INDUSTRI FESYEN: Desainer Lokal Harus Berjuang Sendiri

Dua puluh tahun malang-melintang di bidang mode Indonesia menjadikan Musa Widyatmodjo paham perkaraperkara yang menahan laju desainer lokal berkembang. Bukan soal kreativitas yang tidak cakap, melainkan soal kerja sama antara desainer lokal, industri
Gloria Natalia Dolorosa | 16 Juni 2013 07:06 WIB

Dua puluh tahun malang-melintang di bidang mode Indonesia menjadikan Musa Widyatmodjo paham perkaraperkara yang menahan laju desainer lokal berkembang. Bukan soal kreativitas yang tidak cakap, melainkan soal kerja sama antara desainer lokal, industri garmen, pengembang mal, dan pemerintah.

Penasihat Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) yang sempat menduduki jabatan ketua APPMI ini mengeluh soal tiadanya kerja sama antara keempat pihak tersebut.

Yang terjadi saat ini adalah desainer lokal—yang tidak sekuat industri dan bukan regulator— harus berjuang sendiri membesarkan usahanya.

Musa yang gemar memadukan kain tradisional dengan gaya kontemporer ini bercerita soal pengalaman pribadinya memasarkan hasil rancangan sendiri.

Lulusan Drexel University Philadelphia, Amerika Serikat, ini memiliki divisi bisnis fesyen eksklusif berupa kain-kain tradisional Indonesia dan gaun malam yang bertajuk Musa Widyatmodjo.

Merek tersebut bernaung di bawah PT Musa Atelier yang berdiri pada 1991. Juga ada divisi busana siap pakai untuk perempuan M by Musa serta divisi seragam Musa Co.

Menurutnya, dia kesulitan memasok barang dari ketiga merek itu sesuai kebutuhan pasar karena dirinya tidak bekerja sama dengan industri garmen tertentu. Usaha rumah tangga bidang fesyen tidak sanggup memenuhi kebutuhan pasar Indonesia.

”Di Indonesia saya mau order ke mana? Akhirnya, saya mengerjakan semua sendiri. Saya suplai barang 1.000 potong per bulan, bagaimana caranya? Di rumah mode di mana pun juga tidak ada yang bisa memasok sendiri. Butuh industri rekanan,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Kamis, (6/6).

Musa mencontohkan merek Zara yang bisa besar karena didukung industri garmen dan tekstil. Pun gerai-gerainya mudah dijumpai di banyak pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia.

Seharusnya, rancanganrancangan desainer Tanah Air bisa semaju merek milik miliuner asal Spanyol, Amancio Ortega itu.  ”Saya bikin produk setengah mati, yang jahit tidak ada, garmen dan tekstil tidak dukung, lalu saya disuruh berkembang seperti Zara? Ya, tidak bisa,” ucap Musa.

Tidak cuma sulit memasok, terbatasnya jalur distribusi pun menghadang laju para perancang lokal berkarya. Musa, misalnya, tidak memiliki butik sebab harga sewa butik terlampau mahal. Pada akhirnya, rancanganrancangan Musa masuk ke pusat perbelanjaan macam Metro di Pondok Indah Mal serta Plaza Senayan dan Pasaraya Blok M.

Namun, tidak semua desainer lokal seberhasil Musa yang bisa memajang produk di pusat perbelanjaan.

Perhitungan Musa, hanya segelintir desainer lokal bisa menembus pusat belanja. Dia tidak tahu apa penyebabnya. Karena itu, ketika dihadapkan dengan data yang menyebut nilai industri fashion mencapai Rp164,7 triliun, Musa langsung sangsi.

”Saya berani yakin nilai itu termasuk industri tekstil dan gamen. Coba cek department store, berapa banyak sih hasil rancangan desainer lokal? Selama saya berkiprah di dunia mode 20 tahun, menurut saya industri fesyen biasa-biasa saja,” tutur Musa.

Dia minta pemerintah mendefi nisikan industri fesyen dan industri kreatif. Juga dia meminta pemerintah terus mendorong para perancang lokal, terutama perancang lokal yang sudah lama berkarya.

Menurut Musa, banyak desainer di Indonesia yang sudah berpengalaman berguguran dan hampir terlupakan.

Tag : desainer, fashion, garmen
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top