UI Tengahi Silang Pendapat Dokter Rina vs P2MI soal Bahan MSG

Silang pendapat antara Dokter Rina dengan P2MI mengenai penggunaan bahan MSG bagi penderita hipertensi mendapat perhatian Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Yoseph Pencawan | 27 Mei 2018 00:01 WIB
Hipertensi - health.family.my
Bisnis.com, JAKARTA - Silang pendapat antara Dokter Rina dengan P2MI mengenai penggunaan bahan MSG bagi penderita hipertensi mendapat perhatian Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
 
Pada salah satu sesi materi talk show dalam kegiatan Women's Day di Jakarta pada 21-22 April 2018, Rina Ariani, Anggota Pakar Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tampil sebagai pembicara.
 
Dengan materi mengenai makanan sehat, dalam kesempatan itu ia antara lain menyarankan masyarakat, khususnya peserta yang hadir, bila ingin mengurangi tekanan darah, cara paling mudah adalah dengan mengurangi konsumsi garam.
 
Kemudian lebih mencermati makanan yang sering secara tidak disadari ternyata memiliki kandungan garam yang tinggi. Misalnya, makanan yang mengandung MSG (Monosodium Glutamate).
 
Menurut dia, makanan yang mengandung MSG akan terasa enak sekali, contohnya makanan yang mengandung banyak mecin. Namun setelah memakannya akan terasa haus karena menarik air dan inilah yang membuat tekanan darah menjadi tinggi.
 
Namun belum lama ini Persatuaan Pabrik Monosodium Glutamate dan Glutamic Acid Indonesia, atau P2MI, melalui keterangan resminya membantah pandangan dokter Rina tersebut.
 
Ketua P2MI M. Fachrurozy menyatakan pandangan tersebut tidak benar karena sebagai bahan tambahan pangan penyedap rasa, MSG memiliki kandungan natrium yang jauh lebih rendah (12) dibandingkan dengan garam dapur (38).
 
"Sehingga MSG tidak menjadi penyebab rasa haus sehingga tekanan darah menjadi tinggi, bahkan MSG dapat mengurangi penggunaan garam tanpa mengurangi kelezatan makanan tersebut," kata dia.
 
Dalam silang pendapat ini, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam menilai pendapat dari kedua pihak tidak salah. Dia mengakui bahwa MSG memang dapat dikonsumsi, sama dengan produk makanan lain yang sudah mendapat legalisasi dari Badan POM.
 
"Kalau kita menanggapi suatu produk makanan, produk tersebut dibolehkan Badan POM atau tidak. MSG itu termasuk penyedap rasa," ujanya, di sela-sela kehadirannya di kegiatan Promag Fastingval di Lapangan Blok S, Jakarta, Sabtu (26/5/2018).
 
Namun dia juga tidak menyalahkan dokter Rina karena dalam melakukan edukasi kepada masyarakat seorang praktisi medis harus benar-benar memberi penjelasan yang rinci, seperti mengenai MSG yang memang mengandung garam.
 
Namun dia meyakini yang dimaksud oleh dokter Rina adalah penggunaannya tidak berlebihan. Karena bukan hanya MSG, gula pasir atau garam dapur pun tetap saja tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan.
 
"Jadi bukan tidak boleh sama sekali. Yang tidak boleh itu misalnya memakan formalin, itu tidak boleh karena racun bagi tubuh."
 
 
 
Tag : kesehatan, hipertensi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top