Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Telemedicine Alternatif Tingkatkan Pengelolaan Penyakit Kronis

Telemedicine diartikan sebagai penggunaan teknologi informasi digital yang memfasilitasi hubungan antara pasien dengan penyedia layanan kesehatan untuk dapat melakukan beberapa layanan kesehatan khususnya telekonsultasi.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 15 Desember 2021  |  21:58 WIB
Telemedicine
Telemedicine

Bisnis.com, JAKARTA – Pemanfaatan telemedicine dipercaya dapat meningkatkan pengelolaan penyakit kronis, khususnya diabetes di klinik BPJS, menurut sebuah studi percontohan.

Dalam studi ini, ditemukan korelasi antara manajemen klinik dan tingkat kepatuhan pengobatan pasien yang mana sejalan dengan meningkatnya penggunaan telemedicine dan hasil yang lebih baik.

Telemedicine diartikan sebagai penggunaan teknologi informasi digital yang memfasilitasi hubungan antara pasien dengan penyedia layanan kesehatan untuk dapat melakukan beberapa layanan kesehatan khususnya telekonsultasi.

Studi Pilot Pengelolaan Penyakit Kronis yang dilakukan oleh Good Doctor Technology Indonesia ini dilakukan dalam dua fase: fase 1 melalui studi kualitatif dan fase 2 melalui studi kuantitatif.

Saat melakukan fase pertama, Head of Medical PT Good Doctor Technology Indonesia Adhiatma Gunawan mengatakan, mereka mendapatkan feedback yang sangat menarik, baik dari pasien maupun manajemen klinik.

“Bahwa beberapa fitur yang diperkirakan atau menurut persepsi mereka akan sangat membantu adalah dua yang paling sering muncul yaitu reminder (pengingat) dan juga log book untuk mencatat. Karena kita tahu, ketika kita berbicara tentang pasien kronis, kepatuhan terhadap pengobatan itu menjadi hal yang sangat penting,” kata Adhiatma dalam diskusi publik “Layanan Tatalaksana Penyakit Kronis Terintegrasi dan Inovatif” yang diselenggarakan secara virtual pada Rabu (15/12/2021).

Pada fase 2, mereka membagi peserta studi kedalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok kontrol dimana mereka memonitor kadar gula darah peserta dalam waktu 3 hingga 4 bulan, tanpa intervensi apapun dari platform telemedicine.

Sementara, kelompok kedua adalah kelompok intervensi, dimana peserta mendapatkan intervensi dari telemedicine, yaitu Good Doctor, berupa reminder secara berkala, follow up, konsultasi online dengan dokter dan informasi edukasi yang dikurasi oleh tim medis. Data pada fase kedua ini ditarik hampir setiap bulan.

Analisis dilakukan menggunakan Mixed Model Repeated Measurement, yaitu suatu model yang biasa digunakan untuk eksperimen dengan pengamatan berulang di beberapa titik waktu pada individu yang sama (panelis).

Selama 3 hingga 4 bulan, rata-rata gula darah kedua kelompok terlihat ada penurunan.

“Dalam hal ini berita baiknya adalah memang follow up yang baik, baik di Prolanis secara offline maupun yang mendapatkan support dari telemedicine itu mendapatkan dampak yang baik,” ungkap Adhiatma.

Dalam studi ini, mereka menyimpulkan beberapa hal. Pertama, efek waktu signifikan, karena terjadi penurunan gula darah yang signifikan dari waktu ke waktu pada 3 bulan eksperimen. Perbedaan rataan gula darah antara kelompok treatment dan kontrol signifikan , namun laju penurunan gula darah keduanya tidak berbeda signifikan.

Juga ada indikasi intensitas keterlibatan responden pada eksperimen turut berkontribusi pada gula darah pasien. Jadi pada kelompok treatment dengan intensitas keterlibatan tidak penuh, kondisi gula darahnya relatif tidak berubah (diwakili kelompok kontrol). Sementara kelompok treatment dengan keterlibatan penuh, kondisi gula darahnya terus menurun hingga akhir bulan ke 3 (kelompok intervensi).

Diakuinya studi ini mengalami keterbatasan. Salah satu tantangan terbesar dalam studi ini adalah literasi digital, karena kebanyakan pasien penyakit kronis adalah kelompok senior (lansia) yang memiliki literasi digital yang cukup rendah, apalagi berkaitan dengan pengoperasian aplikasi mobile.

Kemudian, ada isu aksesibilitas terhadap teknologi maupun penyedia layanan kesehatan. Dan, jumlah populasi dalam studi ini cukup kecil akibat situasi pandemi Covid-19, karena itu dibutuhkan riset lanjutan dalam skala yang lebih besar.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BPJS Kesehatan telemedicine
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top