Seluk-Beluk Stroke, Begini Penanganan yang Benar

Strok adalah manifestasi klinik atau bentuk gejala penyakit, gambaran yang terlihat, yang timbulnya cepat, baik melibatkan organ otak, organ retina mata, maupun organ sumsum tulang belakang. Strok berlangsung lebih dari 24 jam dan dapat menimbulkan kematian dengan faktor penyebab gangguan pembuluh darah.
Yoseph Pencawan | 20 April 2018 13:15 WIB
Stroke - webmd.com

Strok adalah manifestasi klinik atau bentuk gejala penyakit, gambaran yang terlihat, yang timbulnya cepat, baik melibatkan organ otak, organ retina mata, maupun organ sumsum tulang belakang. Strok berlangsung lebih dari 24 jam dan dapat menimbulkan kematian dengan faktor penyebab gangguan pembuluh darah.

“Yang tadinya bisa jalan, tiba-tiba enggak bisa jalan. Yang tadinya bisa ngomong, tiba-tiba enggak bisa ngomong. Kenali strok itu dengan lihat wajahnya, miring sebelah atau tidak. Lihat tangannya, lemas nggak. lihat bicaranya, cadel nggak,” kata Salim Harris, Ketua Kelompok Studi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi).

Masyarakat perlu mengetahui bahwa yang bermanifestasi kronis pada penyakit strok itu adalah gejala atau sisanya. Strok adalah penyakit hiper-akut sehingga semakin cepat dibawa ke rumah sakit, semakin baik pula hasil penanganannya.

Salim menjelaskan, strok bisa melibatkan gangguan pembuluh darah arteri dan bisa juga melibatkan gangguan pembuluh darah vena. Namun pada umumnya kasus strok di Indonesia terjadi akibat gangguan pembuluh darah arteri.

Strok akibat pembuluh darah arteri pun terbagi dua, yakni strok sumbatan dan strok berdarah. Strok berdarah terdiri dari dua jenis, yaitu strok berdarah di dalam rongga sub-aranoid dan di dalam otak (intra selebral). Strok berdarah di dalam rongga sub-aranoid bukan terjadi di otak, tetapi di dalam kepala, rongga antara selaput otak dengan otak.

Menghadapi kondisi ini, dokter akan mengambil tindakan membuat stabilisasi perdarahan agar berhenti. Bila terjadi komplikasi akut berupa perdarahan berulang, maka dokter akan mengatasinya dengan cara menurunkan tensi darah.

Apabila saat kondisi itu terjadi penderita langsung dibawa ke rumah sakit, maka dilakukan CT-angio untuk melihat ada tidaknya kondisi aneurisma.

Pecahnya aneurisma harus disumbat, ditutup, dan dalam fase akut sebelum hari keempat, dilakukan DSA. Lubang dari kantung aneurisma ditutup dengan koil (DSA coiling). Setelah disumbat, pasien akan lebih aman karena tekanan darah bisa diturunkan lebih rendah lagi.

Komplikasi kedua yaitu pembengkakan otak yang biasanya terjadi dalam 24 jam, yaitu penderita strok tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran. Kondisi ini perlu dilakukan foto ulang CT-scan karena ada kemungkinan terjadi juga komplikasi ketiga, yaitu penyumbatan aliran cairan otak.

“Kalau memang terjadi juga penyumbatan maka dilakukan operasi pemasangan santing yang menghubungkan antara bagian kantung di otak ke perut atau keluar untuk sementara, yang selanjutnya dimasukkan ke perut,” kata Salim.

Tindakan ini, menurut Salim, dilakukan untuk memberikan aliran, agar jangan sampai ada penyumbatan yang dapat membuat otak tertekan. Bila perdarahan ini menimbulkan bengkak otak, maka diberikan obat bengkak otak dan jika tidak berhasil, maka dilakukan operasi kraniektomi dekompresi. Caranya, tulang kepala dibuka, diangkat dan bagian otak hanya tertutup dengan kulit.

Pada hari keempat sampai ke-10 risiko yang bisa terjadi adalah penyempitan pembuluh darah sehingga timbul kerusakan otak yang disebut dengan delayed selebral ischemic (DSI).

Sementara itu, strok sumbatan yakni terjadinya penyumbatan aliran darah pada pembuluh darah besar, pembuluh darah sedang, atau pembuluh darah halus.

Penyebabnya bisa berupa bekuan darah yang ada di dinding (trombus). Begitu juga bekuan daerah yang ada di dinding maupun di jantung yang terlepas dan menyumbat pembuluh darah yang ukurannya lebih kecil dari bekuan tersebut (emboli).

“Tiba-tiba pasien mengeluh sakit kepala, kemudian timbul gejala kelumpuhan, begitu difoto CT-scan, ada perdarahan otak. Dalam kondisi ini tidak boleh obat pengencer darah tetapi untuk menahan tekanan darah.”

Dalam kondisi tersebut, menurutnya pasien harus diobservasi terus-menerus dan apabila perdarahan membesar maka dilakukan kraniektomi dekompresi sampai dengan darah sudah terserap oleh tubuh.

 

Aliran Darah

Selain itu, dapat terjadi juga kondisi strok akibat adanya gangguan aliran darah ke otak. Untuk diketahui, kata Salim Harris, otak membutuhkan aliran darah 50 cc – 60 cc per 100 gram berat otak per menit. Bila otak memiliki berat 1.200 gram berarti membutuhkan sekitar 600 cc – 720 cc.

Jika ada orang mengalami penurunan denyut nadi, yang normalnya 70 kali, tiba-tiba turun menjadi 40 kali, aliran darah ke otak juga akan menurun sehingga tidak membawa darah dengan jumlah normal.

“Ini adalah gangguan aliran darah perkusi. Atau tiba-tiba orang tersebut tekanan darahnya turun, dari 120 tiba-tiba turun menjadi 60. Ini juga mengganggu aliran, sehingga timbul daerah otak yang mengalami gangguan aliran, baik itu bersifat setempat maupun secara menyeluruh.”

Pasien harus datang ke dokter strok yang mempunyai CT-brain. Pasien strok hanya bisa diobati oleh rumah sakit yang mempunyai CT-scan karena perdarahan kecil akan sama gejalanya dengan strok sumbatan, sedangkan pengobatannya berbeda.

Apabil setelah dilakukan tindakan tersebut di atas keberhasilannya belum maksimal, maka pasien didorong ke kamar dan dilakukan tindakan Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk trombektomi.

DSA dilakukan untuk mengambil bekuan darah yang ada agar pasien dapat terlepas dari kondisi sumbatan trombus maupun emboli, tetapi tindakan ini bukan untuk gangguan perkusi.

Penanganan gangguan perkusi karena denyut menurun dilakukan dengan pemasangan pacemaker. “Kalau tensinya menurun, dinaikkan. Itu pengobatan strok.”

Namun, bagaimanapun bentuk penanganannya, bagi Salim Harris, hal yang terpenting dari ancaman strok adalah pencegahan. Dia memastikan bahwa strok adalah penyakit yang bisa dicegah.

Salah satunya dengan mengobati faktor risiko strok, yaitu penyakit kronik, misalnya hipertensi, kencing manis dan kebiasaan kronik seperti merokok. Jangan lupa olahraga.

“Berolahraga tidak bisa tidak. Obat yang paling manjur mengobati seluruh penyakit cuma satu, olahraga. Olahraga yang mempunyai kesinambungan, misalnya treatmil, jalan kaki 40 menit,” jelasnya.

Tag : hidup sehat
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top