Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hari Stroke Sedunia : Ini Tanda-tanda Kamu Harus Segera ke Rumah Sakit

Pencegahan stroke juga perlu untuk dimulai sejak dini dan secara teratur untuk menindak lanjuti pencegahan penyakit tidak menular (PTM) termasuk stroke. Kemudian, peningkatan kapasitas pelayanan fasilitas kesehatan juga perlu untuk menangani kasus stroke.
Jessica Gabriela Soehandoko
Jessica Gabriela Soehandoko - Bisnis.com 28 Oktober 2021  |  14:25 WIB
/Bisnis.com
/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Pusat, dr. Dodik Tugasworo, Sp.S(K) memaparkan data yang bersumber dari Worldlifeexpectancy mengenai 10 penyebab kematian di Indonesia. Stroke sendiri berada di urutan pertama yakni sebesar 21,1 persen.

Kemudian, berdasarkan data dari WHO pada tahun 2018, diketahui bahwa kematian akibat stroke di Indonesia mencapai 252,473 atau 14,83 persen dari total kematian, dan Indonesia berada di urutan ke-7 di seluruh dunia.

Jika melihat dalam data Prevalensi stroke pada penduduk usia lebih dari 15 tahun menurut provinsi, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, Kalimantan Timur berada dalam posisi paling tertinggi dan Papua berada di urutan terendah.

Kemudian, beban ekonomi akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) juga memakan biaya yang cukup besar. Berdasarkan data dari bulan Januari hingga Juni di tahun 2014, penyakit katastropik yakni termasuk stroke, memiliki beban Rp1,03 triliun untuk biaya rawat jalan dan Rp1,24 triliun untuk biaya rawat inap.

Jika dilihat lebih rinci, stroke sendiri menepati beban biaya tertinggi kedua setelah penyakit Jantung. Beban biaya rawat inap kumulatif penyakit stroke sebesar Rp794,08 miliar dari total 172.303 kasus.

Plt. Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular (P2PTM) yakni dr. Elvieda Sariwati, M.Epid juga menerangkan beberapa tantangan penanganan stroke di Indonesia yakni sebagai berikut.

Pertama, deteksi dini faktor risiko belum optimal di masyarakat, melihat dari peningkatan prevalensi faktor risiko berdasarkan riskesdas 2013 dan 2018 yakni peningkatan dan capaian skrining kesehatan usia produktif yang masih rendah.

Kedua, masyarakat belum mengenali tanda-tanda dini serangan stroke sehingga penanganan kasus terlambat.

Ketiga, belum semua RS memiliki fasilitas dan tim penanganan pelayanan stroke terpadu.

Untuk itu, maka dr Elvieda mengatakan bahwa pencegahan stroke juga perlu untuk dimulai sejak dini dan secara teratur untuk menindak lanjuti pencegahan penyakit tidak menular (PTM) termasuk stroke. Kemudian, peningkatan kapasitas pelayanan fasilitas kesehatan juga perlu untuk menangani kasus stroke.

Terdapat juga berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan ini lebih lanjut.

Contohnya seperti mengajak masyarakat melalui kampanye untuk mendorong masyarakat mengecek kesehatannya minimal sekali dalam setahun. Hal ini dilakukan untuk memperkuat kapasitas Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Hal tersebut perlu dilakukan untuk melihat faktor risiko dari perilaku atau penyakit faktor risiko stroke seperti hipertensi, diabetes melitus ataupun obesitas.

Kemudian, transformasi kesehatan saat ini juga sedang diperkuat sebagai salah satu bentuk roadmap kemenkes.

“Saat ini memang sedang dilakukan sistem transformasi kesehatan, baik untuk layanan primer dan rujukan, meliputi penguatan layanan primer termasuk sentral-sentral penyakit tertentu. Hal ini sedang disusun dan sedang dibahas”. Ucap dr Elvieda melalui zoom dalam konferensi pers bertema "Manfaatkan Satu Menit Anda, Segera ke RS".

Kampanye SeGeRa Ke RS

“SeGeRa Ke RS” merupakan sebuah indikasi atau gejala yang perlu kita perhatikan. Secara rinci, berikut merupakan kepanjangan dari singkatan tersebut.

Se: Senyum tidak simetris, tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba
Ge: Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba
Ra: BicaRa pelo, tiba-tiba tidak bisa berbicara, tidak mengerti kata-kata, berbicara tidak nyambung
Ke: Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuh
R: Rabun, pandangan satu mata kabur, terjadi tiba-tiba
S: Sakit kepala hebat dengan tiba-tiba (belum pernah dirasakan sebelumnya), gangguan fungsi keseimbangan, terasa seperti berputar gerakan sulit dikoordinasi.

Untuk itu, maka perlu bagi masyarakat untuk menerapkan pola gaya hidup yang sehat seperti mengonsumsi makanan yang sehat dan mengurangi kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko stroke.

Kemudian, aktivitas fisik juga perlu dilakukan baik dalam mengatasi atau bahkan pasca stroke. Hal ini untuk meningkatkan fungsi tubuh.

“Aktivitas fisik dapat meningkatkan fungsi tubuh pasca stroke dan dapat dilakukan oleh penderita pasca stroke, sesuai dengan kondisi masing-masing atas rekomendasi dari dokter spesialis rehabilitasi medik.” Ucap Dr.Vitriana, dr., SpKFR(K) (28/10/21).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stroke penyakit stroke
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top