Black Panther Jadi Topik Tren di Media Sosial

Sepekan jelang premier Black Panther, jagat maya dibanjiri oleh review dini dari para kritikus dan situs-situs perfilman kenamaan. Black Panther pun menjadi topik tren di media sosial, dan memecahkan rekor sebagai film yang paling banyak dikicaukan di Twitter pada 2018 (sejauh ini).
Ilman A. Sudarwan & Wike D. Herlinda | 17 Februari 2018 11:03 WIB
Film 'Black Panther' - Istimewa

Sepekan jelang premier Black Panther, jagat maya dibanjiri oleh review dini dari para kritikus dan situs-situs perfilman kenamaan. Black Panther pun menjadi topik tren di media sosial, dan memecahkan rekor sebagai film yang paling banyak dikicaukan di Twitter pada 2018 (sejauh ini).

Faktor utama yang membuat film ke-18 dari seri Marvel Cinematic Universe (MCU) ini menjadi buah bibir adalah karena kemunculan harapan baru bahwa Hollywood tidak lagi meminggirkan kaum minoritas selain kulit putih dalam film produksi besarnya.

Black Panther juga dianggap sebagai ‘surat cinta’ dari Hollywood sekaligus permintaan maaf atas kesalahan mengabaikan aspek diversitas selama berdekade-dekade. Film ini mendadak menjadi sebuah cult dan simbolisasi atas pergerakan African Price dan era baru industri film Amerika.  

“Marvel punya cara untuk mempengaruhi budaya populer. Semoga [film Black Panther] mengubah cara pandang publik tentang Afrika. Sebab, Afrika selama ini hanya digambarkan sebagai tempat yang kelam. Sekarang, mari kita lihat Afrika sebagai tempat yang ingin kita kunjungi,” tutur aktris Lupita Nyong’o yang berperan sebagai Nakia, dikutip dari Reuters.

Sementara itu, aktor utama Chadwick Boseman mengatakan sangat jarang ada film mainstream yang menayangkan dua atau lebih orang kulit hitam yang memerankan tokoh utama yang penting. “Di Ocean’s Eleven, misalnya, hanya ada Brad Pitt, Mad Damon, dan George Clooney. Kami [orang kulit hitam] merasa, ‘Mengapa itu tidak pernah terjadi pada kami?’,” ujarnya.

Harapan yang besar tertanggung di pundak tim Black Panther untuk menjadikan film ini sebagai benchmark perubahan era penuh toleransi di Hollywood. Film ini akan dijadikan pembuktian bahwa tokoh utama selain kulit putih pun mampu menghasilkan uang.

Tidak hanya itu, film ini juga membuka presepsi publik tentang Afrika; bahwasannya benua tersebut juga menarik untuk digarap sebagai latar film fiksi sains dengan pemandangan futuristik dan metropolis modern, tetapi tidak menanggalkan unsur tribal dan aksen khas setempat.

“Estetika dari film ini begitu indah dipandang dan juga sangat Afro-centric, serta menunjukkan Afrika dalam balutan dunia modern dan futuristik. Seluruh penggambaran ini sangat penting untuk mengubah citra Afrika, khususnya bagi generasi muda,” kata Angela Bassett yang berperan sebagai Ibu T’Challa.

Kritikus film Yan Wijaya mengapresiasi langkah tim produksi film ini mengangkat kesetaraan rasial di Amerika Serikat.

"Film ini adalah bagian dari pergerakan yang sedang terjadi dalam beberapa tahun ke belakang. Sebenarnya, puncaknya saat mereka [rakyat Amerika Serikat] memiliki presiden kulit hitam pertama, yakni Obama [Barak Obama] pada 2008. Jadi film ini didahului peristiwa lain terlebih dahulu,” jelasnya.

Yan menilai, alur cerita yang  menggambarkan perjuangan T’Challa yang diperankan oleh aktor Chadwick Boseman untuk dinilai layak menjadi Raja, dan kesetaraan perilaku kepada perempuan yang dicerminkan melalui karakter Nakia (aktris Lupita Nyong’O), seperti meruntuhkan pandangan kurang baik kepada masyarakat afro amerika.

Tag : film, film hollywood
Editor : Diena Lestari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top