Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

WHO: Omicron Berbahaya, Terutama untuk Orang yang Tidak Divaksinasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa varian Omicron tak boleh dianggap remeh, terutama bagi masyarakat yang tak divaksinasi.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 14 Januari 2022  |  13:59 WIB
WHO: Omicron Berbahaya, Terutama untuk Orang yang Tidak Divaksinasi
Ilustrasi hasil tes Covid-19 varian Omicron - The Guardian
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa varian Omicron dari Covid-19 berbahaya, terutama bagi mereka yang belum mendapatkan vaksinasi Covid-19.
 
Lonjakan kasus yang terjadi di seluruh dunia sebagian besar disebabkan oleh Omicron. Namun badan kesehatan itu menegaskan untuk tidak menyerah dalam memerangi varian tersebut.
 
“Meskipun Omicron menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada Delta, itu tetap menjadi virus berbahaya, terutama bagi mereka yang tidak divaksinasi,” kata kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers, melansir Times of Israel, Jumat (14/1/2022).
 
Dia menghimbau agar semua orang tidak boleh membiarkan virus ini naik dengan bebas, atau mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah, terutama saat banyak orang di sekitar kita yang tidak divaksinasi.
 
Di Afrika, ada lebih dari 85 persen orang yang belum menerima satu dosis vaksin.
 
“Kita tidak dapat mengakhiri fase akut pandemi, kecuali kita menutup celah ini,” katanya.
 
Sebelumnya, Tedros ingin agar setiap negara setidaknya memiliki 10 persen dari populasinya divaksinasi pada akhir September 2021.

Kemudian lanjut ke 40 persen pada akhir Desember dan 70 persen pada pertengahan 2022.
 
Sayangnya, 90 negara masih belum mencapai 40 persen dan 36 diantaranya masih kurang dari 10 persen. Padahal, di seluruh dunia, sebagian besar orang yang dirawat di rumah sakit tidak divaksinasi.
 
“Meskipun vaksin tetap sangat efektif untuk mencegah kematian dan penyakit Covid-19 yang parah, vaksin tidak sepenuhnya mencegah penularan,” kata Tedros.
 
Dia juga menambahkan bahwa lebih banyak penularan berarti akan ada lebih banyak rawat inap, lebih banyak kematian, lebih banyak orang yang tidak bekerja dan lebih banyak risiko munculnya varian lain yang lebih menular dan lebih mematikan daripada Omicron.
 
Hingga saat ini, jumlah kematian di seluruh dunia telah stabil di sekitar 50.000 per minggu.
 
“Belajar untuk hidup dengan virus ini tidak berarti kita dapat, atau harus menerima jumlah kematian ini,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

who omicron
Editor : Restu Wahyuning Asih
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top