksin dari Oxford-AstraZeneca.

Hasil uji coba itu – yang masing-masing dibandingkan dengan plasebo – diharapkan tersedia dalam beberapa minggu mendatang. Begitu vaksin pertama yang menunjukkan kemanjuran terungkap, akan ada tekanan besar untuk menggunakannya bagi kelompok tertentu yang berisiko tinggi.

Akan tetapi, kelompok rentan seperti orang tua yang cenderung memiliki sistem kekebalan lebih lemah perlu memastikan kehati-hatian yang tinggi. Kanta Subbarao, direktur kolaborasi World Health Organization (WHO) mengatakan uji coba vaksin awal tidak mungkin menunjukkan seberapa baik vaksin bekerja pada populasi tersebut.

Menurutnya, vaksin seringkali bekerja lebih baik pada orang dewasa muda dan sehat. Itu lah sebabnya mengapa vaksin ditingkatkan dengan dosis yang lebih tinggi atau bahan pembantu untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit.

Gregory Poland, direktur Vaccine Research Group at the Mayo Clinic mengatakan kompleksitas, kekacauan, dan kebingungan yang terjadi dalam beberapa bulan yang singkat dan hampir tidak disadari banyak pihak.

DIharapkan bahwa persetujuan akan diberikan untuk setiap vaksin yang melindungi setidaknya setengah dari mereka yang telah disuntik. Masalahnya akan muncul ketika vaksin lain hadir dan tidak jelas, apakah mereka lebih baik karena produk pertama atau yang kedua.

Bryan Deane, direktur Association of British Pharmaceutical Industry mengatakan ada banyak pembicaraan yang terlalu optimistis tentang vaksin yang akan tersedia dalam beberapa bulan mendatang, menjelang perayaan natal.

“Namun, itu sepertinya tidak mungkin sekarang. Hasil uji coba kemungkinan besar tidak akan selesai hingga tahun depan, dan ketika mereka melakukannya kemungkinan besar hasilnya akan keluar secara berurutan.” Katanya.

Dia melanjutkan bahwa vaksin pertama yang menunjukkan perlindungan signifikan merupakan vaksin yang akan langsung digunakan. Masalahnya adalah ketika vaksin lain melewati uji klinisnya, orang tidak bisa mengatakan bahwa vaksin pertama atau kedua lebih baik, karena peneliti belum menyiapkan cara untuk membandingkannya.

Finn menambahkan bahwa ini adalah sebuah paradoks. Jika orang mendapat vaksin yang efektif tetapi tidak terlalu baik, itu hampi lebih buruk daripada tidak memiliki vaksin sama sekali karena akan menghalangi proses mendapat vaksin yang lebih baik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Vaksin Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top