Benarkah Vape Merangsang Kecanduan Rokok?

Perang untuk memberangus konsumsi rokok di berbagai penjuru dunia tak henti-hentinya dipacu. Salah satunya adalah dengan menciptakan produk untuk mengurangi ketergantungan terhadap tembakau seperti rokok elektrik (e-cigarette). Saat ini, generasi terbaru dari rokok elektrik yang sedang naik daun adalah vape. Dengan menggunakan sistem penguapan untuk menghasilkan asap putih, alat inimenarik banyak penggemar dari kalangan generasi muda karena bisa dinikmati dengan berbagai varian rasa.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 16 Desember 2017  |  14:13 WIB
Benarkah Vape Merangsang Kecanduan Rokok?
Vape - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Perang untuk memberangus konsumsi rokok di berbagai penjuru dunia tak henti-hentinya dipacu. Salah satunya adalah dengan menciptakan produk untuk mengurangi ketergantungan terhadap tembakau seperti rokok elektrik (e-cigarette).

Saat ini, generasi terbaru dari rokok elektrik yang sedang naik daun adalah vape. Dengan menggunakan sistem penguapan untuk menghasilkan asap putih, alat inimenarik banyak penggemar dari kalangan generasi muda karena bisa dinikmati dengan berbagai varian rasa.

Sayangnya, dalam perkembangannya, vape menimbulkan kontroversi tersendiri. Sebagian kalangan menilai piranti tersebut acapkali justru digunakan sebagai alat bantu memasukkan nikotin ke dalam tubuh, alih-alih sebagai instrumen terapi berhenti merokok.

Bagaimanapun, sebuah studi kesehatan terbesar di Inggris belum lama ini mementahkan anggapan itu. Studi dihelat selama 2015—2017 terhadap lebih dari 60.000 remaja usia 11—16 tahun. Hasilnya? Terbukti, vaping tak memicu kebiasaan merokok di kalangan remaja.

Penelitian yang terdiri atas lima tahapan survei berskala masif tersebut merupakan hasil kolaborasi antara UK Centre for Tobacco and Alcohol Studies, Public Health England, Action on Smoking and Health, dan DECIPHer Centre University of Cardiff.

Temuan yang didapatkan dari survei itu menunjukkan pola yang konsisten, yakni; mayoritas remaja yang baru coba-coba vaping tidak tertarik menggunakannya secara reguler. Pada saat bersamaan, angka konsumsi rokok di kalangan generasi muda terpantau semakin turun.

Dari total remaja yang disurvei, kurang dari 3% di antaranya mengaku mengonsumsi vape secara reguler setidaknya sekali dalam sepekan, dan sebagian besar dari mereka sejak awal adalah perokok. Sementara itu, kurang dari 1% yang mengaku tidak pernah merokok.

Kepala studi tersebut, Mark Conner dari University of Leeds, mengatakan riset yang dilakukan timnya membuktikan bahwa tidak ada keterkaitan langsung antara konsumsi rokok elektrik dengan kecenderungan beralih ke rokok tembakau.

Buktinya, angka merokok di kalangan remaja di Inggris semakin menurun dari waktu ke waktu seiring dengan kian populernya penggunaan rokok elektrik. “Jadi anggapan bahwa mengonsumsi rokok elektrik dapat merangsang kecanduan rokok tidaklah terbukti,” ujarnya dikutip Reuters.

Linda Bauld, profesor Kebijakan Kesehatan dari University of Stirling, menambahkan kebanyakan penelitian tentang rokok elektrik yang sudah ada sebelumnya berusaha menghubung-hubungkan keterkaitan antara konsumsi vape dengan kecenderungan merokok.

“Namun analisis yang didapatkan dari survei kami terhadap ribuan pemuda Inggris membuktikan dengan jelas bahwa remaja yang sejak awal tidak merokok, tidak lantas berubah menjadi perokok [tembakau] setelah mengonsumsi rokok elektrik,” tegasnya.

Senada, CEO Action on Smoking and Health (ASH) Deborah Arnott berpendapat para remaja yang mengonsumsi rokok elektrik mengaku tidak tertarik mencoba mengonsumsi rokok. Terbukti, angka perokok tembakau di Inggris terus merosot.

“Kalau memang mengonsumsi rokok elektrik menyebabkan seseorang mencoba merokok, maka fakta bahwa angka perokok di kalangan remaja Inggris terus menurun perlu direvisi. Sudah terbukti bahwa itu tidak terjadi. Saat ini, angka remaja perokok di Inggris mencapai rekor terendah dalam sejarah.”

Untuk berhenti merokok sebenarnya dapat menggunakan terapi pengganti nikotin (nicotine replacement theraphy/NRT). Rokok elektrik termasuk ke dalam kategori ini. Namun, jika ingin benar-benar memanfaatkan rokok elektrik, ada beberapa hal yang perlu dipahami.

Pertama, penggunaannya harus di bawah pengawasan tenaga medis. Kedua, dosis nikotin pada terapi NRT harus diatur ke level terendah. Ketiga, penggunaan terapi ini harus dibatasi oleh waktu, biasanya sekitar 3 bulan.

Manager Kebijakan Tembakau di Public Health England, Martin Dockrell, menjelaskan hasil studi terbaru tersebut mengindikasikan perlunya sistem regulasi untuk memproteksi anak-anak dan remaja, sekaligus memastikan orang dewasa memiliki akses terhadap produk nikotin yang aman untuk membantu mereka berhenti merokok.

“Ketimbang melarang penggunaan rokok elektrik, kebijakan yang perlu diambil misalnya adalah menetapkan batasan minimum usia untuk membeli rokok, restriksi pemasaran rokok yang ketat, dan menetapkan standar kualitas dan keamanan yang komprehensif,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Dirketur DECIPHer Centre University of Cardiff, Graham Moore, beranggapan survei tersebut menunjukkan tingginya konsumsi rokok elektrik di kalangan generasi muda di Inggris dalam beberapa tahun terakhir.

Kendati demikian, tren konsumsi rokok elektrik tidak berlanjut menjadi sebuah kebiasaan baru di kalangan remaja yang bukan perokok. “Sehingga kekhawatiran bahwa rokok elektrik akan menyebabkan anak muda kecanduan tembakau rasanya tidak masuk akal,” tegasnya.

Nah, para ahli kenamaan saja sudah berbicara berlandaskan fakta dan bukti ilmiah. Dengan tegas mereka memastikan penggunaan rokok elektrik tidak akan merangsang seseorang kecanduan rokok tembakau. Jadi, masih khawatirkah?

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri rokok

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top