Mewaspadai Infeksi Nosokomial

Ketika berada di rumah sakit, baik pasien maupun pengunjung memiliki risiko tinggi terpapar sejumlah penyakit. Jika pihak pengelola rumah sakit tidak menjaga kebersihan fasilitas tersebut, risiko pasien terkena infeksi semakin tinggi.
Rezza Aji Pratama
Rezza Aji Pratama - Bisnis.com 01 September 2016  |  14:54 WIB
Mewaspadai Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial - slideshare

Bisnis.com, JAKARTA- Ketika berada di rumah sakit, baik pasien maupun pengunjung memiliki risiko tinggi terpapar sejumlah penyakit. Jika pihak pengelola rumah sakit tidak menjaga kebersihan fasilitas tersebut, risiko pasien terkena infeksi semakin tinggi.

Dalam dunia kesehatan, istilah ini dikenal dengan nama infeksi nosokomial. Ini merupakan infeksi yang didapat pasien ketika berada di rumah sakit. Sampai saat ini infeksit tersebut merupakan musuh bersama di rumah sakit seluruh dunia.

Infeksi nosokomial akan membuat peningkatan di angka kesakitan, lama perawatan, bahkan kenaikan angka kematian di Rumah Sakit. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan untuk merawat pasien amatlah tinggi.

Gejala ini umumnya disebabkan oleh beberapa micro organism seperti methicillin resisten staphylococcus aureus(MRSA), extended spectrum beta lactam (ESBL), klebseilla pneumonia carbapenemase (KPC), dan pseudomonas aeruginos. Infeksi ini biasanya ditandai dengan waktu. Jika terjadi 48 jam sejak pasien masuk rumah sakit, kemungkinan besar telah terjadi infeksi nosokomial.

Berdasarkan data WHO 2016, tercatat 7 kasus dari 100 penderita masuk rumah sakit di negara berkembang dan 10 kasus dari 100 orang di negara sedang berkembang yang terkena infeksi ini.

Apa yang terjadi ketika pasien terkena infeksi nosokomial? Agung Dwi Wahyu, Ketua Program Studi Imunologi Pascasarjana Universitas Airlangga, menuturkan infeksi nosokomial bisa menyebabkan pasien terkena bermacam-macam penyakit dengan gejala yang berbeda-beda. Adapun sejumlah penyakit yang rentan ditemui antara lain infeksi saluran kemih, infeksi aliran darah, pneumonia, dan infeksi pada luka operasi.

“Infeksi nosokomial ini termasuk salah satu penyebab kematian terbesar pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit,” ujarnya.

Guna menanggulangi infeksi tersebut, sejumlah penelitia telah dilakukan dalam dunia kesehatan. Salah satunya dilakukan oleh Kayapan Satya Darshan, pengusaha sekaligus innovator kelahiran Medan.

Guna menanggulangi infeksi nosokomial, Kayapan menciptakan zak aktif dalethyne yang bisa dimanfaatkan untuk membunuh kuman hingga lebih dari 50%. Zat ini terdiri dari empat senyawa yaitu peroksida, anisidine, yodium dan aldehid.

“Selama bertahun-tahun saya menciptkana mesin khusus yang dapat memisahkan  komponen penting pada minyak menggunakan oksigen,” ujarnya.

Sejumlah peneliti dari Universitas Airlangga juga telah menguji keberhasilan zat aktif tersebut. Agung yang menjadi ketua tim penguji tersebut menuturkan studi lebih lanjut akan membuat zat dalethyne mampu membunuh kuman secara total. Dia pun menyarankan agar rumah sakit dan layanan kesehatan lain menggunakan zat tersebut sebagai terapi utama penanganan infeksi.

Menurut ahli bedah plastik Donna Savitry kunci untuk terjadinya penyembuhan luka secara cepat  adalah dalam keadaan aseptik (bebas dari kuman, virus, jamur, bakteri dan mikroorganisme lainnya). Selain itu luka juga harus dalam keadaan lembab, tidak dalam keadaan basah ataupun kering.

“Dalam hal penyembuhan luka, yang saya amati salep yang mengandung dalethyneini secara lokal sangat mengeliminasi bau dan nanah yang berarti membunuh kuman penyebabnya,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
infeksi

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top