Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Apa Itu Virus Nipah, Penyebab, Gejala dan Bahayanya

Wacharapluesadee yang juga peneliti di Chulalongkorn University, Bangkok telah mengambil ribuan sampel kelelawan dan mendeteksi banyak jenis virus, dan menemukan virus nipah yang dapat menular kepada manusia dan belum ada vaksinnya.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 27 Januari 2021  |  19:19 WIB
Virus Nipah
Virus Nipah

Bisnis.com, JAKARTA - Ancaman serangan virus baru muncul setelah dunia masih dilanda pandemi corona.

Kali ini, pemburu virus asal Thailand, Supaporn Wacharapluesadee mengatakan menemukan virus tersebut.

Wacharapluesadee yang juga peneliti di Chulalongkorn University, Bangkok telah mengambil ribuan sampel kelelawan dan mendeteksi banyak jenis virus, dan menemukan virus nipah yang dapat menular kepada manusia dan belum ada vaksinnya.

Dilansir dari laman resmi WHO, Virus Nipah (NiV) adalah virus zoonosis (ditularkan dari hewan ke manusia) dan juga dapat ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau langsung antar manusia.

Pada orang yang terinfeksi, hal itu menyebabkan berbagai penyakit dari infeksi asimtomatik (subklinis) hingga penyakit pernapasan akut dan ensefalitis yang fatal. Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit parah pada hewan seperti babi, yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi peternak.

Meskipun virus Nipah hanya menyebabkan beberapa wabah yang diketahui di Asia, virus ini menginfeksi berbagai macam hewan dan menyebabkan penyakit parah dan kematian pada manusia, menjadikannya masalah kesehatan masyarakat.

Wabah Masa Lalu

Virus nipah pertama kali dikenali pada tahun 1999 saat terjadi wabah di kalangan peternak babi di Malaysia. Tidak ada wabah baru yang dilaporkan di Malaysia sejak 1999.

Itu juga diakui di Bangladesh pada tahun 2001, dan wabah hampir tahunan telah terjadi di negara itu sejak itu. Penyakit ini juga telah diidentifikasi secara berkala di India bagian timur.

Wilayah lain mungkin berisiko terinfeksi, karena bukti virus telah ditemukan di reservoir alami yang diketahui (spesies kelelawar Pteropus) dan beberapa spesies kelelawar lainnya di sejumlah negara, termasuk Kamboja, Ghana, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand.

1 dari 6 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

virus Kelelawar
Editor : Mia Chitra Dinisari

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top