Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Tips Keluar dari Trauma Masa Kecil

Alam bawah sadar biasanya menyimpan trauma masa kecil yang menimbulkan luka, bahkan bisa berdampak negatif pada kehidupan saat ini.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 12 November 2020  |  15:53 WIB
Ilustrasi Depresi - Istimewa
Ilustrasi Depresi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kekerasan yang pernah dialami, baik kekerasan fisik, kekerasan verbal maupun kekerasan seksual waktu kecil dapat menorehkan luka yang sangat dalam bagi kita, selain menimbulkan luka, tentu menimbulkan trauma yang akan terus ada hingga dewasa. Bagaimana menanganinya?

Dilansir dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, angka kekerasan terhadap anak naik signifikan pada 2016.

Sementara, Laporan “Global Report 2017: Ending Violence in Childhood” mencatat 73,7 persen anak Indonesia berusia 1–14 tahun mengalami kekerasan fisik dan agresi psikologis di rumah sebagai upaya pendisiplinan. Dan menurut data Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), pada 2019 ditemukan sebanyak 350 perkara kekerasan seksual pada anak.

Psikolog Rosdiana Setyaningrum mengatakan bahwa tidak ada jalan lainnya untuk mengobati trauma masa kecil selain terapi pada psikolog yang berpengalaman.

“Kalau ada yang mendapatkan pelecehan seksual, caranya cuma 1 yaitu terapi. Itu kan trauma yang dalam banget sebaiknya kita ada di lingkungan yang positif bukan di lingkungan yang membuat tambah down seperti lingkungan yang bikin down dan judgemental,” katanya kepada Bisnis, Kamis (12/11/2020).

Dia menambahkan bahwa ia menganjurkan pada korban datang ke psikolog yang telah terbukti terdaftar di Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), nantinya psikolog akan menganalisa karakter korban dan menyesuaikan dengan keterampilan yang dimiliki. Pasien juga bisa saja berganti psikolog karena memang tidak selalu cocok pada pertemuan yang pertama.

Terkadang, masyarakat Indonesia masih menganggap tabu terkait masalah kesehatan mental dan menemui psikolog. Alasannya adalah takut digosipkan yang tidak-tidak, takut rahasianya terbongkar terlebih di era kemajuan teknologi yang pesat ini.

“Kan sebenarnya tidak usah ragu ke psikolog karena psikolog ada sumpah kerahasiaan, tidak akan menyebarkan rahasia atau berita tentang pasien. Di luar negeri sudah umum memiliki psikolog pribadi. Nah kita bisa juga mulai cari psikolog pribadi, karena pada saat down ada orang-orang terlatih dan profesional yang bisa membantu kita dan objektif,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan anak perkembangan mental anak
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top