Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lupa Disuntik Vaksin Covid-19 Dosis Kedua. Bahayakah?

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menegaskan bahwa jarak pemberian suntikan pertama vaksin Covid-19 ke suntikan kedua untuk vaksin Sinovac memiliki waktu 14 hari. Bagaimana jika Anda melewati suntikan kedua. Bahayakah?
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 17 Januari 2021  |  13:18 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) disuntik dosis pertama vaksin Covid-19 produksi Sinovac oleh vaksinator Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Abdul Mutalib (kanan) di beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1/2021). Youtube - BPMI
Presiden Joko Widodo (kiri) disuntik dosis pertama vaksin Covid-19 produksi Sinovac oleh vaksinator Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Abdul Mutalib (kanan) di beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1/2021). Youtube - BPMI

Bisnis.com, JAKARTA - Pemberian suntikan vaksin Covid umumnya dilakukan dua kali dengan jeda sekitar dua minggu atau lebih tergantung jenis vaksin.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menegaskan bahwa jarak pemberian suntikan pertama vaksin Covid-19 ke suntikan kedua untuk vaksin Sinovac memiliki waktu 14 hari.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PP Peralmuni) Iris Rengganis mengatakan suntikan vaksin Covid-19 buatan Sinovac harus dilakukan dua kali agar dapat memastikan vaksin tersebut efektif dalam membentuk antibodi.

Dia menyatakan bahwa vaksin Covid-19 ini bersifat inactivated atau mati sehingga tidak dapat berkembang biak. Namun, bukan berarti jika sudah disuntik sekali, maka tidak akan tertular virus Corona.

Pada jeda antara vaksin pertama dan kedua, kata Iris, penerima vaksin harus tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan karena antibodi belum secara penuh terbentuk.

“Jangan sampai berpikir orang sudah sekali vaksin lalu sudah aman, lalu tidak menerapkan 3M lagi. Belum vaksin kedua, dia sudah tertular,” kata Iris dalam konferensi pers, Senin (11/1/2021).

Banyak masyarakat bertanya-tanya bagaimana jika mereka terlewat suntikan kedua. Apakah akan menimbulkan masalah bagi tubuh mereka? Berikut ini, penjelasan yang dirangkum Bisnis.

Profesor Imunologi Universitas Surrey Deborah Dunn-Walters mengatakan uji coba praklinis terhadap penerima vaksin akan menunjukkan bahwa satu kali suntikan tidak cukup untuk membangun kekebalan.

"Jadi, mereka [masyarakat] memilih keduanya," kata Dunn-Walters, dikutip dari BBC.

Demikian pula, selama uji coba fase tiga untuk sejumlah vaksin, telah terdeteksi ada lebih banyak antibodi dan sel T dalam darah setelah dua dosis daripada setelah satu dosis.

Kepala Eksekutif Pfizer Albert Bourla pada bulan Desember menegaskan akan menjadi 'kesalahan besar' jika masyarakat yang ikut vaksinasi melewatkan dosis kedua, karena suntikan ini dapat menggandakan jumlah perlindungan yang dapat diperoleh.

Pfizer dan BioNTech sendiri menegaskan agar masyarakat berhati-hati. "Tidak ada data yang menunjukkan bahwa perlindungan setelah dosis pertama dipertahankan setelah 21 hari," ungkap dua produsen vaksin tersebut.

Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa perlindungan yang tampaknya dimiliki orang akan tiba-tiba turun setelah vaksin. Ini tidak mengherankan karena hal tersebut didasari oleh cara kerja sistem kekebalan penerima vaksin.

Memperkirakan secara andal berapa lama perlindungan dari satu dosis dapat bertahan semakin diperumit oleh fakta bahwa semua vaksin Covid-19 yang saat ini disetujui menggunakan teknologi baru.

Vaksin Oxford-AstraZeneca dan Sputnik-V sama-sama melibatkan versi modifikasi dari adenovirus - kelompok yang diduga dapat memecah menjadi berbagai jenis sel dan menyebabkan berbagai penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan.

Menurut BBC, vaksin versi Oxford dan AstraZeneca menggunakan adenovirus dari simpanse, sementara versi Rusia menyertakan campuran dua tipe manusia.

Virus tersebut telah diubah untuk vaksin sehingga aman dan tidak dapat membuat lebih banyak salinan virusnya ketika berada di dalam sel. Virus tersebut mampu mengajari tubuh untuk mengenali virus Corona dengan menyandikan instruksi untuk membuat protein spike, seperti yang ditemukan di permukaan virus Corona.

Meskipun adenovirus telah digunakan dalam vaksin kanker dan terapi gen selama bertahun-tahun. Namun, adenovirus hanya pernah digunakan sekali sebelumnya untuk mencegah infeksi virus, yakni pada vaksin Ebola setelah disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat pada bulan Desember 2019.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Vaksin Covid-19 Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top