Bisnis.com, JAKARTA- Bulan Ramadan di Indonesia tidak hanya diisi dengan ibadah puasa, tetapi juga dengan berbagai tradisi yang melibatkan masyarakat setempat.
Tradisi-tradisi ini sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari budaya yang diwariskan secara turun temurun. Dilansir darikemenparekraf.go.id, Rabu (25/2/2025) beberapa di antaranya adalah:
1. Megibung (Bali)
Tradisi Megibung mencerminkan kerukunan antarumat beragama di Bali, di mana umat Muslim dan non-Muslim seringkali ikut serta dalam tradisi ini. Tata cara penyajian makanan dalam Megibung memiliki makna simbolis, yang mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan kesetaraan. Menurut kepercayaan, tradisi Megibung merupakan bentuk mempererat persaudaraan dan kebersamaan.
2. Padusan (Yogyakarta)
Padusan biasanya dilakukan di sumber-sumber mata air atau tempat pemandian tradisional. Selain membersihkan diri secara fisik, Padusan juga dimaknai sebagai membersihkan diri dari dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan.
Padusan juga bisa diartikan sebagai momen untuk merenung dan intropeksi diri. Tradisi ini mencerminkan kesadaran masyarakat Jawa akan pentingnya kesucian lahir dan batin dalam menjalankan ibadah.
3. Cucurak (Jawa Barat)
Cucurak biasanya dilakukan di tempat-tempat terbuka, seperti di kebun, sawah, atau tempat wisata alam. Selain makan bersama, tradisi ini juga sering diisi dengan kegiatan lain, seperti bermain permainan tradisional atau bercengkerama. Tradisi ini menjadi ajakan untuk saling bersyukur atas segala rezeki yang diberikan oleh Tuhan. Cucurak menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh keluarga besar untuk berkumpul dan mempererat tali persaudaraan sebelum memasuki bulan Ramadan.
4. Nyorog (Jakarta)
Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Betawi, terutama di daerah-daerah yang masih kental dengan budaya Betawi. Bingkisan makanan yang diberikan biasanya berisi makanan khas Betawi, seperti dodol, geplak, atau kue-kue tradisional lainnya.
Selain membagikan makanan kepada keluarga yang lebih tua, Nyorog juga sering dilakukan kepada tokoh agama atau tokoh masyarakat sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur. Tradisi ini menjadi bentuk mempererat tali silaturahmi.
5. Malamang (Sumatra Barat)
Proses pembuatan lemang dalam tradisi Malamang dilakukan secara gotong royong, mulai dari menyiapkan bahan-bahan hingga memasak lemang. Lemang yang dihasilkan kemudian dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar. Tradisi Malamang dilakukan untuk memupuk rasa kebersamaan antar masyarakat Minangkabau. Malamang bukan hanya sekadar tradisi kuliner, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas masyarakat Minangkabau.
Tradisi Unik yang Hanya Ada di Bulan Ramadan
Selain tradisi yang sudah ada sejak lama, ada pula tradisi yang lebih bersifat musiman dan khas dilakukan selama bulan Ramadan saja.
Dilansir dari dispar.ciamiskab.go.id, Rabu (26/2/2025) Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga memberikan semangat dan kegembiraan dalam menjalani ibadah puasa.
Beberapa tradisi unik yang hanya ada di bulan Ramadan antara lain:
1. Tradisi Membangunkan Sahur
Dilakukan dengan cara berkeliling kampung untuk membangunkan orang sahur menggunakan alat musik tradisional atau kentongan. Hal ini mencerminkan kepedulian sosial antar warga.
2. Ngabuburit
Aktivitas menunggu waktu berbuka puasa dengan berkumpul bersama teman atau keluarga di luar rumah. Ini bisa dilakukan di taman, pasar, atau tempat umum lainnya.
3. Berburu Takjil
Aktivitas mencari takjil menjelang berbuka puasa, seperti kolak, es buah, atau kue tradisional lainnya. Ini menjadi momen untuk berinteraksi dengan pedagang dan masyarakat sekitar.
4. Buka Bersama
Kegiatan buka puasa bersama yang melibatkan keluarga, teman, rekan kerja, atau bahkan komunitas, sering kali dimanfaatkan untuk berbagi dengan yang membutuhkan.
Dengan demikian, setiap tradisi yang ada, baik yang telah lama dilestarikan maupun yang hadir khusus di bulan Ramadan, mengandung nilai dan makna yang mendalam.
Tradisi-tradisi ini tidak hanya mempererat ikatan spiritual, tetapi juga menguatkan hubungan sosial antar sesama umat. (Siti Laela Malhikmah)