Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jangan Buru-Buru Tes Kehamilan Usai Transfer Embrio, ini Alasannya

Pasien diimbau untuk menahan godaan dan rasa penasaran untuk langsung melakukan tes kehamilan dengan memeriksa urine setelah pasien menjalani transfer embrio.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 01 Januari 2022  |  09:24 WIB
Ilustrasi program bayi tabung
Ilustrasi program bayi tabung

Bisnis.com, JAKARTA - Pasien diimbau untuk menahan godaan dan rasa penasaran untuk langsung melakukan tes kehamilan dengan memeriksa urine setelah pasien menjalani transfer embrio (salah satu proses dalam program bayi tabung).

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi dari Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Aida Riyanti, Sp.OG-KFER, M.RepSc mengatakan diperlukan waktu hingga beberapa minggu sejak hari transfer sampai sel-sel plasenta mulai memproduksi cukup hormon yang dikenal sebagai human chorionic gonadotropin (hCG) untuk dapat terdeteksi dengan tes darah.

"Kurangi melakukan hal-hal yang membuat Anda dan suami berpikiran yang tidak-tidak, terlebih hal yang belum pasti," kata dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah IVF Centre dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya itu melalui keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (1/1/2022).

Aida menyarankan pasien tidak panik usai transfer embrio. Menurutnya, pasien sebaiknya mencoba untuk tetap rileks. Pasalnya, menempel atau tidaknya embrio tergantung pada kualitas embrio dan seberapa reseptif rahim calon ibu.

Oleh karena itu, dia mengatakan tidak ada hal mendasar untuk dapat dilakukan yang akan mempengaruhi hasil.

"Ini penting untuk diingat, karena ketika sebuah siklus gagal, sangat mudah untuk menyalahkan diri sendiri karena melakukan atau tidak melakukan sesuatu setelah transfer embrio. Padahal, bisa saja penyebabnya adalah hal lainnya. Jadi, ingatkan diri untuk selalu berpikiran positif dan tetap tenang, ya," ujarnya.

Di sisi lain, pasien mungkin ingin mengawasi gejala-gejala tertentu yang dapat terjadi pada hari-hari setelah transfer embrio. Wanita yang mengonsumsi obat kesuburan dapat mengalami kondisi yang disebut sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS).

Kondisi ini dapat terjadi ketika tubuh merespons secara dramatis terhadap hormon yang disuntikkan yang digunakan sebagai bagian dari proses IVF.

OHSS dapat menyebabkan gejala seperti: sakit perut, perut kembung, mual, muntah. Gejala ini bisa ringan, tetapi juga bisa memburuk dengan sangat cepat jika calon ibu memiliki kasus sindrom yang serius.

"Jadi, apabila Anda tiba-tiba merasakan sakit parah di perut, jangan menunggu terlalu lama. Segera hubungi dokter, maternity counsellor, atau klinik dan jelaskan gejala yang dialami," demikian pesan Aida.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bayi tabung hamil

Sumber : Antara

Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top