Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Permainan Tradisional Dukung Perkembangan Emosi Anak

Sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga sekarang tidak ada penelitian yang menyebutkan tentang efek negatif dari permainan tradisional.
Deliana Pradhita Sari
Deliana Pradhita Sari - Bisnis.com 29 April 2014  |  10:16 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga sekarang tidak ada penelitian yang menyebutkan tentang efek negatif  dari permainan tradisional.

"Kecuali si anak bermain dengan orang yang salah dan diajak berbuat buruk,” Dr.dr Tjhin Wiguna SpKJ (K), Psikiater Anak dari Divisi Psikiater Anak dan Remaja Departemen Psikiatri FKUI/RSCM.

Tjhin menjelaskan konteks permainan tradisional dapat dilihat dari dua aspek yaitu komunal dan lahan.

Jika permainan dilaksanakan dalam suatu regu atau kelompok serta ditunjang lahan untuk kebebasan bergerak, di situlah terciptanya permainan tradisional.

“Permainan tradisional sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak dan kemampuan adaptif terhadap lingkungan,” katanya saat dihubungi Bisnis.com belum lama ini.

Dia menambahkan permainan semacam petak umpet dan galasin akan menciptakan interaksi tatap muka dan aksi langsung antar satu anak dan anak lainnya.

“Permainan yang dilakukan bersama-sama atau yang disebut konsep tradisional ini akan mepercepat si anak-anak menerima sinyal dari lingkungan sekitar,” tandasnya.

Misal si anak akan mengetahui jika pasangan bermainnya sedang sedih, gembira, tidak mood atau bete. Mereka akan menghibur satu sama lain. Di sinilah simbiosis mutulisme juga turut bermain.

Namun kini dengan terbatasnya lahan, permainan tradisional dengan komunal dan lahan berubah seiring berkembangnya zaman ke era digitalisasi.

“Era digitalisasi tidak bisa dikatakan buruk, ya seperti dua sisi mata uang lah, ada baiknya dan ada pula buruknya,” ungkap Tjhin.

Permainan digital memacu si anak untuk mempunyai jiwa kompetisi karena permainan macam ini (digital) lewat gadget berpacu dengan level kemenangan.

“Semangat kompetisi juga baik untuk tumbuh kembang emosi anak. Namun yang disayangkan adalah jika mereka berkompetisi lewat dunia maya. Mereka tidak tatap muka langsung,” ujarnya.

Tjhin memberi contoh permainan  game online. Si anak memang bermain bersama-sama dalam sebuah ruangan, saling berkompetisi tetapi tidak berinteraksi langsung. Mereka berpacu lewat layar monitor.

Tjhin berharap jika permainan dengan melibatkan interaksi komunal tetap selalu terjaga eksistensinya.

Dia juga percaya jika permainan tradisional tidak akan tenggelam meskipun kurangnya lahan di era serba teknologi ini.

Hal tersebut dapat disiasati dengan bermain di ruang terbatas tetapi masih bersifat komunal dengan tatap muka. Misalnya main bekel, main lompat tali, monopoli dan ular tangga.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak permainan anak
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top