Era Digital, jadi Peluang Sekaligus Tantangan untuk Komikus

Memasuki dunia digital para penggambar komik konvensional yang sebelumnya bermain dalam format cetakan pun semakin tersisih. Ikut ke dalam alur berkarya yang baru menjadi sebuah kewajiban bagi para komikus yang ingin bertahan.
Ilman A. Sudarwan | 10 Maret 2018 15:10 WIB
Beng Rahadian - youtube

Bisnis.com, JAKARTA - Memasuki dunia digital para penggambar komik konvensional yang sebelumnya bermain dalam format cetakan pun semakin tersisih. Ikut ke dalam alur berkarya yang baru menjadi sebuah kewajiban bagi para komikus yang ingin bertahan.

Beng Rahadian, salah satu komikus senior Indonesia pun mulai pikir-pikir untuk ikut terjun ke dunia komik digital. Suka tidak suka, dia mengakui akan berpindah ke media digital untuk tetap eksis sebagai komikus.

"Komik digital itu jelas itu masa depan, kita semua harus menyesuakan diri ke arah sana, termasuk aku sendiri. Aku sendiri sekarang sedang dalam fase istirahat untuk kemudian come back nanti masuk ke fase digital," katanya.

Dia mengatakan bahwa saat ini kesempatan bagi komikus untuk tetap berkarya dalam format cetak sudah semakin sulit karena harga kertas sudah semakin tinggi, dan jumlah pembelinya semakin menurun. Kalaupun masih ingin berkarya dalam format cetak, menurut Beng, komikus harus menerapkannya hanya untuk mengeluarkan karya dalam edisi terbatas saja.

Sementara itu, di dunia digital sendiri, menurutnya masa depan berkarya para komikus akan lebih jelas. Dia melihat bahwa tersedianya berbagai platform komik digital saat ini justru menjadi peluang tersendiri.

"Ada web toon misalnya, sayangnya itu kan punya Korea Selatan. Nah, aplikasi seperti itu, seharusnya kita juga yang bermain di situ. Kita harus membuat platformnya sendiri yang nanti akan diisi oleh orang Indonesia, lebih bagus lagi kalau bisa diisi oleh orang luar negeri," jelasnya.

Meski begitu, dia mengatakan bahwa sebenarnya saat ini sudah ada beberapa digital yang dimiliki oleh orang Indonesia, salah satunya adalah Ciayo Comics. Selain itu, dia berpendapat media sosial seperti instagram juga bisa turut menjadi wadah berkarya para komikus yang baru.

"Bagus menurut saya. Instagram juga bisa berguna sekali, dari suka-suka sampai yang berbayar. Pokoknya lakukan semua yang bisa membuat komik kita semakin dikenal," katanya.

Namun, menurutnya kehadiran platform dan media baru ini juga memberikan tantangan terendiri bagi para komikus. Karakteristik pembaca dan media tersebut mengharuskan komikus membuat komik yang lebih singkat dan padat.

"Instagram paling banyak kalau kita unggah banyak foto, itu juga maksimal hanya 10 frame, jadi anak-anak terbiasa bikin komik yang pendek. Yang jalan ceritanya singkat, kita bisa sebut sebagai komik strip. Jadinya cerita-ceritanya sangat sederhana, menyederhanakan, dan mereka tidak terlatih untuk membuat komik dengan cerita panjang."

Tag : komik
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top