Untung Rugi Ibu Bekerja bagi Perkembangan Anak

Lebih lanjut Nyi Mas Diane mengatakan, suami dan istri yang keduanya bekerja juga cenderung lebih sering mengalami pertengkaran dalam keluarga sehingga akan mempengaruhi anak-anak juga. Kondisi tersebut akan merusakan kepercayaan diri seorang anak, mereka merasa tidak aman.
Yoseph Pencawan | 28 April 2018 09:09 WIB
Ilustrasi - imgkid

Zaman sekarang sudah tidak ada lagi perbedaan peran perempuan dan pria pada berbagai aspek kehidupan sosial, termasuk dalam membina rumah tangga. Domestifikasi perempuan tidak lagi relevan.

Namun, sering perempuan yang berumah tangga dan punya anak memutuskan meniti karier, mereka mengalami dilema karena peran ganda yang harus ditanggung.

Kendati demikian,perempuan secara psikologis lebih dekat dengan anak, sehingga aktivitas ibu meniti karier dapat berdampak terhadap tumbuh kembang sang buah hatinya.

Pasalnya, ibu yang menjadi wanita karier terkadang meluapkan persoalan dan emosi atas kesulitan pekerjaan kepada anak di rumah. Energi ibu habis terkuras di kantor atau tempat pekerjaan dan di rumah hanya tinggal sisa energi yang dikeluarkan dengan marah.

“Ibu yang meluapkan emosinya dari kantor saat sedang di rumah, menurut saya itu tidak fair bagi anak,” ujar Nyi Mas Diane, Ketua Koordinator Bidang Pengembangan Sumber Daya Yayasan Bhakti Asdiraa.

Menurutnya, setelah seharian sibuk di tempat pekerjaan, biasanya ibu akan sulit mendengarkan keluhan-keluhan anaknya dan menjadi orang tua yang ‘weekend’, alias hanya meluangkan waktu dan perhatian hanya saat libur di akhir pekan. Dalam kondisi tersebut anak berpeluang mencari perhatian ke tempat lain yang cenderung memberi contoh buruk bagi perkembangan emosinya.

Misalnya, karena merasa bersalah terlalu banyak menghabiskan waktu di luar, orang tua memberikan sarana permainan dalam bentuk apapun, seperti gawai atau gadget atau gim digital lain serta kebebasan yang luas kepada anak untuk menggunakannya.

Namun dengan begitu, tercipta kondisi tidak adanya komunikasi di dalam keluarga. Apalagi bila orang tua juga sibuk dengan gawainya saat sedang berada di rumah.

Menurut psikolog Ihsan Gumilar, penggunaan gawai saat bersama keluarga secara berlebihan dapat mengakibatkan anak akan merasa kesepian, merasa sendiri dan berpotensi akan lebih mementingkan urusannya sendiri.

Dalam kondisi ini, jarak relasi antara anak dengan orang tua akan melebar sehingga mereka tidak dapat merasakan kehangatan dan kebersamaaan di dalam keluarga.

Anak juga berpotensi mencari ulah untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya, dan bisa juga pergi tanpa diketahui oleh orang tua yang lebih sibuk dengan gawainya.

Lebih lanjut Nyi Mas Diane mengatakan, suami dan istri yang keduanya bekerja juga cenderung lebih sering mengalami pertengkaran dalam keluarga sehingga akan mempengaruhi anak-anak juga. Kondisi tersebut akan merusakan kepercayaan diri seorang anak, mereka merasa tidak aman.

“Orang tua yang baik adalah orang tua yang memahami posisinya sebagai orang tua. Mengetahui tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Melindungi, memberikan pendidikan, mencegah pernikahan dini, menumbuhkembangkan bakat dan minat serta karakter anak dan sebagainya.”

Karena itu, opsi apapun yang menjadi pilihan orang tua, seperti keputusan sang ibu untuk bekerja di luar, pastikan kebutuhan dan kepentingan anak selalu menjadi prioritas.

Namun, menurut psikolog yang juga sebagai parenting motivational itu, ibu yang sibuk bekerja di luar sehingga tidak memiliki waktu banyak mendampingi anak di rumah juga memiliki dampak positif kepada si buah hati.

INSPIRASI ANAK

Seorang ibu yang bekerja serta mempunyai prestasi dan kepuasan dalam berkarier bisa menjadi contoh baik bagi anak-anaknya. Anak-anak yang sudah cukup besar akan mendapat inspirasi dari ibunya bagaimana meraih mimpi dan ambisi.

Seorang ibu yang bekerja cenderung bisa mengajari anak perempuannya untuk meraih apa yang dia inginkan. Ibu yang bekerja juga bisa membuat anak-anaknya lebih mandiri karena setiap hari harus berjauhan dari orang tuanya dan cenderung bisa mempersiapkan anak-anaknya dalam menghadapi kehidupan nyata.

“Menjadi tidak manja, memiliki kecerdasan dan ketahanan dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri,” katanya.

Kadang ada ibu saat melihat anaknya memakai tali sepatu mengeluh terlalu lama dan karena ingin cepat malah mengikatkan tali sepatunya anaknya. Anak tidak diajarkan bagaimana memiliki ketahanan karena ketika mengalami sedikit persoalan selalu dibantu. Bagi ibu yang bekerja di luar, hal itu jarang dilakukan karena memiliki sedikit waktu di rumah.

Anak-anak yang memiliki ibu bekerja di luar bisa terdidik bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, sedangkan mereka yang setiap hari didampingi ibunya di rumah selalu diperhatikan sehingga cenderung memiliki ketergantungan.

Selain itu, pendapatan dari kedua orang tua yang bekerja akan membuat anak cenderung lebih bahagia, lebih makmur dan di sekolah menjadi lebih baik karena memiliki emosi lebih positif.

Namun, pastikan si buah hati akan tetap mendapat perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkannya. Meskipun sibuk bekerja di luar, orang tua harus tetap sering berkomunikasi, memberikan perhatian dan menjadi bagian dari keseharian anak.

Bila si ibu merasa letih setelah pulang bekerja, tidak perlu menyatakan keletihannya kepada anak karena mereka akan merasa tidak dihargai atau tidak terlalu dipentingkan dibandingkan dengan pekerjaan orang tuanya. Begitu juga bila si anak melakukan kesalahan, lantas membandingkannya dengan anak lain yang dinilai lebih baik.

“Ngobrollah dengan anak sebisa mungkin, sesibuk apapun orang tua bekerja di luar sana. Ayah dan ibu, keduanya harus terlibat berkomunikasi dengan anak. Jangan jadi orang tua ‘weekend’.”

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
keluarga

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top