Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang Anak untuk Deteksi Dini Stunting

Kepala BKKBN, Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), menjelaskan bahwa target penurunan angka stunting akan sangat besar.
Intan Riskina Ichsan
Intan Riskina Ichsan - Bisnis.com 24 Februari 2022  |  13:14 WIB
Stunting - istimewa
Stunting - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Stunting adalah pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang mengalami asupan nutrisi yang buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak adekuat. Indonesia sudah mengalami penurunan angka stunting namun tetap merupakan angka yang tinggi.

Penyebab terjadinya stunting adalah kekurangan gizi dan infeksi kronis pada 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) dan tiga faktor penyebab utamanya adalah kerentanan pangan keluarga, pengasuhan dan praktik pemberian makanan tidak adekuat, lingkungan keluarga yang tidak sehat, dan hambatan akses pelayanan Kesehatan.

Kepala BKKBN, Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), menjelaskan bahwa target penurunan angka stunting akan sangat besar.

“1000 HPK menjadi waktu yang sangat krusial dan penting, kami akan menyampaikan bahwa peran dari berbagai pihak akan membantu. Dimana target 14% di tahun 2024 ini menjadi target yang luar biasa dan ambisius. Kita biasa dikasih target yang besar maka akan kerja keras,” jelas Hasto.

Target 14% tersebut akan memenuhi standar WHO mengenai angka stunting yaitu maksimal 20%. Tahun ini, Indonesia masih menempati 24,4% yang artinya masih harus menurunkan angka. Maka dari itu, ditargetkan tahun ini harus turun secara bertahap yaitu 3,4%.

Terdapat 7 provinsi yang menunjukkan trend peningkatan prrevalensi balita stunting selama 3 tahun 2019-2021 yaitu Papua, Banten, Sulawesi Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Jambi, dan Papua Barat. Masing-masing mencapai angka 30%.

Pencegahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan dini seperti halnya disampaikan oleh dokter spesialis anak konsultan endokrin anak, Prof. dr. Madarina Julia, Sp.A(K), MPH., Ph.D.

“Pemeriksaan yang kita perlukan adalah untuk setidaknya bisa mengelompokkan apakah dia pendek karena stunting atau karena yang lain. Pertama, apakah dia pendek? Lihat dari buku KIA defisini pendeknya pada -2 atau pada perempuan -3. Kedua, apakah dia kurus? Lihat dari grafik berat badan panjang badan atau tinggi badan,” pungkas Madarina.

Sama seperti stunting, penanganan yang terlambat pada anak dengan gangguan pertumbuhan lainnya akan mengakibatkan anak sulit untuk mengejar ketinggalan tinggi tubuh yang ideal sesuai dengan usianya.

“Orang tua harus memahami cara tumbuh kembang anak untuk mendeteksi dini sehingga membutuhkan pengobatan dan terapi yang sesuai,” jelas Presiden Direktur PT Merck Tbk, Evie Yulin pada webinar Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan PT. Merck untuk Dukung Percepatan Penanggulangan Stunting di Indonesia Kamis (24/02/2022).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stunting merck
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top