Busana Etnik & Penuh Corak Khas Suku Dayak

Upaya untuk mengangkat kekayaan budaya Nusantara ke dalam karya busana makin gencar dilakukan para perancang mode berbakat Tanah Air. Salah satunya adalah desainer muda Dini Pratiwi Irawati.
Wike Dita Herlinda | 10 Januari 2016 04:50 WIB
Melalui label ready-to-wear miliknya Dinira, desainer muda Dini Pratiwi Irawati meluncurkan koleksi bertajuk Dajak yang terinspirasi oleh kultur suku adat Kalimantan. Koleksinya didominasi sentuhan detail etnik dengan potongan modern berbahan ringan. - Foto/foto: Dinira

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya untuk mengangkat kekayaan budaya Nusantara ke dalam karya busana makin gencar dilakukan para perancang mode berbakat Tanah Air. Salah satunya adalah desainer muda Dini Pratiwi Irawati.

Melalui label ready-to-wear miliknya, Dinira, Dini meluncurkan koleksi bertajuk Dajak yang terinspirasi oleh kultur suku adat Kalimantan. Sesuai dengan tema, koleksinya didominasi sentuhan detail etnik dengan potongan-potongan modern dan bahan ringan.

Dia mengaku terinspirasi dari hasil eksplorasi budaya tradisional yang tidak lekang oleh waktu. Apalagi, suku-suku adat di Tanah Air memiliki beragam motif yang memikat untuk diangkat ke lintasan runway kelas dunia.

“Kekayaan budaya Indonesia telah terbukti memikat hati dunia ketika motif-motif khas beberapa daerah berhasil mewarnai panggung mode dunia dengan tampilan modern dalam beberapa koleksi rumah mode ternama,” jelasnya.

Terdapat 18 busana perempuan dan empat pakaian laki-laki dalam koleksi tersebut. Tak sekadar menuangkan nuansa etnik ke dalam rancangannya, Dini juga memadukannya dengan desain modern, sehingga dapat diterima konsumen global.

Terkait pemilihan Suku Dayak sebagai inspirasi set busana rancangannya, perancang muda tersebut mengaku jatuh hati pada detail penuh warna dan nuansa festive dalam motif-motif adat suku tersebut.

Meskipun terkesan penuh corak, dia berpendapat motif dayak mengandung kesan misterius dan sedikit dingin di balik reputasinya sebagai suku ‘pemburu kepala’. Untuk itu, desain yang dipamerkan didominasi oleh potongan yang terkesan tegas dan sedikit agresif.

“Sisi tangguh dan agresif dikemas secara ceria menjadi inspirasi dan ide yang menarik untuk dieksplorasi,” jelasnya.

Guna memperkaya set busana dalam koleksinya, Dini mencomot beberapa pola ornamen khas dayak. Motif yang paling banyak diadopsi adalah motif tato adat yang mengandung unsur geometris nan eksotik.

Soal fitting, dia banyak bermain dengan potongan yang lebih boxy yang terkesan simpel tetapi cukup sophisticated. Selain itu, sentuhan fitting lurus dan tidak menonjolkan lekuk tubuh yang diadaptasi dari bentuk dasar pakaian adat dayak.

Palet yang dipilih untuk koleksinya didominasi oleh kelir-kelir basic, seperti hitam, abu-abu, dan putih, dengan sentuhan khas dayak seperti kuning dan oranye. Aksen etnik ditonjolkan dengan taburan manik-manik serta sequin dan bordir bernuansa keemasan dan keperakan.

Dini menggunakan teknik raveling untuk menciptakan efek bulu-bulu pada gaunnya. Selain itu, digunakan pula teknik bordir cut out patch, bordir regular, full sequins, dan hand painting fabric.

Dia juga memperkenalkan teknik baru dalam koleksinya, yaitu 3D beads embellishment guna menciptakan efek fringe atau rumbai-rumbai yang bertumpuk-tumpuk. Adapun, bahan yang digunakan adalah crepe, organdy, dan duchess.

Jika Anda senang mengeksplorasi padu padan sandang yang eye catchy bergaya boho atau tribal, mungkin busana-busana bernuansa akromatik dari Dinira ini dapat dijadikan inspirasi mode.

Meskipun berkonsep ready-to-wear atau busana siap pakai, koleksi Dajak menggarisbawahi nuansa glamor dan chic yang lebih pantas untuk suasana gala atau pesta di malam hari, dengan penggunaan sabuk korset dan topi bulu untuk menambah kesan urban tribal.

Agar kesan sophisticated lebih terpancar, busana-busana tersebut dapat dipadukan dengan aksesori dari bahan rotan karya Marsel Hober, dengan bentuk arm cuffs atau neck cuff bertumpuk-tumpuk. ()

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
busana etnik, Suku Dayak

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (10/1/2016)

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top