4 Miliar Penduduk Dunia Konsumsi Herbal

Bisnis.com, JAKARTA - Pola hidup masyarakat kini cenderung kembali ke alam. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat  4 miliar penduduk dunia menggunakan herbal dalam hidup mereka.
Rahmayulis Saleh
Rahmayulis Saleh - Bisnis.com 30 Juli 2013  |  21:18 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Pola hidup masyarakat kini cenderung kembali ke alam. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat  4 miliar penduduk dunia menggunakan herbal dalam hidup mereka.

Meningkatnya tren herbal ini, karena masyarakat makin sadar bahwa mengonsumsi obat alami, relatif lebih aman dibandingkan dengan dengan obat sintetik.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, sekitar 93% masyarakat yang pernah minum jamu, menyebutkan bahwa jamu memberikan manfaat bagi tubuh.

"Pasar tumbuhan obat dan obat herbal Indonesia jadi prospektif. Saat ini pasar obat herbal Indonesia dan dunia sangat menjanjikan. Permintaan akan obat herbal pasti meningkat," kata Gusti Muhammad Hatta, Menteri Riset dan Teknologi, Selasa (30/7/2013) di Jakarta.

Menristek bicara dalam Temu Bisnis, dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pusat Studi Biofarmaka IPB (PSB-IPB), dan industri jamu di bawah koordinasi Gabungan Pengusaha Jamu, di Jakarta.

Kesepakatan tersebut meliputi kerja sama pendidikan dan pemagangan untuk peningkatan SDM di bidang jamu, penyediaan bahan baku terstandar untuk pemenuhan kebutuhan industri, serta pengembangan produk jamu melalui penelitian dasar, dan terapan yang dapat diimplementasikan oleh industri.

Charles Saerang, Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, mengatakan pasar obat herbal atau jamu di Indonesia pada 2010 menembus angka Rp7,2 triliun, dan pada 2011 meningkat menjadi Rp12 triliun.

Menurut Charles, produk ramuan alami tersebut kini semakin dikenal di dunia, karena terbukti berkhasiat untuk memelihara kesehatan, hingga mencegah, dan mengobati penyakit.

"Banyak hasil penelitian  tentang obat-obat tradisional, termasuk jamu dan produk herbal yang belum dimanfaatkan secara optimal," katanya.

Charles ingin masyarakat Indonesia menggalakkan pemakaian herbal dalam kehidupan sehari. Bisa dimulai dari jahe misalnya. "Kita bisa konsumi bahan baku jahe, dan dikemas dalam berbagai bentuk herbal untuk kesehatan tubuh," ungkapnya.

Terkait prospek itu, PSB IPB pun diarahkan untuk fokus dalam pengembangan iptek kesehatan. Sebagai Pusat Unggulan Iptek, PSB IPB diarahkan menjadi Pusat Studi Biofarmaka Indonesia, atau Indonesia Biopharmaca Research Center (IBRC).

"Di sinilah dilaksanakannya riset biofarmaka, khususnya obat herbal yang bereputasi nasional dan internasional," tambah Menristek.

Gusti menuturkan PSBI diharapkan menjadi wadah pengembangan riset dan inovasi teknologi, pengembangan dan pengkajian sistem pendidikan obat herbal, pusat rujukan pengembangan budidaya tanaman obat terstandar, dan model pengembangan produk, serta diseminasi informasi bidang biofarmaka khususnya obat herbal.

Latifah K Darusman, Direktur Pusat Studi Biofarmaka IPB (PSB-IPB), mengungkapkan beberapa hasil penelitian yang sudah dipatenkan dan sangat berpotensi untuk dikomersialisasikan. Di antaranya permen cajuput untuk pelega tenggorokan, ekstrak tabat barito yang berkhasiat anti tumor, ekstrak flavonoid Mahkota Dewa sebagai antikanker, dan ekstrak daun jati Belanda sebagai pelangsing.

"Kalau dihitung-hitung ada sekitar 28 hasil penlitian PSB- IPB untuk kesehatan yang berpotensi dijual. Ada anti jerawat, anti penuaan dini, pemutih kulit, dan lainnya," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, herbal, industri jamu, charles saerang, '

Editor : Martin Sihombing
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top