Hari Ayah, Ini Pentingnya Peran Ayah Menurut Psikolog

Hari Ayah Nasional pada Senin (12/11/2018) adalah momentum untuk merefleksikan peran ayah dalam keluarga di Indonesia.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 12 November 2018 21:34 WIB
Ilustrasi seorang ayah bermain bersama putranya. - Reuters/Arben Celi

Bisnis.com, JAKARTA – Hari Ayah Nasional pada Senin (12/11/2018) adalah momentum untuk merefleksikan peran ayah dalam keluarga di Indonesia.

Menurut Monika Windriya Satyajati, psikolog dari Center for Trauma Recovery Fakultas Psikologi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, mengemukakan dalam kehidupan keluarga dengan kultur paternalistik seperti Indonesia, ayah memiliki pengaruh dalam pembentukan karakter sosial anak.

Dia menilai karakter pribadi dan ruang-ruang privat anak biasanya dipengaruhi oleh ibu. Bukan berarti figur ibu dijebak dalam ruang-ruang domestik dan privat semata. Hal ini menandakan bahwa kultur paternalistik telanjur memberikan peran ayah sebagai pelindung keluarga dan anak.

“Peran ayah seharusnya sudah mulai dilakukan sejak si bayi masih dalam kandungan, bukan saat menunggu bayi lahir. Alasannya, pola pengasuhan ayah sesuai dengan peran adalah kunci menanamkan nilai-nilai kepada si anak dari mulai nilai menjaga dan karakter anak,” ujarnya pada Senin (12/11/2018).

Dia menegaskan kehadiran ayah secara fisik dan psikis memang sangat diperlukan oleh setiap anak. Setelah anak menjadi remaja, peran ayah tetap sangat diperlukan, tetapi tak lagi seperti awalnya yang menjadi penjaga, sehingga dia pun mulai beralih peran.

Monika menyebut anak remaja cenderung tidak ingin terlalu dilindungi oleh ayahnya. Dalam posisi itulah nilai-nilai tentang peran ayah tidak dilakukan secara langsung, tetapi telah tertanam sebagai bentuk kepercayaan.

"Ketika bapak tidak dekat secara emosional dengan anak perempuannya, itu ada kendala. Umumnya saya bertemu orang di rehabilitasi yang punya masalah, ternyata mereka punya persepsi yang buruk soal ayah mereka," sambungnya.

Monika menegaskan tantangan ilmu psikologi saat ini adalah juga memperbanyak kajian pengasuhan ayah. Pasalnya, kajian tentang pengasuhan ibu jauh masih lebih banyak daripada kajian tentang pengasuhan ayah.

“Ibu selalu laku keras sebagai objek penelitian ketimbang ayah. Sementara persepsi buruk pada keluarga umumnya didapatkan pada figur ayah,” tutur Monika.

Tag : psikologi
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top