Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Kontroversi MSG, Berbahaya atau Tidak untuk Tubuh?

MSG atau Monosodium glutamat sangat populer menjadi bahan tambahan makanan untuk memperkuat rasa masakan. Sebenarnya MSG berbahaya atau tidak untuk tubuh?
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 22 September 2021  |  19:49 WIB
Kontroversi MSG, Berbahaya atau Tidak untuk Tubuh?
Micin atau MSG - ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Monosodium glutamat (MSG) kerap kali menjadi perdebatan berbagai kalangan karena sering memberika efek buruk bagi tubuh. Masyarakat pun bertanya-tanya, MSG sebenarnya berbahaya atau tidak untuk tubuh?

MSG atau vetsin sangat populer menjadi bahan tambahan makanan untuk memperkuat rasa masakan. MSG merupakan turunan dari asam glutamat yang banyak tersedia di alam. Asam glutamat merupakan salah satu asam amino non-esensial yang dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Senyawa ini memiliki banyak manfaat bagi tubuh dan hampir ditemukan disemua jenis makanan.

Secara fisik, MSG hampir mirip dengan gula atau garam karena memiliki warga putih. Asam glutamat dalam MSG buatan diproduksi melalui fermentasi pati dan tidak ada bedanya secara kimia dengan MSG yang terdapat di makanan alami.

MSG meningkatkan rasa gurih dan umami dari makanan. Umami adalah rasa dasar kelima, bersama dengan asin, asam, pahit dan manis.

Zat aditif ini populer dalam masakan Asia dan digunakan dalam berbagai makanan olahan di Barat. Rata-rata asupan harian MSG di AS dan Inggris adalah 0,55-0,58 gram, sedangkan di Jepang dan Korea adalah 1,2-1,7 gram.

Asam glutamat memiliki peran sebagai neurotransmitter di otak yang akan merangsang sel-sel saraf untuk menyampaikan sinyalnya. Kekhawatiran akan MSG sudah berlangsung lama sejak 1969. Melansir dari Healthline, sebuah penelitian menemukkan bahwa menyuntikkan MSG dengan dosis yang cukup besar pada bayi tikus yang baru lahir dapat menyebabkan efek neurologis yang berbahaya.

Sementara itu, buku yang ditulis oleh Russel Blaylock “Excitotoxins: The Taste That Kills” menjadi pengingat yang menakutkan akan kehadiran MSG.

Menurut penelitian, kenaikan aktivitas glutamat di otak dapat memicu kerusakan. Dosis MSG yang terlalu banyak dapat meningkatkan kadar glutamat dalam darah.

Penelitian mengungkapkan sampai saat ini belum ada bukti yang kuat bahwa MSG dapat bersifat eksitotoksin ketika dikonsumsi pada jumlah yang normal. Batas dosis yang dapat menyebabkan gejala sekitar 3 gram per makanan. Namun, perlu diingat bahwa 3 gram adalah dosis yang sangat tinggi.

Belum dapat dipastikan mengapa dapat terjadi, namun beberapa peneliti memiliki spekulasi bahwa dosis besar memungkinkan asam glutamat melewati penghalang antara darah dan otak. Asam glutamat kemudian berinteraksi dengan neuron dan menyebabkan pembengkakan dan cedera otak.

Sementara itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa MSG dapat mengurangi asupan kalori, sedangkan yang lain mengklaim bahwa itu meningkatkan asupan.

Jika anda memiliki alergi dan sensitif terhadap MSG sebisa mungkin menhindari konsumsinya meskipun rasanya sangat lezat. Selain itu, meski anda tidak sesitif, MSG kerap ditemukan pada makanan olahan yang berkualitas rendah sehingga harus dibatasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

makanan kandungan gizi makanan sehat diet
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top