Tekan Jumlah Perokok, Perlu Produk Tembakau Alternatif

Sudah saatnya Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok ketiga terbesar di dunia mempertimbangkan produk tembakau alternatif sebagai inovasi dan solusi untuk menurunkan jumlah perokok dan menyelamatkan jutaan jiwa.
Ema Sukarelawanto | 20 April 2018 11:02 WIB
Buruh mengangkat daun tembakau kering untuk disortir di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Praya, Lombok Tengah,NTB, Kamis (7/9). - ANTARA/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, DENPASAR—Sudah saatnya Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok ketiga terbesar di dunia mempertimbangkan produk tembakau alternatif sebagai inovasi dan solusi untuk menurunkan jumlah perokok dan menyelamatkan jutaan jiwa.

Dewan Penasihat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Jawa Barat Ardini Raksanagara
mengatakan sudah ada banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko lebih rendah.

Ia menyebut ada Inggris, Selandia Baru, Rusia, Cina dan sekarang diperkuat oleh penelitian Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA) yang merupakan lembaga paling ketat dalam peraturan.

“Hasil penelitian tersebut bukan main-main, ini ada dasar ilmiahnya dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya, dikutip dari rilis, Jumat (20/4/2018).

Menurut Ardini yang juga pengajar di Departemen Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran itu, kini menunggu pemerintah sebagai regulator untuk melihat dan mempelajari secara seksama inovasi dari produk tembakau alternatif.

Akan lebih baik lagi jika dilakukan pula penelitian di Indonesia untuk mengetahui hasilnya secara lebih jelas lagi, sehingga kemudian dapat merumuskan kebijakan yang terarah.

Ardini memaparkan ada puluhan jiwa yang harus diselamatkan segera dari asap rokok. Tidak hanya nyawa, pemerintah pun dapat terkurangi bebannya dalam pengeluaran biaya pengobatan untuk perokok yang jumlahnya sangat besar setiap tahunnya.

“Inovasi terkadang memang sulit untuk dapat langsung diterima. Tetapi saya yakin dengan dukungan semua pihak yang diperkuat dengan hasil-hasil penelitian yang membuktikan produk ini lebih rendah risiko, saya berharap pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap potensi ini dan mau membuka diri untuk mempelajari potensi ini,” ujarnya.

Ardini menyampaikan hal tersebut menanggapi penelitian FDA tentang potensi manfaat ataupun kerugian yang dibawa oleh produk tembakau yang dipanaskan.

Scott Gottlieb, Komisaris FDA, menyatakan FDA akan terus menjalankan rencananya dalam meregulasi level nikotin dari berbagai rokok konvensional dan meminimalisir jumlah zat adiktif dengan tujuan untuk membuat perokok berpindah dari produk rokok konvensional ke produk yang lebih rendah risiko.

“Kami tahu akan ada perokok dewasa yang masih membutuhkan akses terhadap nikotin. Jika kita hanya akan berfokus untuk mengurangi kadar nikotin sampai minimial atau tidak menjadi adiktif, maka darimana mereka akan mendapatkan akses ke nikotin yang dibutuhkan?” tanya Gottlieb.

Gottlieb juga mengakui bahwa produk berisiko rendah seperti produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dan rokok elektrik merupakan produk tembakau alternatif yang memiliki peran penting.

Dia juga menekankan bahwa rute yang paling menguntungkan adalah dengan beralih ke produk kesehatan pengganti nikotin, seperti nikotin tempel dan permen karet.

Namun, ia melihat ada kesempatan dari produk elektronik pengantar nikotin dan rokok elektrik yang mempunyai potensi sebagai alat pengantar yang layak untuk orang dewasa yang ingin mengakses nikotin.

FDA sejak tahun lalu juga mengumumkan rencana komprehensif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dengan membuat non-perokok untuk tidak merokok, serta membuat perokok dewasa memiliki akses ke produk yang lebih rendah risiko.

Tidak hanya FDA, Komite Toksisitas Inggris Raya dan Pusat Pengawasan dan Uji Tembakau Nasional Cina yang juga merupakan anggota dari Jaringan Laboratorium Tembakau WHO menunjukkan bahwa produk tembakau alternatif yang menerapkan konsep Heat not Burn secara substansial mengurangi pembentukan senyawa berbahaya atau berpotensi 50-90% lebih rendah bahaya dibandingkan dengan rokok konvensional.

Tag : tembakau, perokok
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top