Anak Tantrum, Yang Penting Jangan Panik

Tantrum atau ekspresi emosi berlebihan pada anak sebenarnya wajar hingga usianya tujuh tahun. Namun, jika muncul saat berada di pusat keramaian tentu saja mengganggu, kecuali orang tua paham sikap yang harus diambil.
Bunga Citra Arum Nursyifani
Bunga Citra Arum Nursyifani - Bisnis.com 29 November 2013  |  21:55 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Tantrum atau ekspresi emosi berlebihan pada anak sebenarnya wajar hingga usianya tujuh tahun. Namun, jika muncul saat berada di pusat keramaian tentu saja mengganggu, kecuali orang tua paham sikap yang harus diambil.

Efnie Indrianie, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, mengatakan pada kisaran usia itu, seorang anak biasanya masih kesulitan untuk belajar menunda mendapatkan keinginannya.

“Kalau maunya tidak dituruti, tantrum tadi merupakan salah satu ekspresi mereka, masalahnya, kadang hal ini dijadikan senjata oleh mereka untuk mendapatkan yang mereka minta,” jelasnya.

Bagi para orang tua yang terpaksa menghadapi tantrum anak-anaknya terutama di pusat perbelanjaan, Efnie menyarankan untuk tidak memberikan reaksi apapun. Hal itu supaya si anak tidak menjadikan perilaku tantrum sebagai sebuah pola yang harus dilakukan agar orang tua menuruti maunya.

Ketika pembiaran ini dilakukan, ada kemungkinan kemarahan anak akan semakin menjadi-jadi, bahkan sampai mereka batuk atau muntah. Menurut Efnie, orang tua harus tetap tenang dan tidak panik meskipun ini terjadi.

Bujukan atau rayuan orang tua ketika anak dalam kondisi tantrum, lanjutnya, akan menjadi sia-sia belaka, sebab saat itu yang terjadi dalam otak si anak adalah bagian amigdala yang merupakan pusat perasaan negatif membajak sistem kerja bagian yang mengendalikan logika, yakni korteks depan.

Ketika sistem logika itu sudah dibajak, maka semua bujuk rayu dan penjelasan orangtua mengenai kenapa keinginannya tidak bisa dituruti saat itu, tidak akan diserap dan dipahami oleh otak si anak.

“Maka dari itu, orang tua harus bersabar dan menunggu sampai si anak capek sendiri. Kalau anak sudah capek dan mulai tenang, baru dipeluk dan dijelaskan pelan-pelan alasan orang tua tidak menuruti keinginannya waktu itu,” kata Efnie.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
orang tua, psikolog, permainan anak, Anak Balita

Editor : Nurbaiti
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top