Ketoprak Adhi Budaya, Potret Perjuangan Seni Tradisional di Ibu Kota

Hampir seluruh lini kebudayaan di Tanah Air saat ini dihadapkan pada problematika mencari pewaris dan penerus dari kalangan generasi muda.nn
Wike Dita Herlinda | 23 April 2017 13:13 WIB
Salah satu pertunjukan Himpunan Seniman Panggung Wayang Orang dan Ketoprak Adhi Budaya. - facebook.jpg

Bisnis.com, JAKARTA - Regenerasi merupakan Salah satu permasalahan klasik dalam upaya pelestarian budaya tradisional.

Hampir seluruh lini kebudayaan di Tanah Air saat ini dihadapkan pada problematika mencari pewaris dan penerus dari kalangan generasi muda.

Permasalahan regenerasi itu tak terkecuali dirasakan oleh para penggiat seni teater tradisional. Di berbagai daerah, kesenian panggung tradisional telah lama mati suri, tergerus gempuran budaya populer kekinian.

Di tengah sulitnya upaya seniman pentas tradisional untuk bertahan di daerah asal mereka, masih ada sanggar-sanggar seni panggung tradisional yang justru eksis di DKI Jakarta.

Lantas, bagaimana para ‘duta-duta seni daerah’ itu bertahan di Ibu Kota di tengah masifnya gelombang modernisasi megapolitan?

Berikut penuturan Aries Mukadi; salah satu penggiat kesenian ketoprak dan wayang orang yang selama lebih dari enam dekade setia mengibarkan semangat pelestarian budaya Jawa di DKI Jakarta. Aries juga pendiri Himpunan Seniman Panggung Wayang Orang dan Ketoprak Adhi Budaya.

Sejak kapan Adhi Budaya didirikan? Bagaimana sejarah dan awal mulanya?

Adhi Budaya berdiri pada 2008. Awalnya kami menyutradarai tayangan Ketoprak Humor di televisi. Setelah program itu selesai, kami membuat kerja sama dengan Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo untuk mendirikan ‘ketoprak campur tokoh’.

Saat kerja sama itu selesai, kami yang tersisa tetap melanjutkan pertunjukan ketoprak di Jakarta. Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya di Jakarta masih ada 8 atau 9 organisasi wayang orang, tetapi rontok satu per satu hingga akhirnya tinggal tersisa Wayang Orang Bharata.

Dari situlah, lantas kami tergerak untuk melestarikan kesenian ketoprak di DKI Jakarta. Kami sengaja memilih Jakarta karena Ibu Kota selalu menjadi barometer masyarakat kesenian di Indonesia.

Baru pada 2008 kami sepakat untuk membangun sebuah kelompok yang mewadahi para seniman wayang orang dan ketoprak yang ada di Jakarta. Lalu, kami membentuk Himpunan Seniman Panggung Wayang Orang dan Ketoprak Adhi Budaya.

Saat ini ada berapa anggotanya?

[Grup wayang orang dan ketoprak] yang menjadi anggota kami hanya sedikit, tetapi jumlah pemainnya banyak. Karena Adhi Budaya adalah sebuah himpunan, jadi kami selalu melibatkan anggota seniman panggung dari berbagai daerah.

Sekali pentas, biasanya pemainnya mencapai 75 orang. Namun, kalau sedang ada pentas kolaborasi, bisa mencapai lebih dari 100 orang, karena kami membawa serta seniman-seniman dari berbagai komunitas.

Bagaimana dengan anggota baru? Apa strategi untuk menjaring anggota baru?

Anggota baru itu sulit sekali dijaring. Kalau pun saat ini ada anggota yang masih muda, mereka kebanyakan keturunan seniman-seniman ketoprak yang sudah senior. Jadi hanya meneruskan kiprah orang tuanya.

Sementara itu, anggota generasi muda dari kalangan umum sangat susah untuk dijaring. Mungkin, bagi mereka kesenian teater tradisional sudah dianggap jadul. Kasarnya, mereka tidak menghargai kesenian bangsanya sendiri, dan lebih bangga dengan budaya populer.

Apa cara yang dilakukan untuk menarik minat generasi muda?

Kami justru ingin menarik minat masyarakat secara umum terhadap seni teater tradisional Jawa. Tidak bisa kalau hanya mengandalkan promosi ke generasi muda, karena masyarakat secara umum sudah banyak yang berpaling dari kesenian tradisional.

Selama ini apa saja strategi Anda utuk memperkenalkan dan mempertahankan budaya tradisional daerah di Jakarta, apalagi di tengah gempuran budaya populer?

Kalau dulu memang masih banyak penggemar ketoprak di Jakarta, tetapi lama-kelamaan banyak dari mereka yang menyingkir [berpindah pemukiman] di tepian Jakarta. Selain itu, dengan semakin maraknya televisi dan internet, masyarakat sudah sangat jarang memperhatikan ketoprak lagi.

Nah, melihat kecenderungan tersebut, kami berupaya agar pergelaran ketoprak dan wayang orang di Jakarta tidak mati. Akhirnya, kami mencoba mendekat ke para pejabat atau tokoh masyarakat agar mau memalingkan wajahnya untuk mengingkat kembali kesenian Jawa.

Kami mengajak instansi-instansi besar untuk menggelar pertunjukan teater tradisional. Misalnya saja, beberapa waktu lalu kami menggelar pentas ludruk di Kepolisian. Hal itu dilakukan agar para pejabat atau petinggi bisa memberi contoh ke masyarakat untuk mencintai budaya tradisional.

Bagaimana dengan pendanaan? Berasal dari sponsor atau swadaya?

Kami sendiri seringkali kelabakan kalau mau pentas. Kelabakan mencari sponsor. Sebab, sejauh ini belum ada bantuan dari pemerintah, jadi biaya untuk pergelaran terpaksa kami cari dari sponsor dan donatur.

Dalam sebulan berapa kali rata-rata pementasan?

Tidak menentu. Dulu Adhi Budaya pernah mendapat sponsor rutin selama tiga tahun, sehingga kami bisa tampil rutin berjadwal di Gedung Pertunjukan Wayang Orang Baratha. Awalnya, kami main setiap sebulan dua kali. Lama-kelamaan jadi sebulan sekali, hingga akhirnya berhenti sama sekali karena sponsornya menyetop bantuan.

Akhirnya, untuk bisa tetap manggung, kami harus rajin-rajin mencari mitra yang bisa membawa Adhi Budaya ke tokoh-tokoh masyarakat. Sebab, berdasarkan pengalaman kami, mendekati tokoh masyarakat adalah cara jitu untuk mendekat ke masyarakat. Sebab, tokoh masyarakat memiliki pengaruh untuk mengajak masyarakat lebih peduli pada seni tradisional.

Bagaimana animo penotonnya?

Tidak seperti zaman dulu. Dulu tidak banyak kesenian yang ditampilkan di televisi, sehingga seni teater sangat diminati sebagai hiburan rakyat. Sekarang ini hiburan bisa didapatkan di mana-mana.

Selain itu, yang tinggal di Jakarta ini bukan hanya pendatang dari Jawa. Jadi, masyarakat yang tidak tahu budaya Jawa cenderung tidak tertarik menonton ketoprak atau wayang orang.

Untuk menyiasatinya, terkadang saat pementasan, kami menggunakan pengantar bahasa Indonesia agar bisa dimengerti oleh kalangan masyarakat selain Jawa.

Selain pendanaan dan regenerasi, apalagi tantangan menghidupkan seni teater tradisional di DKI Jakarta?

Tantangan politik perkotaan juga sangat memengaruhi eksistensi kami. Keamanan Jakarta sangat berpengaruh. Sebab, situasi DKI sedang tidak kondusif, penonton akan menurun, karena kebanyakan penggemar kami justru datang dari luar kota.

Seperti apa bentuk dukungan yang diharapkan dari pemerintah?

Sejauh ini sih pemerintah sudah memberikan fasilitas. Misalnya saja dari Kemendikbud yang membantu kami menggelar pentas pada 28 April untuk memperingati 60 tahun kiprah saya dalam kesenian wayang orang dan ketoprak.

Kalau bantuan dari Pemprov DKI Jakarta sih paling-paling sekarang kami sudah tidak perlu membayar uang sewa untuk tampil di Gedung Kesenian Jakarta. Dulu untuk menyewa gedung, dibutuhkan biaya Rp50 juta.

Sekarang tidak perlu bayar uang sewa lagi. Namun, tetap saja, kami harus membayar uang retribusi Rp5 juta dan membayar orang-orang yang bekerja di gedung itu senilai Rp5 juta. Jadi, tetap saja kami harus keluar uang Rp10 juta. Belum lagi harus ada izin keramaian dari kepolisian.

Tag : seni budaya, teater
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top