Dikemas dengan Koteka, Ini Keistimewaan Lain Kopi Oksibil Papua

Kualitas biji kopi Indonesia tak perlu diragukan lagi. Tidak hanya banyak memenangkan kontes di level internasional, biji kopi Tanah Air juga mendapat permintaan yang banyak dari pasar luar negeri.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 05 Mei 2018  |  10:53 WIB
Dikemas dengan Koteka, Ini Keistimewaan Lain Kopi Oksibil Papua
Ilustrasi petani memeriksa tanaman kopi. - Antara/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kualitas biji kopi Indonesia tak perlu diragukan lagi. Tidak hanya banyak memenangkan kontes di level internasional, biji kopi Tanah Air juga mendapat permintaan yang banyak dari pasar luar negeri.

Kondisi geografis Indonesia yang berupa barisan pegunungan membuat kopi tumbuh baik. Tidak mengherankan jika Indonesia tercatat sebagai pemasok biji kopi ketiga terbesar di dunia setelah Vietnam dan Brazil.

Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa salah satu biji kopi terbaik Indonesia tumbuh di daratan Pegunungan Bintang, tepatnya di Oksibil, Papua. Seorang roaster yang memperoleh sertifikasi dari Speciality Coffee Associaton of America, Hideo Gunawan, pernah mengadakan penjelajahan singkat mengenai kopi Oksibil selama dua pekan pada Februari 2018.

Dia menjelaskan sejumlah keistimewaan kopi Oksibil pada acara konferensi di Alenia Papua Coffee and Kitchen Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (3/5/2018). Acara ini pun dihadiri oleh Bupati Oksibil Costan Otemka.

Berikut adalah lima keistimewaan biji kopi Oksibil, seperti dilansir dari Tempo, Sabtu (5/5):

1. Berjenis Arabica Tipika
Biji kopi Oksibil berjenis Arabica Tipika. Pohon kopi jenis ini bukan merupakan hibrida atau hasil perkawinan.

Ciri-cirinya, jarak antar-dompol buah berjauhan. Ukuran pohonnya pun lebih besar. Ini menunjukkan kualitas varietal kopi lebih baik daripada kopi Arabica pada umumnya.

Pohon kopi Arabica Tipika memiliki usia produktif hingga 30 tahun. Berbeda dengan pohon hibrida yang batas usia produktifnya hanya sampai 11 tahun.

2. Ditanam di ketinggian dan suhu yang ideal
Pohon kopi Oksibil ditanam di ketinggian lebih dari 1.900 meter di atas permukaan laut. Ketinggian itu melampaui rata-rata kopi lainnya yang tumbuh di daratan 1.500 meter di atas permukaan laut.

Suhu di ketinggian itu berkisar 18-23 derajat. Ditilik dari ketinggian dan suhunya, ini merupakan lahan ideal bagi kopi Arabica untuk tumbuh baik.

Makin dingin tempatnya, biji akan makin lama matang dan gizi pada kopi pun makin menumpuk. Proses pematangan yang lamban akan membuat biji-biji memiliki tingkat keasaman yang tinggi. 

3. Proses manual, tapi petani paham cara memperlakukan biji dengan tepat
Segala proses pengelolaan kopi dilakukan secara manual di Oksibil. Mulai pengulitan hingga proses sangrai. Namun, tanpa diedukasi sebelumnya, insting petani untuk memperlakukan biji kopi diklaim sudah tepat.

Misalnya, petani akan memetik biji yang benar-benar sudah merah. Lalu, mereka tak menjemur biji kopi di atas lahan sehingga kualitas tetap terjaga.

4. Panen hampir sepanjang tahun
Meski ada panen raya, biji kopi Oksibil akan terus diproduksi sepanjang tahun.

“Panen per petani itu tidak sama waktunya sehingga kesannya biji kopi Oksibil ada terus,” kata Hideo.

Adapun panen besar biasanya dirayakan tiap Mei. Tiap panen, petani yang masing-masing memiliki 1.000 pohon kopi akan memproduksi 300-600 kilogram biji. 

5. Dikemas unik dengan koteka
Koteka saja sudah unik, apalagi diisi dengan kopi. Kopi Koteka menjadi merek unggulan petani lokal.

Pemerintah setempat tengah menggalakkannya untuk menjadi oleh-oleh dan kini telah dipromosikan ke beberapa negara Eropa serta Australia. Keberadaannya sebagai kopi khas Papua banyak diminati orang asing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
papua, kopi

Sumber : Tempo

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top