Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penyakit Kulit Rentan Dialami Tenaga Medis, Ini Tips Mengatasinya

Hasil studi yang dilakukan Yan Y, Chen H di China menunjukkan, ada 330 tenaga kesehatan di China ada 71% mengalami gangguan pada kulit, dimana 74% mengalami hand dermatitis. Ahli dari UI ini memberikan solusi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 10 Desember 2020  |  16:09 WIB
Tenaga medis penanganan Covid/19 memeriksa pasien di RSUD Kabupaten Musi Banyuasin. istimewa
Tenaga medis penanganan Covid/19 memeriksa pasien di RSUD Kabupaten Musi Banyuasin. istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Selama pandemi corona, masalah kesehatan kulit dan kecantikan ternyata semakin meningkat terutama bagi tenaga medis.

Berdasarkan studi kasus yang dilakukan Yan Y, Chen H di China, dikutip pada Kamis (10/12/2020), ada 330 tenaga kesehatan di China ada 71% mengalami gangguan pada kulit, dimana 74% mengalami hand dermatitis. Studi yang ditemukan oleh Hu K, dan Fan J juga mengakui bahwa 88,5% reaksi kulit pada tangan sangat berkaitan dengan penggunaan sarung tangan berbahan latex.

Berdasarkan sejumlah studi ini kata Irma Bernadette S. Sihotang, SpKK(K), dari Departemen Dermatologi dan Venearologi FKUI-RSCM mengafirmasi adanya dampak negatif dari pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) terhadap kesehatan kulit.

Irma menyebut secara rinci, pandemi membuat tingginya masalah eksim pada tangan akibat terlalu sering mencuci tangan. Tak hanya itu, tenaga kesehatan selama pandemi lebih rentan mengalami penyakit kulit karena menggunakan sarung tangan dalam waktu lama.

“Selain masker dan sarung tangan, pelindung kepala pun dapat menimbulkan pruritus dan folikulitis serta kekambuhan dermatitis seboroik, ini misalnya masalah ketombe di kulit kepala” kata Irma.

Irma pun menganjurkan agar tenaga medis secara khusus tetap memperhatikan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) agar jangan lebih dari 6 jam. Hal ini dikarenakan penggunaan masker, googles, dan face shield menimbulkan tekanan pada kulit sebagai bagian terluar tubuh manusia.

Umumnya efek APD ini terjadi di bagian yang menonjol. Umumnya keluhan ini banyak terjadi di kulit area puncak hidung, pipi, tangan, dan dahi. Kondisi ini menimbulkan banyak keluhan misalnya rasa terbakar, gatal, tersengat, kering, kencang, kulit mengelupas, kulit berkerut, kulit pecah, pucat, kemerahan dan nyeri.

Lantas bagaimana mengatasi masalah kulit selama pandemi? Irma menyatakan, resistensi Covid-19 sangat rendah terhadap disinfektan, UV, mandi air panas. Oleh sebab itu itu sabun tanpa busa mengandung moisturizer dapat direkomendasikan untuk mengurangi kerusakan kulit.

Irma juga berpesan, pentingnya memanfaatkan skin care setelah membersihkan tangan. Caranya dengan menggunakan hand cream setiap kali usai mencuci tangan. Apabila menggunakan sarung tangan dalam waktu yang lama, gunakan juga emolien dengan kandungan asam hialuronat, seramid, vitamin E, urea, vaselin, atau petrolatum jelly.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenaga medis Covid-19 pandemi corona Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Edi Suwiknyo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top