Membebaskan Indonesia dari Jerat Anemia

Diabetes melitus dan jantung koroner dikenal sebagai dua penyakit yang paling menelan banyak korban di Indonesia. Namun, tak jarang orang abai bahwa sebenarnya ada satu lagi penyakit yang mengkhawatirkan di negara ini. Penyakit itu adalah anemia.nn
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 05 November 2016  |  07:50 WIB
Membebaskan Indonesia dari Jerat Anemia
Wanita mengantuk. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Selama ini, diabetes melitus dan jantung koroner dikenal sebagai dua penyakit yang paling menelan banyak korban di Indonesia. Namun, tak jarang orang abai bahwa sebenarnya ada satu lagi penyakit yang mengkhawatirkan di negara ini. Penyakit itu adalah anemia.

Kebanyakan orang Indonesia biasa menyebut anemia sebagai penyakit ‘kurang darah’. Namun, sebenarnya anemia adalah sebuah kondisi tidak sehat dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari batasan normal berdasarkan pemeriksaan laboratorium.

Hb sendiri adalah zat di dalam sel darah merah (eritrosit) yang fungsinya adalah sebagai pengikat oksigen dan meneruskannya ke seluruh jaringan sel tubuh untuk memfungsikannya.  Hb sendiri tersusun dari perpaduan protein dan zat besi.

Perlu diketahui, ternyata 1 dari 5 penduduk Indonesia berisiko tinggi menderita anemia. Padahal, anemia yang menjangkiti orang pada usia produktif akan berdampak langsung pada penurunan produktivitas sebanyak 20% atau sekitar 6,5 jam kerja per pekan.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan pada 2013, terungkap fakta bahwa 22,7% perempuan usia 13—49 tahun dan 37,1% ibu hamil di Indonesia menderita anemia. Penderita anemia di Indonesia mencapai sekitar 58 juta jiwa.

Terkait fenomena itu, Wakil Ketua Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Yustina Anie Indriastuti menjelaskan anemia dapat menyebabkan penderitanya lebih cepat lelah dan menurun konsentrasinya.

“Karena dia kekurangan oksigen pada jaringan tubuhnya, sehingga mengurangi kemampuan beraktivitas, dan produktivitas pun menurun,” jelasnya di sela-sela seminar Sheat Tanpa Anemia untuk Indonesia yang Lebih Produktif di Pejaten Village Jakarta belum lama ini.

Dia mengungkapkan sebagian besar kasus anemia di Indonesia dipicu oleh defisiensi zat besi. Sebab, makanan berzat besi yang dikonsumsi sebagian besar penduduk Indonesia berasal dari bahan nabati atau dedaunan hijau tua seperti bayam, daun singkong, atau kangkung.

Padahal, zat besi yang didapatkan dari bahan nabati alias tumbuh-tumbuhan lebih sulit diserap oleh tubuh. Akibatnya, rata-rata penduduk Indonesia menyantap kudapan dengan kandungan zat besi yang lebih rendah daripada kebutuhan tubuh.

“Kesadaran masyarakat Indonesia akan kecukupan gizi dari bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari kurang. Terutama makanan  yang mengandung zat besi dari bahan hewani seperti hati, daging spi atau kambing, unggas, dan ikan yang lebih mudah diserap tubuh.”

Untuk mengetahui cara mengatasi anemia, tutur Yustina, pertama-tama kenali terlebih dahulu gejala-gejalanya. Di antaranya adalah 5 L (letih, lesu, lemah, lelah, lalai), sakit kepala, pusing, mata berkunang-kunang, mudah capek, sulit konsentrasi, serta pucat.

Selain itu, ketahuilah faktor-faktor yang membantu peningkatan daya serap zat besi ke dalam darah. Beberapa makanan yang membantu penyerapan zat besi a.l. daging, ikan, unggas, dan vitamin C. Sebaliknya, yang menghambat a.l. teh, susu, kopi, kalsium, fosfor, serat, dan fitat.

PEREMPUAN RENTAN

Pada kesempatan yang sama, Ketua PDGMI Endang L. Achadi menjelaskan anemia lebih rentan terjadi pada kaum Hawa. Sebab, kebutuhan zat besi pada perempuan dapat meningkat drastis pada masa pertumbuhan, menstruasi, dan hamil.

“Perempuan yang anemia saat hamil berisiko tinggi mengalami perdarahan hebat saat melahirkan, dan bayinya akan lahir dengan berat badan rendah. Janin, ibu hamil, bayi, balita, anak usia sekolah, remaja putri, orang dewasa, dan lansia adalah kelompok rentan anemia.”

Dia menambahkan 35% perempuan pekerja di Indonesia mengalami anemia, yang berakibat langsung pada penurunan produktivitas mereka selama hampir 7 jam per pekan. Kondisi itu akan diperparah jika perempuan pekerja tersebut sedang hamil, menyusui, atau punya anak.

“Perempuan butuh lebih banyak asupan zat besi untuk mengimbangi aktivitas profesional dan di rumah. Pola tidur tidak teratur dan kurang istirahat dapat menyebabkan daya tubuh menurun sehingga mudah terjangkit penyakit seperti infeksi,” katanya.

Salah satu perempuan penderita anemia di Indonesia adalah selebritas Mona Ratuliu. Ibu tiga anak itu mengaku dirinya harus rutin mengontrol asupan gizi karena peran gandanya sebagai pekerja sekaligus ibu.

“Salah satu penyebab anemia saya adalah karena kesibukan. Seringkali saya kurang memperhatikan asupan gizi dalam makanan. Salah satunya adalah kecukupan zat besi. Tanpa saya sadari saya mulai mudah lelah, pusing, sulit konsentrasi, dan berkunang-kunang.”

Setelah mengetahui dirinya terjangkit anemia, Mona mengaku telah mengubah kebiasaan makannya dan rutin mengonsumsi suplemen zat besi. “Saya tidak ingin produktivitas menurun. Sebab saya harus bertanggung jawab sebagai ibu, istri, sekaligus pekerja.”

Associate Director Makreting PT Merck Tbk Anie Rachmayani menambahkan untuk memerangi darurat anemia, pihaknya melakukan kampanye Indonesia Bebas Anemia yang diluncurkan pada tahun ini mulai dari Aceh hingga Papua.

“Harus ada upaya edukasi secara konsisten agar masyarakat Indonesia melek anemia dengan harapan agar penyakit tersebut tidak lagi menjadi hambatan bagi peningkatan produktivitas setiap individu,” tegasnya.

Klasifikasi Anemia Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO):


Populasi, dan Kadar Hb (g/dl):
Balita 6—59 bulan, kadar Hb <11,0
Anak 6—11 tahun, kadar Hb <11,5
Ana 12—14 tahun, kadar Hb <12,0
Wanita usia subur & ibu tidak hamil, kadar Hb <12,0
Ibu hamil, kadar Hb <11,0
Laki-laki di atas 15 tahun, kadar Hb <13,0
Sumber: WHO, 2011

Prevalensi Anemia di Indonesia (%):
Laki-laki 13—18 tahun, 12,4
Laki-laki > 15 tahun, 16,6
Perempuan 13—18 tahun, 22,7
Perempuan 15—49 tahun, 22,7
Ibu hamil, 37,1
Sumber: Riskesdas Kemenkes, 2013

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
anemia

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top