Angka Perceraian Meningkat, Ini Penyebab dan Cara Menanganinya

Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung mencatat, pada 2013 angka perceraian di Jawa Timur sebanyak 83.201 perkara, pada 2014 naik menjadi 87.473. Meskipun pada 2015 turun menjadi 87.241, tetapi hingga September 2016 angka perceraian di Jatim sudah mencapai 51.000 perkara.
Yoseph Pencawan | 20 Mei 2018 11:43 WIB
Ilustrasi perceraian - Istimewa

Kasus perceraian di sejumlah daerah di Tanah Air dewasa ini mengalami peningkatan, terutama di daerah-daerah dengan populasi yang besar.

Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung mencatat, pada 2013 angka perceraian di Jawa Timur sebanyak 83.201 perkara, pada 2014 naik menjadi 87.473. Meskipun pada 2015 turun menjadi 87.241, tetapi hingga September 2016 angka perceraian di Jatim sudah mencapai 51.000 perkara.

Kemudian total angka perceraian di Jawa Tengah pada 2013 sebanyak 68.202, kemudian 70.037 perkara pada 2014 dan pada 2015 naik menjadi 71.774. Lalu Jawa Barat pada 2013 memiliki angka perceraian sebanyak 62.184 kasus, pada 2014 naik signifikan mencapai 67.129 perkara, pada 2015 naik lagi menjadi 70.519 perkara.

Di Ibu Kota, meskipun angkanya lebih rendah, tetapi juga mengalami tren yang meningkat. Angka perceraian di Jakarta pada 2013 berjumlah 8.837 kasus, pada 2014 sebanyak 9.731 perkara dan pada 2015 naik menjadi 10.359 kasus.

Psikolog Kemang Medical Care, Rahmi Dahnan, mengungkapkan dari kasus-kasus yang ditanganinya selama ini keinginan perceraian lebih banyak diajukan oleh sang istri.

Secara garis besar, imbuhnya, ada tiga penyebab terbanyak perceraian dewasa ini, yakni perselingkuhan, pendapatan istri yang lebih besar serta suami yang tidak bekerja.

Perkembangan media sosial juga menjadi salah satu pemicu perselingkuhan. Dalam hal ini, suami dan istri memiliki peluang yang sama berselingkuh.

Banyak suami atau istri keluar dari koridor pernikahan dengan menjalin hubungan perasaan dengan wanita atau pria lain setelah berinteraksi di media sosial. Apalagi jika masing-masing pihak tidak memegang aturan agama dengan kuat.

Selain melalui media sosial, salah satu yang paling berpeluang menjadi ‘orang ketiga’ adalah rekan kerja karena bertemu dan bersama setiap hari. Dalam konteks ini, pria memiliki lebih banyak kasus karena wanita biasanya setelah selesai bekerja lebih memilih pulang untuk mengurus rumah dan anak-anak.

Kecenderungan perselingkuhan juga lebih besar bila komunikasi pasangan suami-istri juga tidak berjalan baik. Namun di atas semua kondisi itu, tetap saja pria memiliki kecenderungan lebih besar melakukan perselingkuhan dari wanita.

“Secara agama juga laki-laki kan punya peluang untuk poligami, sedangkan wanita, bukan saja Islam, agama yang lain juga tidak membolehkan wanita memiliki lebih dari satu suami atau poliandri.”

Lebih lanjut, katanya, kasus perceraian dari gugatan sang istri dewasa ini juga kian sering karena semakin besarnya pendapatan atau wanita di dunia pekerjaan. Alhasil, ketika wanita merasa tidak dihormati lagi, mereka menggugat cerai suaminya.

Penyebab perceraian lain adalah akibat sang suami yang tidak bertanggung jawab, terutama tidak memiliki pekerjaan. Belakangan ini banyak suami yang hanya mengandalkan istri untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

“Sudah tidak memberi uang, tidak juga menunjukkan perilaku yang baik, malah suka galak, tidak mau membantu pekerjaan rumah dan sebagainya. Sampai tabungan istri pun habis.”

Cara Menyikapi

Rahmi Dahnan menyarankan hal yang perlu dilakukan setelah mengetahui pasangannya berselingkuh adalah memaafkan. Tanpa maaf, kesalahan itu akan selalu diungkit-ungkit sehingga komunikasi akan menjadi buruk dan mudah memicu pertengkaran pada hari-hari berikutnya. Pada akhirnya, bila tidak suami maka istrilah yang akan memilih jalan cerai.

Tentu saja hal itu berat dilakukan pihak yang diselingkuhi akan berpikir mengapa harus dia yang memaafkan, padahal itu adalah kesalahan pasangannya. Namun perlu diketahui, berselingkuh bisa dilakukan baik oleh suami maupun istri sehingga sebaik apapun pasangan, keduanya tetap berpeluang melakukan kesalahan tersebut.

“Setinggi apapun iman suami, ia tetap bisa jatuh pada kondisi itu, begitu pun dengan istri.”

Karena itu pada setiap kasus perselingkuhan yang ditangani, ia selalu meminta istri atau suami untuk memaafkan pasangannya. Namun, jika setelah memberikan pemaafan tetapi sang suami atau istri masih melakukan kesalahan yang sama, maka ia dapat mengambil keputusan untuk bercerai.

Bila masalah ini membuat istri atau suami merasa tidak nyaman atau malah bisa menjadi depresi, pengajuan perceraian mungkin menjadi jalan keluar.

Sikap memaafkan ini disarankan bukan saja kepada istri, tetapi juga suami, karena pria cenderung merasa lebih marah saat mengetahui istrinya selingkuh karena merasa persoalan itu mengganggu harga dirinya.

Namun, dia menyarankan sebaiknya suami-istri tidak memilih jalan perceraian, terlebih bagi mereka yang sudah memiliki keturunan. Dia meyakini anak dapat menjadi perekat bagi pasangan yang sedang mengalami persoalan hubungan yang serius.

Selain kerelaan untuk memaafkan, ketika awal persoalan ini terjadi, seorang suami atau istri juga tidak perlu merasa syok atau panik ketika menduga kuat atau mengetahui pasangannya melakukan perselingkuhan.

Kecewa dan marah sudah pasti. Namun, tidak jarang mereka yang pasangannya berselingkuh tidak tahu persis apa yang sebaiknya harus dilakukan, apalagi bila persoalan itu terjadi secara mendadak.

“Suami atau istri yang melihat sesuatu yang diduga kuat menjadi bukti perselingkungan, seperti foto, percakapan media sosial dan sebagainya, jangan langsung memastikan bahwa perselingkungan sudah terjadi.”

Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan oleh suami atau istri mengonfirmasi terlebih dahulu kepada pasangannya agar dugaan tersebut tidak keliru.

Jika sudah yakin, apalagi sudah mendapat konfirmasi dari pasangannya bahwa sudah terjadi perselingkuhan maka harus segera dibicarakan berdua.

Namun, menurut psikolog lain, Tanti Diniyanti, kadang kala komunikasi tersebut tidak menemui jalan keluar dan suami atau istri butuh orang lain untuk berkonsultasi atau curhat. Jika demikian, maka orang yang paling tepat diajak bicara adalah pihak keluarga dari pasangannya.

“Cari orang yang dianggap paling bisa dipercaya, seperti orang tuanya, saudara kandung atau yang lain. Yang pasti dia dianggap bisa dipercaya,” kata Tanti.

Suami atau istri yang pasangannya berselingkuh tidak perlu terlebih dahulu bercerita kepada pihak keluarga sendiri karena biasanya keluarga sendiri akan langsung memarahi pasangannya.

Akan lebih baik terlebih dahulu bercerita dan meminta pendapat kepada pihak keluarga dari pasangan. Kendati demikian, dia lebih menyarankan agar sedapat mungkin masalah ini tetap diselesaikan berdua, secara internal suami dan istri.

“Sebaiknya sih memang jangan terbuka dulu ke mana-mana, karena kadang-kadang pasangan suami-istri sudah baikan, tapi malah pihak keluarga atau orang di luar rumah tangga sendiri, merasa masalahnya belum selesai.” (Yoseph Pencawan)

Tag : keluarga, kasus perceraian
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top