Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

1 dari 100.000 Suntikan Vaksin Covid-19 bisa Sebabkan Reaksi Alergi

Laporan dari Center Disease Control and Prevention (CDC) menganalisis 1,9 juta dosis pertama vaksin yang diberikan di Amerika Serikat dari 14 hingga 23 Desember 2020.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  10:07 WIB
Ilustrasi dokter akan menyuntikkan vaksin - istimewa
Ilustrasi dokter akan menyuntikkan vaksin - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Sebuah laporan anyar menyatakan bahwa reaksi alergi yang serius setelah penyuntikan vaksin corona Covid-19 kemungkinan lebih umum terjadi daripada reaksi setelah vaksinasi flu. Namun demikian, reaksi alergi itu juga tergolong masih sangat jarang terjadi.

Dilansir Live Science, Kamis (7/1) laporan dari Center Disease Control and Prevention (CDC) menganalisis 1,9 juta dosis pertama vaksin yang diberikan di Amerika Serikat dari 14 hingga 23 Desember 2020. Untuk sebagian besar periode ini, hanya vaksin Pfizer-BioNTech yang tersedia di negara tersebut.

Para peneliti mengidentifikasi 21 kasus orang yang mengalami anafilaksis – reaksi alergi yang berpotensi mengancam jiwa – tak lama setelah menerima vaksin Covid-19. Angka ini berarti sekitar 11 kasus anafilaksis per 1 juta dosis vaksin yang diberikan.

Nancy Messonnier, direktur CDC National Center for Immunization and Respiratory Diseases mengatakan, sebagai perbandingan, tingkat anafilaksis yang terjadi setelah proses vaksinasi flu adalah 1,3 kasus per 1 juta orang.

Meskipun tingkat anafilaksis yang terkait dengan vaksin Covid-19 sekitar 10 kali lebih tinggi daripada yang terlihat pada vaksin flu, dia mengatakan bahwa ini masih sangat jarang dan secara keseluruhan manfaat vaksin jauh lebih besar daripada potensi risikonya.

Dari 21 kasus yang ditemukan dalam laporan, 17 memiliki riwayat alergi atau reaksi alergi termasuk terhadap obat-obatan, makanan, dan sengatan serangga. 7 di antaranya pernah mengalami anafilaksis di masa lalu.

Selain itu, hampir semua pasien itu diobati dengan epinefrin setelah reaksi mereka terhadap vaksin Covid-19 dan semuanya sembuh. Meskipun laporan baru hanya menyertakan kasus vaksin Pfizer, CDC juga mengetahui kasus anafilaksis yang dikonfirmasi terkait vaksin Moderna.

Messonnier mengatakan sebenarnya apa yang menyebabkan reaksi tersebut muncul masih belum jelas dan upaya keras sedang dilakukan untuk lebih memahami penyebabnya. Salah satu penyebab potensial adalah polietilen glikol, dalam vaksin Pfizer dan Moderna.

Namun demikian, memiliki alergi tidak membuat seseorang berisiko lebih tinggi mengalami anafilaksis terhadap vaksin Covid-19. Alergi umum terjadi di Amerika Serikat tetapi reaksi serius terhadap vaksin tidak terjadi.

CDC merekomendasikan orang dengan riwayat reaksi terhadap vaksin atau anafilaksis karena sebab apa pun harus diamati oleh staf perawatan kesehatan selama 30 menit setelah mereka menerima suntikan vaksin Covid-19.

Badan ini merekomendasikan agar orang tidak menerima vaksin Pfizer atau Moderna jika mereka diketahui alergi terhadap bahan dalam vaksin ini, termasuk polietilen glikol dan orang tidak boleh menerima dosis kedua jika mereka mengalami reaksi serius terhadap dosis pertama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Vaksin Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top