Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ahli Mikrobiologi: Efek Risiko Pembekuan Darah AstraZeneca di Usia Muda Tak Mengejutkan

Meskipun penelitian belum mengidentifikasi hubungan sebab akibat, Ahli Mikrobiologi Medis dari Universitas East Angelia Profesor Paul Hunter menilai itu hal yang biasa dan tidak mengejutkan.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 07 April 2021  |  12:02 WIB
Vaksin Covid-19 AstraZeneca - Antara
Vaksin Covid-19 AstraZeneca - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah laporan menunjukkan bahwa orang yang lebih muda lebih berisiko mengalami pembekuan darah setelah menerima suntikan vaksin AstraZeneca daripada lansia.

Meskipun penelitian belum mengidentifikasi hubungan sebab akibat, Ahli Mikrobiologi Medis dari Universitas East Angelia Profesor Paul Hunter menilai itu hal yang biasa dan tidak mengejutkan.

Dia menerangkan trombosis sinus vena serebral (CVST) atau pembekuan darah langka memang berisiko pada populasi usia muda, khususnya wanita muda daripada kelompok usia lain dan jenis kelamin dalam masyarakat. Adapun CVST adalah penyakit yang sangat jarang diperkirakan terjadi dua hingga lima kasus per juta orang per tahun.

"Ini masih sangat langka dan tidak umum pada orang dengan vaksin tetapi ini masih perlu dicermati," ujar Hunter dilansir dari Express UK, Rabu (7/4/2021).

CVST terjadi ketika gumpalan darah terbentuk di sinus vena otak atau gumpalan yang mencegah darah mengalir keluar dari otak.
Badan Regulasi Obat dan Kesehatan Inggris (MHRA) mengatakan telah menerima 22 laporan CVST dan delapan laporan peristiwa trombosis lain dengan trombosit rendah setelah penggunaan vaksin Oxford-AstraZeneca.

Kendati demikian, Profesor Hunter mengatakan manfaat vaksin AstraZeneca jauh lebih besar dari laporan CVST tersebut. Dia menambahkan bahwa vaksin AstraZeneca bisa menjadi pilihan saat ini untuk meminimalisir dampak dari Covid-19.

European Medicines Agency (EMA) sebelumnya melakukan penyelidikan terhadap hubungan tersebut tetapi tidak menemukan hubungan sebab akibat. "Karena kejadian ini jarang terjadi, dan Covid-19 sendiri sering menyebabkan gangguan pembekuan darah pada pasien, sulit memperkirakan angka latar belakang kejadian ini pada orang yang belum mendapatkan vaksin," tegas EMA.

Komite berpendapat bahwa keampuhan vaksin yang terbukti dalam mencegah rawat inap dan kematian akibat Covid-19 lebih besar dari kemungkinan yang sangat kecil untuk mengembangkan DIC atau CVST.

"Namun, berdasarkan temuannya, pasien harus menyadari kemungkinan kecil dari sindrom tersebut, dan jika gejala yang menunjukkan masalah pembekuan terjadi, pasien harus segera mencari penanganan medis," saran EMA.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Vaksin Covid-19 AstraZeneca
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top