Tak Hanya Anak-anak, Orang Dewasa Juga Bisa Cacingan

Gatal-gatal atau merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak di area lubang pembuangan air besar kadang pernah dirasakan oleh sebagian orang. Ya, bisa jadi orang tersebut sedang mengalami cacingan.
Atiqa Hanum | 10 Januari 2015 14:30 WIB
Parasit - morningtonvetclinic.com.au

Bisnis.com, JAKARTA - Gatal-gatal atau ada sesuatu yang bergerak-gerak di anus kadang pernah dirasakan oleh sebagian orang. Bisa jadi orang tersebut mengalami cacingan.

Kejadian ini memang jarang dialami oleh orang dewasa di atas usia 15 tahun, tetapi bukan berarti orang dewasa dapat mengenyampingkan hal tersebut. Ada pula orang yang tidak merasakan gejala apapun,  padahal di dalam tubuhnya sedang berkembang biak cacing-cacing itu.

Dokter Umum Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk Pandu Ranggabi mengatakan cacingan memang lebih sering dialami oleh anak-anak di bawah umur 15 tahun. Sekitar 80% anak-anak pernah mengalami cacingan karena  belum bisa menjaga  makanan yang kotor dan bersih. Hal ini menjadi tugas orangtua untuk selalu menjaga higienitas makanan yang dikonsumsi si anak hingga kebersihan kuku anak sendiri.

Namun, bukan hal yang tidak mungkin kondisi itu terjadi pada orang dewasa. Pandu menjelaskan kebersihan yang kurang terjaga seperti tidak suka mencuci tangan setelah menyentuh sesuatu yang kotor langsung garuk-garuk ke area sekitar anus.

“Kita tidak tahu apakah di tangan itu ada telur-telur cacing atau tidak yang bisa terselip di kuku, sehingga ketika makan telur tersebut masuk lambung dan menetas di sana,” paparnya.

Cacing pada orang dewasa biasanya datang dari menyantap lalapan yang sayurannya mentah dan tidak dicuci terlebih dahulu. Begitu pula dengan orang yang suka memakan daging yang kurang matang penyajiannya.

Pandu mengatakan hewan pemakan rumput lebih banyak memakan telur cacing sehingga kita harus waspada karena siklusnya berasal dari tanaman. Apabila tidak ditangani dengan baik, telur akan keluar dari feses lalu menjadi pupuk tanaman dan akan termakan kembali sehingga cacing akan terus berkembang biak.

“Orang-orang yang biasanya cacingan tinggal di kawasan pertanian atau pertambangan yang biasa dikenal sebagai cacing tambang,” ujarnya.

Selain itu, tambah Pandu, orang-orang yang tinggal di kota dan cacingan biasanya menderita cacing kremi yang penyebarannya lewat makanan yang kotor dan tidak bersih. Cacing yang sudah masuk ke dalam tubuh manusia bisa berkembang biak dengan menjadi parasite dan menempel di dinding usus halus maupun usus besar.

Untuk menentukan seseorang mengalami cacingan atau tidak, paparnya, tentu harus dilakukan pemeriksaan feses terlebih dahulu.

Untuk menentukan seseorang  cacingan tidak harus mengalami gatal-gatal, karena ada yang tanpa gejala. Selain itu, ada juga yang merasakan perut tiba-tiba tidak enak, kadang sakit, kadang kembung hingga malas makan.

“Makanya orang cacingan kadang diidentifikasikan dengan orang yang kurus tetapi perutnya buncit,” katanya.

Obat cacing, ungkap Pandu, bukanlah upaya preventif , melainkan hanya untuk pengobatan saja. Namun, berbeda pada anak-anak yang dikatakan memakan apa saja sehingga ada baiknya minum obat cacing setidaknya enam bulan sekali.

Apabila orang dewasa ingin melakukan cek laboratorium setiap enam bulan sekali tentu diperbolehkan dan bisa diketahui apakah perlu atau tidak mengonsumsi obat cacing dalam kurun tersebut.

“Kalau cacingan, minum obat cacing sekali saja cukup. Bukan seperti obat lain yang harus berkali-kali,” tegasnya. (Bisnis.com)

 

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag : kesehatan, cacing laut
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top