Ilustrasi/Antara-M Risyal Hidayat
Relationship

Cerita Agustin dari Buruh Batik Jadi Pengusaha

Azizah Nur Alfi
Sabtu, 8 Oktober 2016 - 12:45
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Industri batik booming sejak ditetapkan sebagai warisan dunia tak benda oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009, yang kemudian diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Meski begitu, kini para perajin batik masih menghadapi berbagai kendala, seperti pemasaran dan pengembangan produk.
 
Warga Desa Gamel, Plered, Cirebon, Tri Agustin (31), kini bisa menghasilkan omset rata-rata Rp10 juta per bulan dari usahanya sendiri sebagai perajin batik sejak 2014.

Dia dapat menjual batik tulis mulai harga Rp250.000 – Rp2 juta. Kondisi ini jauh berbeda saat dirinya masih menjadi buruh batik pada 2004 dengan penghasilan Rp30.000 setiap hari yang dibayarkan dua pekan kemudian.
 
Meski membatik sudah menjadi tradisi turun temurun keluarga, Agustin tak berani mengambil risiko dengan menjadi pengusaha batik. Dia tak mampu memasarkan hasil kerajinan batik. Dia juga tak mengerti kualitas batik yang diminati pasar. Maka, dia memilih bertahan sebagai buruh batik.
 
Pada 2012, bersama 11 perajin batik lain di Daya Tumbuh Komunitas binaan Bank BTPN, Agustin mulai belajar pemasaran melalui offline maupun online, mendapat akses ke pameran dan bazar, keterampilan teknik pewarnaan dari bahan alam, hingga pengelolaan keuangan.

Dari kegiatan tersebut, dia dapat menentukan harga jual kain batik lebih layak, membuat dan memasarkan sendiri kerajinan batik yang dihasilkannya. Selain itu, batik tulisnya makin diminati pasar karena menggunakan pewarna dari bahan alam, daripada saat menggunakan pewarna dari bahan kimia.
 
“Memang prosesnya lebih lama, karena perlu 20 kali pencelupan. Namun, di kulit pemakaianya lebih aman dan lebih diminati pasar. Kalau menggunakan bahan kimia cukup tiga kali pencelupan, tapi tidak nyaman di kulit,” tuturnya ditemui usai hadir dalam talkshow Memberdayakan Batik dari Tradisi Menjadi Industri di Bentara Budaya Jakarta. 

Meski telah melakukan lompatan dari seorang buruh batik menjadi pengusaha pabrik, Agustin tak ingin lekas berpuas diri. Perempuan yang belajar membatik sejak duduk di bangku Sekolah Dasar ini, berharap dapat terus mengembangkan usaha batiknya hingga menjadi usaha yang lebih mapan.
 
“Ingin punya showroom seperti Batik Trusmi,” katanya berharap.

Direktur BTPN Anika Faisal mengatakan, upaya mengangkat industri batik tidak dapat dilakukan beberapa pihak saja. Anika menilai perlu diciptakan suatu ekosistem yang menjembatani persoalan batik dari hulu hingga ke hilir. Edukasi keuangan, pemasaran, pengembangan produk, hingga membangun regenerasi perlu menjadi perhatian penting.

Dengan demikian, harapannya batik dapat menjadi industri kreatif yang tumbuh berkembang seperti halnya industri K-Pop.

Dia mencontohkan, persoalan sulitnya regenerasi disebabkan karena generasi muda belum melihat batik sebagai industri yang menguntungkan. Hal ini terlihat dari upah buruh batik yang masih rendah hingga pemasaran yang masih menjadi kendala.

Edukasi menjadi penting dilakukan kepada perajin batik, apalagi melihat kompetisi para artistbatik semakin ketat. Melalui edukasi ini, para perajin batik dapat bersaing dalam industri kreatif dan karyanya dihargai.

Penulis : Azizah Nur Alfi
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro