Sajak Ustadz Televisi, dalam tataran metaphor terasa sekali tenaganya berkekuatan untuk mendekonstruksi sihir palsu tersebut. /bisnis.com
Show

USTADZ TELEVISI, Antara Makna Denotatif dan Metafora

Puput Ady Sukarno
Minggu, 25 Mei 2014 - 10:20
Bagikan

Bisnis,com, BANDUNG - Kau kibarkan sorbanmu seperti mengibarkan bendera merah putih, atau celana dalam. Di setiap kibarannya ada ayat-ayat suci. Ada hadits, ada fatwa, dan berjuta teks amanat suci yang kau biarkan melayang di atas langit. Karena kau terlalu sibuk menjadi matahari bagi siang, dan terlalu sibuk menjadi rembulan bagi malam hari, dan kau begitu khusuk menikmati ketenaran selebritis.

Demikian sebagian larik dari bait puisi berjudul Ustadz Televisi karya Matdon, dalam buku kumpulan puisinya yang juga bertajuk Ustaz Televisi, terbitan Teko Publishing kerjasama Majelis Sastra Bandung (MSB) Publishing, Mei 2014.

Heri Dym, seorang seniman Bandung mengatakan bahwa sajak-sajak dalam Ustadz Televisi betul-betul impresif. Kesan yang paling kuat, terlihat manakala kata ustaz yang disandingkan dengan televisi.

Heri menangkap adanya paradoks yang begitu kuat antara dunia nilai, pendidikan, dan ajaran yang berhadapan langsung dengan dunia tak tersentuh, artifisial, hingga muslihat kapitalistik.

“Kebetulan pula beriringan sajak ini diluncurkan, bermunculan kasus-kasus beberapa ustadz yang melenceng dari prinsip nilai, pendidikan, dan ajaran. Ketikaitu pula, kata "ustaz" itu menjadi memiliki dua daya sekaligus ya itu dalam arti langsung [denotatif] dan sebagai metafora,” tuturnya.

Ustaz di sisi denotatif adalah sosok yang seperti umumnya dipahami masyarakat, yakni seseorang yang lazimnya berada di dalam tradisi pendidikan keagamaan (Islam), yang ternyata 'belumtentu' merupakan pusat kebenaran malah seyogianya seperti kemanusiaan lainnya yaitu hal yang terbuka bagi kritik.

Akan tetapi, lanjutnya, dia pun metafora bagi berbagai hal yang dibangun oleh kecenderungan media televisi. Seperti diketahui, disengaja ataupun tak sengaja, televise seolah-olah telah menjadi pusat segala kebenaran, penyihir kesadaran publik, dan penentu nilai-nilai.

“Berkenaan dengan itu hingga muncul pameo as seen on tv. Juksta posisi dari pameoter sebut adalah sihir bahwa apa yang terlihat di televise itu pasti yang terbaik, paling unggul, istimewa,” ujarnya.

Menurutnya, sajak Ustadz Televisi, dalam tataran metaphor terasa sekali tenaganya berkekuatan untuk mendekonstruksi sihir palsu tersebut. Atau, lanjutnya setidak-tidaknya berfungsi sebagai 'alarm' yang menyatakan bahwa tidak selamanya televise itu benar dan terbaik.

Editor : Fatkhul Maskur
Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (25/5/2014)
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro