Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Filosofi Noken Papua: Pemersatu Papua, Pemersatu Indonesia

Noken dari serat kulit kayu telah menjadi identitas orang Papua. Tas serba guna ini bisa menjadi pemersatu orang Papua dari berbagai suku.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 04 Desember 2020  |  18:21 WIB
Filosofi Noken Papua: Pemersatu Papua, Pemersatu Indonesia
Masyarakat sedang membuat noken dari serat kulit kayu. Noken telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya. - Ilustrasi/Unesco
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Noken atau tas serbaguna khas Papua dan telah melekat dalam budaya orang Papua sejak zaman nenek moyang.

Noken biasanya digunakan oleh seluruh orang Papua dari lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Noken menjadi identitas orang Papua yang melekat sejak zaman dahulu kala.

Noken menjadi pemersatu berbagai suku di Papua. Kehadiran noken bermakna filosofis dinilai sebagai simbol kekeluargaan dan kehidupan bagi masyarakat Papua.

Penggunaan noken semakin berkembang,  tidak hanya untuk menyimpan barang-barang seperti tas biasa, tetapi juga mulai beralih untuk fesyen. Tas asal Papua ini merupakan hasil kerajinan serat kulit kayu.

Kini serat kulit kayu tidak hanya dijadikan sebagai noken, tetapi juga dibuat untuk anting-anting, gantungan kunci, gelang, kalung, dan pakaian.

Pada 4 Desember 2012, Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations of Educational, Scientific dan Cultural Organization atau Unesco mengakui noken Papua sebagai Warisan Budaya Dunia Tidak Bergerak.

Dalam catatan Bisnis, perajin noken asli Papua Merry Dogopia berharap bahwa kehadiran noken Papua tidak hanya menyatu dalam kehidupan masyarakat Papua saja, tetapi juga masyarakat Indonesia secara umum. “Noken juga sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, harapannya makin populer juga di luar masyarakat Papua di Indonesia,” ujar Merry.

Sebagai perajin noken, Merry menceritakan kisah pembuatan noken yang masih dibuat secara manual. Noken dibuat dari serat kulit kayu asli yang diambil di hutan.

Pertama, kulit kayu asli dikupas dan dipisahkan dengan batang. Dari kulit kayu itu kemudian serat-serat kayu diambil. Kedua, serat kayu yang sudah dipisahkan itu kemudian dipipihkan dan diremas agar airnya keluar. Serat kayu yang setengah kering itu kemudian dijemur hingga kering betul untuk dipintal menjadi noken.

“Untuk pembuatan noken kecil dari serat kulit kayu membutuhkan waktu 1-2 hari,” ujar Merry.

Selain dari kulit kayu, ada juga noken dibuat dengan bahan kulit anggrek. Noken dengan bahan ini biasanya memiliki warna asli tanpa diberikan pewarna. Karena kulit anggrek sulit untuk ditemukan, noken dari kulit anggrek biasanya dijual cukup mahal.

“Noken dari kulit anggrek pada awalnya hanya dipakai oleh orang-orang tertentu seperti penguasa, orang berada, atau orang penting di Papua, namun seiring perubahan zaman kini sudah banyak yang mengenakan noken jenis ini,” ujarnya.

Adapun noken yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu diabadikan oleh Google dalam bentuk Google Doodle pada hari ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

papua kebudayaan google doodle
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top