Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KEHIDUPAN PERNIKAHAN: Perempuan Karir atau Ibu Rumah Tangga?

Setelah menikah, perempuan pada umumnya akan menghadapi dilema dalam memilih antara menjadi perempuan karir dan ibu rumah tangga. Ada banyak pertimbangan yang harus dilakukan sebelum memutuskan menjadi salah satunya.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 30 September 2014  |  19:53 WIB
KEHIDUPAN PERNIKAHAN: Perempuan Karir atau Ibu Rumah Tangga?
Perempuan karir sering dituntut beban ganda dan rasa bersalah yang kerap menghampiri karena waktu yang banyak tersita oleh pekerjaan. - TWITTER
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah menikah, perempuan pada umumnya akan menghadapi dilema dalam memilih antara menjadi perempuan karir dan ibu rumah tangga. Ada banyak pertimbangan yang harus dilakukan sebelum memutuskan menjadi salah satunya.

Aisha Maharani, adalah seorang perempuan yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta sejak 1999. Sehari-hari ia bekerja mulai pukul 8 hingga 4 sore. Perjalanan jauh dari rumah ke kantor ditambah dengan kemacetan Ibu Kota membuatnya harus berangkat pagi-pagi dan pulang ketika larut.

Meski begitu, dia tetap menyempatkan diri untuk mengasuh anaknya sepulang kantor. Pengasuhan anak selama  dia di kantor dipercayakan kepada asisten rumah tangga.

Hal tersebut berjalan mulus hingga anaknya menginjak usia 9 tahun kelas 3 SD, tepatnya pada 2012. Betapa terkejutnya Aisha mendapatkan nilai rapor anaknya yang turun, ditambah dengan kelakuan anaknya yang semakin lama semakin nakal. Peristiwa ini membuatnya berpikir.

“Mungkin ini karena saya titipkan anak saya kepada pembantu yang pendidikannya rendah, jadi dia tidak bisa membantu ketika anak saya mengerjakan PR sekolah, ditambah nilai-nilai yang diajarkan juga kurang sesuai untuk perkembangan anak saya,” ujar Aisha.

Dia pun memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Dengan begitu, dia pun memiliki banyak waktu luang untuk dihabiskan bersama ketiga anaknya. Keputusan itu pun mulai terasa manfaatnya. Prestasi anak-anaknya meningkat, dan kedekatan antara anak-dan orang tua lebih terjalin layaknya sahabat.

Meski begitu, Aisha tetap mencari aktivitas lain untuk pengembangan diri. Dia pun mendirikan Komunitas Halal Corner, sebuah komunitas yang mengadvokasi pentingnya sertifikasi halal pada setiap produk yang beredar di Indonesia.

Dia mengaku aktivitasnya di Halal Corner justru lebih menyita waktu ketimbang pekerjaannya dulu. Dia sering dituntut untuk pergi ke luar kota, mengisi acara, seminar, pelatihan dan masih banyak lainnya.

Jika kesibukannya sedang menyita waktu seperti itu, biasanya Aisha berbagi tugas pengasuhan anak dengan suaminya yang wirausaha.

Yang dialami Aisha juga pasti dialami oleh banyak perempuan yang sudah menikah. Pilihan antara tetap berkarir atau total mengurus rumah tangga akan menjadi persoalan yang dilematis. Banyak sekali tulisan yang beredar di dunia maya dengan judul Wanita Karir vs Ibu Rumah Tangga.

Pertanyaannya, apakah kedua pilihan tersebut dipandang sebagai perbandingan yang apple to apple sehingga harus dianggap sebagai sebuah versus? Apakah memang ada satu pilihan yang selalu mutlak lebih baik dari pilhan lainnya?

Menurut aktivis perempuan sekaligus anggota dewan redaksi Jurnal Perempuan Mariana Amiruddin, kedua pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.

Perempuan karir sering dituntut beban ganda dan rasa bersalah yang kerap menghampiri karena waktu yang banyak tersita oleh pekerjaan.

Di sisi lain, ibu rumah tangga tidak memiliki kemandirian secara ekonomi, sehingga memiliki risiko besar di masa depan. Banyak kasus ibu rumah tangga yang ditinggal suaminya kerap kesusahan karena tidak memiliki sumber penghasilan.

Dalam hal ini, dukungan keluarga sangat dibutuhkan bagi perempuan karir untuk bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dengan keluarga.

Di sisi lain, ibu rumah tangga pun sangat memerlukan apreasisi dari masyarakat dengan tidak menganggap sebelah mata profesi ini.

“Bagi saya perempuan perlu menentukan dirinya sendiri, apakah jadi karir atau tidak, mereka tahu konsekuensinya. Soal tuntutan sosial, sebaiknya abaikan karena dialah yang menjalani hidup, bukan orang lain,” ujarnya ketika dihubungi via telepon.

Mariana menambahkan kehidupan pernikahan bagi perempuan adalah hal yang kompleks. Jadi, tidak adil rasanya jika masyarakat membuat standar-standar tertentu pada kondisi yang berbeda antara satu kehidupan rumah tangga dengan yang lainnya.

Masyarakat hendaknya memberikan kepercayaan kepada setiap perempuan bagaimana menjalani hidup mereka, entah itu menjadi perempuan karir atau ibu rumah tangga, tanpa perlu menilai segala sesuatunya dalam standar yang sama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perempuan
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top