Tangkapan layar- Ilustrasi Virus Corona varian Omicron. JIBI/Bisnis-Nancy Junita
Health

Fakta-Fakta Virus Corona Varian Kraken, Diduga Paling Menular

Arlina Laras
Rabu, 18 Januari 2023 - 12:11
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Ada sejumlah fakta-fakta terkait Covid Kraken yang perlu diwaspadai. Pasalnya, sub-varian yang dikenal sebagai XBB.1.5 ini mulai menimbulkan kekhawatiran karena dapat menyebar dan menular lebih cepat dibanding subvarian lainnya. 

Meski, sub-varian ini belum ditemukan di Indonesia. Namun, varian yang kerap disebut Kraken ini diyakini sulit dihindari, terutama provinsi atau kota yang memiliki jalur penerbangan internasional. Ditambah lagi, virus varian ini telah terdeteksi di puluhan negara di seluruh dunia. 

Maka, agar bisa mewaspadai bahaya dan mengetahui lebih jauh soal Covid-19 varian Kraken ini. Berikut beberapa fakta yang perlu diketahui. Simak ulasannya. 

1. Telah Menyebar di 38 Negara

Subvarian Kraken merupakan virus yang muncul dari dua versi Omicron sebelumnya, yakni BA.2.10.1 dan BA.2.75.

Virus ini dikenal sebagai XBB.1.5 atau dalam istilah tidak resmi disebut Kraken, yang diambil dari nama monster laut dalam mitologi rakyat Skandinavia, di mana varian ini tengah menjadi perhatian global, sebab sejauh ini varian Kraken-lah yang paling menular dibanding virus linnya. 

Melansir dari Al Jazeera, Rabu (18/1/2023) XBB.1.5 telah beredar di setidaknya 38 negara, termasuk Singapura, Perancis, Inggris, Kanada, Australia, Kuwait, Jerman, dan India. Virus ini juga diperkirakan berkontribusi pada peningkatan kasus Covid-19 di Amerika Serikat.

2. Varian Kraken 5 Kali Lebih Menular

Pada 4 Januari, pimpinan teknis WHO untuk COVID-19 Maria Van Kerkhove mendeteksi bahwa XBB.1.5 ini menjadi subvarian yang paling mudah menular. Bahkan, beberapa ahli mengatakan bahwa varian ini bisa lima kali lebih menular daripada omicron sebelumnya.

 “Alasannya adalah mutasi yang ada di dalam subvarian Omicron ini yang memungkinkan virus ini menempel pada sel dan bereplikasi dengan mudah,” jelasnya.

Alhasil, hal tersebut memberi kemampuan pada varian itu untuk menembus sel dan membuatnya lebih mudah menular.

3. Gejala Covid-19 Varian Kraken

Melansir dari Penn Live, beberapa gejalanya bisa jadi demam, pilek, sakit tenggorokan, batuk, bersin, hidung tersumbat, sakit kepala, suara serak hingga nyeri otot.  

Umumnya, dibutuhkan waktu lima hari untuk muncul gejala setelah terpapar virus. Kemudian, virus akan terdeteksi hingga satu minggu setelah timbulnya gejala.

4. Varian Kraken Bisa Bobol Antibodi Vaksin

Virus corona SARS-CoV-2  memang terus bermutasi sejak muncul tiga tahun lalu. Meski, para ilmuwan telah berjuang untuk menahan virus corona untuk terus bermutasi, tapi nyatanya adanya perubahan kode genetik yang menjadikan virus ini bermutasi dan bisa menghindari sistem kekebalan dan vaksin. 

Menurut para ahli, mutasi yang dikenal sebagai F486p memberi Kraken punya keuntungan lebih besar daripada XBB yang memungkinkannya untuk menempel lebih baik pada reseptor ACE2 dalam sel, sebuah proses di mana COVID-19 menyebar pada manusia.

Bisa dibilang, reseptor tersebut bagaikan pintu masuk virus untuk mencapai sel di hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

5. Tingkat Keparahan Penyakit

Saat ini, WHO mengatakan tidak ada bukti pasti bahwa Kraken akan menyebabkan penyakit yang lebih parah dari pendahulunya.

Penilaian risiko internal yang diterbitkan oleh badan PBB pada 11 Januari mengindikasikan XBB.1.5 tidak “membawa mutasi yang diketahui terkait dengan potensi perubahan tingkat keparahan”. 

Meskipun varian tersebut memiliki tingkat penyebaran yang cepat, belum ada data yang menunjukkan bahwa XBB.1.5 menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada varian Omicron lainnya. Namun, para peneliti menegaskan, Kraken memiliki kemampuan yang jauh lebih kuat dan super dalam menginfeksi orang yang terjangkit.

Bahkan, bagi pasien yang sudah tertular berisiko tinggi mengalami long Covid-19, karena kemampuannya untuk berada di sel tubuh manusia jauh lebih kuat dan lebih lama. 

6. Vaksin Masih Bisa Berikan Perlindungan

Studi laboratorium awal menunjukkan bahwa vaksin bivalen dapat menginduksi antibodi untuk menetralkan XBB.1.5, meskipun peningkatannya relatif tidak signifikan. Suntikan penguat bivalen dirancang untuk BA.5, dan antibodi yang diinduksi dari vaksinasi akan paling mampu menargetkan varian tersebut.

“Penguat bivalen memang meningkatkan respons kekebalan terhadap XBB.1.5, tetapi jauh lebih lemah dibandingkan varian lainnya,” kata Boonyaratanakornkit, spesialis penyakit menular di Fred Hutch Cancer Center dan asisten profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Washington.

Melansir dari laman resmi United States Food and Drug Administration (FDA), vaksin bivalen adalah vaksin yang lebih melindungi seseorang dari Covid-19 secara luas. Ini karena vaksin bivalen mencakup komponen virus Covid-19 varian paling awal dan virus Covid-19 varian omicron. Karena mengandung dua komponen inilah maka disebut vaksin bivalen.

Vaksin bivalen ditujukan untuk memberikan perlindungan yang lebih luas terhadap Covid-19, baik dari varian Covid-19 awal yang sudah ada sejak 2019, hingga varian dan subvarian omicron yang baru, misalnya subvarian XBB yang saat ini sedang sangat menular.

Meskipun vaksin kurang efektif dalam menginduksi antibodi yang dapat menetralkan XBB.1.5, tapi vaksin tersebut masih dapat memacu sel kekebalan lain untuk melindungi dari varian tersebut. 

Artinya, meskipun vaksinasi bivalen bisa mengurangi keparahan penyakit akibat COVID-19, namun penggunaan masker dan berkumpul di area yang berventilasi baik tetap penting untuk meminimalkan penularan.

7. Diprediksi Meningkatkan Jumlah Rawat Inap

Menurut CDC, AS melihat hampir setengah juta kasus COVID-19 per minggu. Selama liburan, rawat inap COVID-19 mencapai titik tertinggi dalam 11 bulan. Ada 20.000 lebih rawat inap setiap hari sejak Thanksgiving.

Peningkatan rawat inap kemungkinan diperburuk oleh peningkatan perjalanan dan pertemuan dalam ruangan. 

Boonyaratanakornkit mengatakan dia mengantisipasi XBB.1.5 akan segera menjadi varian dominan di AS, dan dirinya merasa varian Kraken ini bisa mendorong lebih banyak rawat inap.

Penulis : Arlina Laras
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro