Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Covid-19 Tanpa Gejala, Ternyata ini penyebabnya

David Langton menjelaskan bahwa ada beberapa gen leukosit yang responsif terhadap vitamin D, dan dengan kadar vitamin D yang rendah menjadi salah satu faktor resiko untuk terkena Covid-19 yang parah. David menyatakan bahwa mereka sedang melakukan penelitian lebih lanjut terhadap hal ini.
 Jessica Gabriela Soehandoko
Jessica Gabriela Soehandoko - Bisnis.com 07 Juni 2021  |  10:35 WIB
Ilustrasi - Perawat mengenakan pakaian APD (alat pelindung diri) baju hazmat (hazardous material) membawa pasien dalam pengawasan Covid-19 (Corona Virus Desease) menuju kamar isolasi khusus RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (13/3/2020).  - ANTARA
Ilustrasi - Perawat mengenakan pakaian APD (alat pelindung diri) baju hazmat (hazardous material) membawa pasien dalam pengawasan Covid-19 (Corona Virus Desease) menuju kamar isolasi khusus RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (13/3/2020). - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA -Pasien covid-19 menurut hasil penelitian kebanyakan adalah mereka yang mengalami tanpa gejala.

Biasanya, mereka yang mengalami covid-19 dengan gejala berat adalah yang memiliki komorbid, termasuk asma, hipertensi, diabetes dan obesitas. Sementara lainnya, cenderung positif tanpa gejala. Kenapa bisa?

Universitas Newcastle, menemukan bukti adanya hubungan genetik yang menjadi penyebab mengapa beberapa orang yang tertular virus Covid-19, namun tidak bergejala.

Tim ilmiah dan medis, yang dipimpin oleh Universitas Newcastle, Inggris, menemukan gen HLA-DRB*104:01, sering ditemukan pada orang-orang yang tertular Covid-19, namun tidak ditemukan adanya gejala. Diketahui bahwa HLA, adalah singkatan dari Human Leukocyte Antigen, atau singkatnya yakni gen leukosit, memiliki peran penting dalam sistem pertahanan tubuh manusia.

Gen antigen leukosit ini, yakni HLA-DRB*104:01, diketahui memiliki korelasi langsung dengan garis lintang dan garis bujur. Oleh karena itu, lebih banyak orang di Eropa Utara dan Barat, cenderung memiliki gen ini. Penemuan ini menunjukan bahwa populasi dari keturunan Eropa, akan lebih mungkin untuk tidak bergejala, namun masih dapat untuk menyebarkan virus tersebut.

Translational and Clinical Research Institute, Universitas Newcastle, yakni Carlos Echevarria, yang juga bekerja sebagai Konsultan Pernafasan di Newcastle Hospitals NHS Foundation Trust, menyatakan bahwa ini merupakan temuan yang penting yang dapat menjelaskan mengapa beberapa orang dapat tertular Covid-19 namun tidak bergejala atau sakit, dan dapat membantu untuk melakukan tes genetik untuk mengetahui siapa yang harus diprioritaskan terlebih dahulu.

Mengenai penemuan konsep korelasi garis lintang dan garis bujur dengan frekuensi gen HLA, juga menjadi penemuan yang menarik dalam penelitian ini. Penulis di dalam studi penelitian ini, yakdi David Langton, perusahaan ExpantLab yang juga membantu penelitian ini melalui Innovate UK Research Award juga menambahkan beberapa pernyataan.

Menurutnya, telah lama diketahui juga bahwa penyakit sklerosis ganda, yakni gangguan saraf yang terjadi pada otak, mata, dan juga tulang belakang, meningkat dikarenakan meningkatnya garis lintang. Hal ini disebabkan karena berkurangnya paparan sinar UV, yang menyebabkan menurunnya kadar vitamin D. Tanpa disadari, gen pada penyakit sklerosis ganda, yakni DRB*15:01, juga memiliki korelasi dengan garis lintang.

Melalui penelitian ini, yakni menjadi alasan mengapa salah satu cara untuk menyembuhkan diri dari Covid-19 adalah berjemur di bawah paparan sinar matahari. David Langton menjelaskan bahwa ada beberapa gen leukosit yang responsif terhadap vitamin D, dan dengan kadar vitamin D yang rendah menjadi salah satu faktor resiko untuk terkena Covid-19 yang parah. David menyatakan bahwa mereka sedang melakukan penelitian lebih lanjut terhadap hal ini.

Penelitian ini menggunakan sampel dari 49 pasien Covid-19 berat, yang dirawat dirumah sakit dikarenakan adanya kegagalan dalam gangguan pernapasan, yakni sampel dari kelompok Covid-19 tanpa gejala dari 69 pekerja di rumah sakit, yang telah dites positif melalui tes antibodi darah yang dilakukan rutin dan kelompok kontrol dari penelitian tentang hubungan antara genotipe HLA, dan hasil dari operasi penggantian sendi.

Penelitian ini merupakan kolaborasi antara Universitas Newcastle, dan beberapa rumah sakit dalam NHS Foundation Trust yakni Newcastle Hospitals, Northumbria Healthcare, South Tees Hospitals, dan North Tees and Hartlepool Hospitals.

Profesor Sir John Burn, yakni seorang profesor genetika klinis di Universitas Newcaslte mengatakan bahwa Sars Cov-2 adalah ancaman yang besar, yang dihadapi oleh manusia. Dengan semakin memahami mengapa beberapa orang menjadi sakit, maka semakin baik kita dapat mempertahankan diri terhadap virus ini dan virus lainnya yang serupa, terutama untuk di masa depan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekayasa genetika Covid-19 pasien sembuh COVID-19
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top