Bayi prematur/bellybelly
Health

Bunda, Ini Faktor Risiko Bayi Lahir Prematur, dan Cara Merawatnya

Desyinta Nuraini
Kamis, 18 November 2021 - 14:58
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kelahiran prematur masih menjadi tantangan bagi para ibu hamil di dunia, termasuk di Indonesia.

Menurut riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 1 dari 10 anak terlahir prematur. Sementara di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa 84 persen kematian pada anak yang baru lahir disebabkan oleh kelahiran prematur. 

Ya, makin pendek masa kehamilan, makin besar risiko kematian dan morbiditas. Anak yang lahir secara prematur pun memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan serius.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal Rima Irwinda menerangkan bahwa masalah kesehatan dalam jangka pendek yang bisa dialami bayi prematur antara lain gangguan pernapasan seperti sindrom distress pernapasan, apnea of prematurity, dan dislapsia bronkopulmoner alias cidera pada paru-paru akibat terapi oksigen konsentrasi tinggi dan pemakaian ventilator.

Kemudian bayi juga mengalami masalah dalam minum yang menyebabkan perut kembung, pendarahan di kepala, aliran darah jantung abnormal, dan risiko infeksi besar.

“Ini jangka pendek. Bayi-bayi ini akan dirawat di NICU. Ada yang survive, artinya bisa sembuh dan pulang, tapi banyak yang meninggal,” ujarnya dalam Bicara Gizi bertajuk Tantangan dan Penanganan Kesehatan bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur yang digelar Danone Nutrition Indonesia, Rabu (17/11/2021).

Rima menambahkan kalaupun bisa survive dan pulang, bukan berarti bayi tersebut bisa terhindar dari komplikasi, terutama buat mereka yang mengalami masalah pernapasan pada saat lahir. 

Pada efek jangka panjang, bayi yang lahir prematur menderita cerebral palsy atau lumpuh otak, gangguan tumbuh kembang, masalah penglihatan, masalah pendengaran, dan gangguan belajar.

Anak-anak atau remaja yang sebelumnya dilahirkan kurang dari 28 minggu usia kehamilan, juga berisiko 17 kali lebih besar mengalami gagal jantung. Bagi yang lahir 28-31 minggu, risiko menderita gagal jantung 3,5 kali lebih besar.

“Masalah anak dengan prematur tidak selesai setelah keluar dari NICU. Beban orang tua, biaya untuk membesarkan anak ini tidak sedikit,” imbuhnya.

Selain jantung, anak dan remaja yang terlahir prematur berisiko mengalami kanker dan penyakit paru-paru. Begitu pula dengan penyakit sindrom metabolik seperti diabetes melitus. 

“Usia kurang dari 34 minggu, risiko diabetes tipe 1 dan tipe 2 semakin lama meningkat. Anak yang lahir preterm di kemudian hari, meningkatkan risiko diabetes melitus,” ungkap Rima. 

Tidak henti di situ, terlahir prematur juga harus siap mengalami risiko alergi lebih besar. Ini terjadi karena adanya zat peradangan atau inflamasi pada saat kehamilan. “Inflamasi ini menyebabkan disregulasi respon imun bayi hingga akhirnya sebabkan alergi sepreti asma maupun alergi makanan,” jelas Rima. 

Kelahiran prematur bukan hanya berisiko terhadap bayi namun juga ibu yang melahirkan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali risiko dari kelahiran kurang dari 34 minggu ini. 

Rima menyebut setelah melahirkan prematur, ibu cenderung lebih cemas, depresi pasca salin, post-traumatis stress, hingga masalah banding pada bayinya.

“Ibu kemungkinan stres, merasa bersalah kenapa melahirkan preterm (prematur) dan stres bayi masih di NICU, gunakan alat bantu, belum bisa ketemu langsung bayi untuk menyusui, itu bisa menyebabkan gangguan psikologis, akhirnya saat ketemu bayi dia tidak mau menyusui,” sebutnya.

Pada kondisi ini, keluarga sangat berperan untuk memberi dukungan psikologis pada pasien, namun apabila gangguannya cukup berat bisa meminta bantuan psikolog. 

Sementara itu, dalam jangka panjang ada faktor risiko kematian di kemudian hari pada ibu yang melahirkan prematur. Rima menjelaskan berdasarkan penelitian, risiko kelainan kardiovaskular semakin besar. “Jadi meninggalnya karena penyakit kardiovaskular,” imbuhnya. 

Kematian ini juga bisa dipicu meningkatkan risiko terkena diabetes dan kanker pada ibu yang mengalami kelahiran prematur. 

Lebih lanjut Rima menjelaskan ada sejumlah penyebab kelahiran prematur. Pada umumnya, kondisi ini disebabkan infeksi, pendarahan atau kelainan vaskular, stres secara fisik dan pikiran, rahim atau uterus sangat distensi karena kelahiran multiple maupun cairan ketuban terlalu banyak karena ibu memiliki diabetes melitus. 

Namun kata Rima, penyebab kelahiran prematur juga bisa disebabkan penurunan aksi hormon progesteron, kelainan serviks, adanya toleransi maternal dan janin yang tidak baik, hingga tidak diketahui penyebabnya.

Bunda, Ini Faktor Risiko Bayi Lahir Prematur, dan Cara Merawatnya

“Dari semua ini, hasil akhirnya adalah peningkatan zat-zat peradangan atau inflamasi. Inflamasi inilah yang menyebabkan aktivasi hormon yang dibutuhkan untuk persalinan,” jelas Rima. 

Di sisi lain, dia menjelaskan ada sejumlah faktor risiko seorang wanita bisa melahirkan prematur. Ada yang bisa dimodifikasi dan ada yang tidak.

Faktor risiko kelahiran prematur yang dapat dimodifikasi atau dicegah yakni menghindari penyalahgunaan obat, alkohol, merokok maupun asap rokok. Kemudian, jarak kehamilan terlalu singkat seperti kurang dari 18 bulan, anemia, infeksi saluran kemih, infeksi genital, penyakit periodontal, kurangnya nutrisi, stres, dan pemeriksaan kehamilan yang tidak ade kuat. 

Sedangkan risiko yang tidak bisa dimodifikasi yakni adanya riwayat kelahiran prematur pada kehamilan sebelumnya maupun riwayat orang tua sang ibu. Lalu, ras, usia ibu kurang dari 18 tahun atau lebih dari 40 tahun, status sosial rendah, kelainan uterus atau serviks, dan cairan ketuban lebih maupun kehamilan multipel.

Penuh Tantangan 

Merawat anak lahir prematur penuh dengan tantangan. Pasalnya, anak lahir prematur mempunyai kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim akibat ketidakmatangan sistem organ tubuhnya seperti paru-paru, jantung, ginjal, hati, dan sistem pencernaannya. 

Spesialis Anak Konsultan Neonatalogi dr. Putri Maharani menjelaskan bayi prematur juga berisiko mengalami gangguan belajar, konsentrasi, gangguan tingkah laku, tantrum, hingga kesulitan makan. 

Oleh karena itu, orang tua yang memiliki bayi prematur harus rutin mengontrol tumbuh kembang anaknya. “Seandainya ada masalah di perkembangannya, kita bisa deteksi dini dan intervensinya lebih awal,” ucap Putri.

Dalam melakukan kontrol ini, ibu wajib menanyakan dua hal. Pertama apakah bayi sudah tumbuh sesuai kurva pertumbuhannya dan apakah perkembangan sudah dicapai sesuai usianya. 

Bunda, Ini Faktor Risiko Bayi Lahir Prematur, dan Cara Merawatnya

Putri melanjutkan bahwa dalam upaya untuk meminimalkan dampak negatif selama perawatan bayi prematur adalah menjaga agar berat badan lahir rendah (BBLR) berada dalam kondisi yang optimal untuk tumbuh dan berkembang, salah satunya dengan menerapkan developmental care.

”Prinsip developmental care meliputi keterlibatan keluarga, meminimalkan stres, dan mengoptimalkan pemberian ASI, sebagai nutrisi yang terbaik bagi bayi. Pemantauan berkala, perawatan, dan penanganan khusus menjadi faktor penting bagi tumbuh kembang anak kelahiran prematur,” sebutnya.

Selain itu, perlu diperhatikan faktor kenyamanan. Banyak hal yang bisa menurunkan metabolisme tubuh dan pada akhirnya meningkatkan saturasi oksigen. Anak lahir prematur yang mendapatkan intervensi kenyamanan yang kondusif dapat memaksimalkan energi yang dimiliki untuk mendukung tumbuh kembangnya sehingga lebih cepat dalam mencapai kondisi kesehatan yang optimal. 

“Faktor kenyamanan dapat dilakukan dengan membangun ikatan yang kuat (bonding time) antara orang tua dan si kecil dan mempertahankannya sesuai usia pertumbuhan anak,” sebut Putri. 

Dia menambahkan stimulasi sejak dini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak baru lahir. Stimulasi dapat merangsang hubungan antar sel otak (sinaps). Dengan sering memberikan rangsangan, dapat menguatkan hubungan sinaps. 

Adanya variasi rangsangan kata Putri akan membentuk hubungan yang semakin luas dan kompleks sehingga menstimulasi terbentuknya multiple intelligence atau kecerdasan majemuk pada anak. 

Nah, pemberian stimulasi ini harus diimbangi dengan pemeriksaan deteksi dini tumbuh kembang oleh tenaga medis dan orang tua. Hal ini dapat membantu menemukan penyimpangan tumbuh kembang anak secara dini, sehingga intervensi atau rencana tindakan akan lebih mudah dilakukan.

Sementara itu, Corporate Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin mengatakan bahwa pertumbuhan anak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. 

Oleh karena itu, selain memastikan pertumbuhan biologis anak dalam keadaan baik, memastikan status gizi baik dengan pemberian ASI, dan meningkatkan bonding time perlu digiatkan agar tumbuh kembang si Kecil optimal. 

“Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya para orangtua tentang pentingnya pencegahan dan penanganan secara tepat kelahiran prematur bagi Ibu dan si Kecil,” sebutnya. 

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro