Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MICROCINEMA: Menyimak Pergerakan Ruang Tayang Film Alternatif

Para pecinta film selalu menemukan alternatif untuk memperluas akses terhadap tayangan-tayangan menarik, selain yang dipaparkan di gedung-gedung bioskop berkapital besar. Salah satu alternatif itu adalah melalui fasilitas sinema mikro (microcinema).nn
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 15 November 2016  |  17:34 WIB
Microcinema. - Istimewa
Microcinema. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Para pecinta film selalu menemukan alternatif untuk memperluas akses terhadap tayangan-tayangan menarik, selain yang dipaparkan di gedung-gedung bioskop berkapital besar. Salah satu alternatif itu adalah melalui fasilitas sinema mikro (microcinema).

Istilah microcinema pertama kali dicetuskan pendiri Total Mobile Home microCINEMA, Rebecca Barten dan David Sherman, di San Francisco pada 1994. Duo itu menggagas pergerakan untuk memproduksi dan mendistribusikan film-film indieberbujet rendah.

Pada awalnya, terminologi ‘microcinema’ merujuk pada film-film independen berbiaya rendah dengan format DV, video Hi-8, atau video 16 mm. Jadi, bukan merujuk pada tempat alternatif menayangkan film selain di bioskop.

Namun, seiring dengan perkembangan subkultur microcinema, film-film independen berbujet rendah pun mulai diproduksi dengan lebih serius, sehingga banyak dari mereka yang akhirnya berhasil menembus berbagai festival film ternama.

Meledaknya subkultur microcinema itu lantas melahirkan ruang-ruang ekshibisi sejenis teater kecil atau tempat screening guna memutar film-film kreatif berbujet rendah tersebut. Dari sanalah lantas istilah microcinemamulai merujuk pada ruang-ruang alternatif menonton film.

Di Indonesia sendiri, fasilitasmicrocinema sudah cukup banyak bermunculan di kota-kota besar. Di Jakarta, misalnya, ada Kinosaurus, Kineforum, dan Ekshibid. Ada juga jugayang diselenggarakan oleh pusat kebudayaan asing seperti IFI atau Goethe.

Salah satu penyedia jasa bioskop alternatif yang cukup terkenal di Jakarta adalah Ekshibid. Foundersekaligus Managing Director Ekshibid Panji Nandiasa Mukadis menjelaskan saat ini tren sinema mikro di Indonesia sedang menuai masa jayanya.

Begitu banyak penyedia jasa screeningfilm bertebaran. Namun, banyak di antara mereka yang tidak tergarap dengan rapi dan berkualitas. Lantas, bagaimana dia menilai perkembangan tren sinema mikro yang dikelola oleh komunitas atau pihak swasta?

Berikut penuturan Panji:

Sejak kapan Ekshibid didirikan dan bagaimana latar belakangnya?

Kami berawal dari Info Screening, yaitu sebuah perusahaan media yang kontennya berfungsi untuk menginformasikan agenda-agenda pemutaran film alternatif dan festival film di Indonesia melalui berbagaiplatform media sosial.

Karena sudah berkali-kali berpengalaman menggelar acara pemutaran film (screening), pada akhirnya kami memutuskan untuk memisahkan diri menjadi divisi tersendiri dengan brand Ekshibid.

Ekshibid dibentuk pada Februari 2016. Latar belakangnya adalah pertimbangan manajemen bisnis. Jadi agar ada divisi di Info Screening yang khusus menggelar acara-acarascreening film, sedangkan Info Screening-nya sendiri berfungsi menginformasikan agendanya.

Berapa kali dalam sebulan melakukan screening? Bagaimana penentuan jadwalnya?

Jadi, sistem kerja kami adalah melalui kerjasama dengan klien. Contohnya, salah satu klien kami adalah co-working space Conclave di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Nah, biasanya klien kami lah yang menentukan jadwal atau agenda pemutaran film.

Kebanyakan klien meminta agenda pemutaran film diadakan setidaknya dua kali dalam sebulan. Lalu, agenda tersebut diberi nama spesifik, misalnya; Cinema Conclave di Conclave, Sinema Rabu di Paviliun 28, dan sebagainya.

Pada setiap jadwal screening, film yang diputar berbeda-beda dan bermacam-macam. Bisa film pendek, film panjang, film nasional, dan film internasional.

Nah, jenis film apa saja yang masuk kriteria untuk di-screening?

Tidak ada kriteria khusus sih. Selama ada kesempatan untuk memutar film tersebut dan filmnya memiliki konten yang bernilai lebih, dia bisa masuk agenda screening. Tidak harus film indpenden. Bisa juga film mainstreamyang sudah pernah tayang di bioskop besar.

Namun, yang jelas, kami mempertimbangkan sisi value dari film itu sendiri. Kebanyakan sih film yang memiliki nilai estetika yang bagus. Misalnya saja, Surat dari Praha. Meskipun sudah pernah tayang di bioskop, tapi dia punya nilai estetika tersendiri.

Terkadang, kami juga memilih film berdasarkan tema spesifik pada bulan tertentu. Misalnya saja, pada Oktober saat berdekatan dengan momentum Halloween; kami mengagendakan pemutaran film dengan tema-tema horor.

Lalu, contoh lainnya, pada Maret saat berdekatan dengan momentum ajang-ajang awards atau festival film, kami mengagendakan pemutaran film-film yang pernah berprestasi di festival. Misalnya Siti atau NAY.

Bisa juga saat menjelang Festival Film Jerman, kami bekerjasama dengan pihak terkait untuk memutar film-film dari Jerman. Jadi, banyak cara untuk menentukan kriteria film yang akan ditayangkan pada acara screening.

Bicara soal sinema mikro, apa yang membedakannya dengan bioskop konvensional?

Yang paling jelas adalah dari segi penjadwalan. Film-film di bioskop alternatif atau sinema mikro biasanya jadwalnya berbasis program. Misalnya, program Sinema Rabu, program Cinema Conclave, dan sebagainya.

Sementara itu, film-film di bioskop konvensional biasanya jadwalnya reguler. Antara satu bioskop dan lainnya tidak seragam. Ada film yang di satu bioskop sudah tidak diputar lagi, tapi masih tayang di bioskop lain. Tidak tentu berapa lama jadwal tayangnya.

Selain itu, tempat pemutarannya juga lebih fleksibel. Sinema mikro bisa digelar di mana saja; baik di dalam maupun di luar ruangan. Bisa juga sambil lesehan, atau sekadar duduk di kursi seperti ruang kelas.

Perbedaan lainnya dari segi peralatan. Memang ada beberapa penyedia fasilitas sinema mikro yang memiliki peralatan lengkap ala bioskop konvensional. Namun, tidak sedikit juga yang menggunakan layar dan proyektor yang ‘ala kadarnya’.

Apapun bentuknya, sebenarnya keberadaan bioskop-bioskop alternatif ini bukan dimaksudkan untuk melawan pamor bioskop mainstream. Sebab, dari segi pengalaman, kami jelas berbeda dengan bioskop besar.

Namun, kami menawarkan sensasi dan pengalaman yang berbeda kepada penonton. Di sinema mikro, penonton bisa menonton film sambil lesehan dengan suasana yang lebih guyup, terbuka, dan akrab.

Apa manfaat lain yang didapatkan penonton dari sinema mikro?

Manfaat yang paling utama adalah penonton mendapatkan variasi film yang lebih banyak. Pasalnya, kebanyakan sinema mikro menyajikan tayangan yang tidak bisa ditonton di bioskop-bioskop reguler.

Selain itu, bisa tercipta kedekatan antarpenonton di sinema mikro. Sebab, biasanya setelah pemutaran film, kami mengadakan sesi diskusi langsung dengan pembuat film atau orang-orang yang terlibat di dalamnya. Jadi, semacam bedah film.

Siapa saja pangsa penontonnya? Berapa rata-rata jumlah penonton untuk setiap screening?

Selama ini pangsa pasarnya adalah generasi muda antara 22-30 tahun, bahkan ada yang mencapai 40 tahun. Kebanyakan adalah dari kalangan pekerja di Jakarta Selatan. Sebab, biasanya mereka menyempatkan diri menonton film sepulang ngantor.

Masalah jumlah pengunjung bisa bervariasi, tergantung film yang ditayangkan. Kebanyakan penonton Indonesia menyukai film yang sudah punya nama besar atau prestasi di festival film.

Kalau film-film populer seperti itu, biasanya penontonnya bisa mencapai 50 orang. Namun, rata-rata sinema mikro di Jakarta penontonnya berkisar 15-20 orang setiap penayangan. Itu saja sudah bagus.

Bisa dielaborasi lagi, seperti apa jenis film yang paling difavoritkan untuk sinema mikro?

Kalau orang Indonesia biasanya sukanya menonton film-film festival yang sedang ramai dibicarakan. Kalau tahun lalu, misalnya film seperti Siti.Selain itu juga NAY, karena banyak orang yang mengidolakan Djenar Mahesa Ayu.

Satu yang pasti; film-film yang ditayangkan di bioskop alternatif pasti sudah punya pangsa pasarnya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang mencari nilai lebih dari sebuah film komersil.

Dari mana saja mendapatkan material film yang ditayangkan?

Dari banyak sumber. Biasanya kami melakukan kerjasama dengan pihak pemilik film. Entah itu sutradaranya, produsernya, rumah produksinya, atau distributornya. Kami mencoba mencari kontaknya, lalu meminta izin untuk menayangkan filmnya di sinema mikro.

Dari sana, biasanya terjadi kesepakatan seputar kompensasi, donasi atau uang masuk, maupun pembagian hasil. Paling gampang sihkerjasama dengan sutradara filmnya.  Namun, tidak jarang kami juga mencari sendiri materi film yang akan ditayangkan.

Berapa tarif menonton film yang diselenggarakan Ekshibid?

Tarifnya berbeda-beda, tergantung tempat. Sebab, setiap venue pasti memerlukan biaya sewa. Kebanyakanvenue meminta 50% dari total penjualan tiket. Dari perhitungan itu, lantas kami menetapkan besaran tiket masuknya. Namun, rata-rata bioskop alternatif di Jakarta berkisar antara Rp25.000—Rp50.000.

Itu untuk pangsa pasar di Jakarta. Sebab, penonton sinema mikro di Jakarta sudah diedukasi untuk membayar. Kalau untuk di daerah, biasanya ada penyesuaian. Misalnya, membayarnya berdasarkan kesukarelaan.

Selain pemutaran film, ada kegiatan apa saja yang ditawarkan ke pengunjung?

Biasanya kami membuat gimmick-gimmick setelah penayangan film selesai. Namun, yang pasti adalah menggelar bedah film.

Dari bedah film itu, kami turut memperkuat community building dari para penggemar sinema mikro. Jadi, mereka bukan sekadar menonton fillm saja, tapi bisa kenalan dengan pengelola, pembuat film, dan juga antarpenonton.

Jadi, kami lebih menekankan pada pembangunan sense berkomunitasnya. Jika pembangunan komunitasnya sudah matang, maka geliat penonton sinema mikro atau bioskop alternatif akan terus bergairah dan akan selalu ramai.

Apakah sinema mikro ini bersifatprofit oriented? Jika ya, berapa omzetnya?

Omzetnya sih masih terbilang kecil. Bahkan, terkadang masih belum bisa menuai profit karena kami masih melakukan banyak pembenahan. Untuk program Cinema Conclave, misalnya, pendapatan kotor kami hanya sekitar Rp600.000 per dua kaliscreening sebulan.

Kalau begitu, lantas apa tujuan idealis dari sinema mikro ini?

Pada dasarnya, kami menyadari bahwa film Indonesia masih belum benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Meskipun beberapa tahun belakangan geliatnya mulai bangkit.

Nah, dari sana kami ingin memberikan tempat untuk pemutaran film-film nasional, entah film pendek atau panjang. Banyak sekali film-film nasional berkualitas yang tidak bisa tayang di bioskop karena dia tidak diproduksi oleh perseroan terbatas (PT) atau rumah produksi.

Padahal, yang punya karya-karya bagus bukan cuma dari produser-produser besar. Nah, kami ingin karya-karya dari komunitas juga bisa dilihat. Kami ingin memberi wadah untuk semua lini film nasional, supaya jangan sampai Indonesia krisis film lagi.

Selain itu, sinema mikro ini juga bisa menjadi alternatif jalur distribusi dari insan-insan perfilman. Kami juga ingin memperkaya variasi tontonan kepada para penonton, agar mereka dapat menikmati tayangan yang lebih beragam.

Apa tantangan dari mengelola penayangan film di sinema mikro?

Kebanyakan tantangannya adalah dari segi sumber daya manusia. Kebanyakan pengelola sinema mikro kekurangan sumber daya manusia, baik itu programmer filmnya, humasnya, publikasinya, dan sebagainya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan sinema mikro di Indonesia?

Perkembangan sinema mikro di Indonesia saat ini sudah bagus. Ada upaya untuk memasyarakatkan film. Mereka tidak sekadar bicara bisnis, tetapi lebih pada membudayakan nonton film di kalangan masyarakat.

Ketika nonton film sudah menjadi sebuah budaya, praktis industrinya pun akan terbangun dengan baik. Nah,bioskop alternatif atau bioskop-bioskop yang baru bermunculan lainnya ingin mencoba membudayakan menonton film.

Bagaimana pula prospeknya ke depan?

Ke depannya bisa saja cerah. Namun, ada hal yang perlu diawasi. Saat ini, jumlah sinema mikro atau bioskop alternatif semakin banyak. Alangkah baiknya jika mereka tidak sekadar memikirkan ekspansi semata, tetapi juga meningkatkan kualitasnya.

Kami, misalnya, ketimbang mengembangkan lebih banyak layar, kami ingin menstabilkan terlebih dahulu yang sudah ada. Bioskop-bioskop alternatif yang sudah berdiri ini harus dikuatkan terlebih dahulu.

Ibarat bisnis startup, bioskop alternatif/sinema mikro terus bermunculan. Dengan demikian, potensi bubble-nya pun kian membesar. Jadi, sebelum bubble itu meletus dan akhirnya tren sinema mikro ini malah jadi runtuh, lebih baik kelola dengan baik yang sudah ada.

Kalau terlalu banyak bioskop alternatif bermunculan, tetapi komunitasnya tidak dibangun, publikasinya tidak jalan, sistemnya tidak memadai; nanti lama-lama bisnisnya bisa sepi, tidak berjalan dengan baik, dan akhirnya runtuh.

Ke depan, untuk lebih memperkuat eksistensi bioskop alternatif ini, ada baiknya para pengelolanya mulai merambah ke ranah teknologi digital. Mungkin programnya bisa disinkronkan dengan ruang alternatif seperti video on demand (VOD).

Pada intinya, kalau mau prospek bioskop alternatif lebih cerah, jangan hanya memikirkan masalah idealismenya saja. Jangan sekadar bikin banyak layar atau ruang pemutaran film di mana-mana, tapi kelola juga dari segi manajemen bisnisnya dengan baik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

film
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top