Sistem IT Untuk Efisiensi Sektor Kesehatan

Seiring dengan pergeseran tren teknologi informasi yang kian canggih di tengah masayarakat, mau tidak mau perusahaan-perusahaan harus melakukan inovasi layanan berbasis teknologi, tak terkecuali perusahaan sektor kesehatan.
Asteria Desi Kartika Sari | 09 Juli 2018 20:06 WIB
Ilustrasi. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Seiring dengan pergeseran tren teknologi informasi yang kian canggih di tengah masayarakat, mau tidak mau perusahaan-perusahaan harus melakukan inovasi layanan berbasis teknologi, tak terkecuali perusahaan sektor kesehatan.

Pemanfaatan sistem teknologi informasi di rumah sakit untuk menunjang pelayanan medis dan teknis dinilai belum dilakukan secara optimal. Dari seluruh rumah sakit di Indonesia, baru segelintir yang memiliki sistem teknologi informasi yang baik. Itu pun masih belum komprehensif sehingga sebagai administrasi harus dilakukan secara manual.

Pemanfaatan sistem TI yang baik tentunya dapat membantu rumah sakit dalam mengelola rumah sakit agar proses bisnis lebih lancar. Terlebih lagi pelayanan terhadap pasien dapat dilakukan dengan lebih cepat dan lebih akurat.

Melalui sistem TI tersebut, manajemen rumah sakit juga dapat mengontrol operasional mereka karena dokter tidak bisa sembarang memberikan layanan atau obat yang tidak sesuai dengan formula yang ditetapkan. Oleh karena itu, rumah sakit membutuhkan solusi yang komprehensif dan terstruktur sehingga tujuan pemanfatan sistem TI rumah sakit dapat tercapai.

Guna menjawab hal tersebut, perusahaan kesehatan dari Jepang PHC  Medicom menjajaki bisnis dengan beberapa rumah sakit di Indonesia dalam pengembangan industri perangkat lunak teknologi kesehatan.

PHC Medicom bekerja sama dengan PT Gobal Dharma Nusantara sebagai perusahaan yang menyediakan perangkat keras (hardware) dan instalasi perangkat lunak (software), dan PT Indo Medika Utama yang membantu dalam aktivitas sales dan marketing.

CEO PT Indo Medika Utama Gabriel Sudarman mengatakan, kerjasama tersebut merupakan modal awal untuk membantu mengembangkan dunia kesehatan, sehingga Indonesia tidak jauh ketinggalan dengan negara lainnya.

“Apalagi dunia usah merambah ke digital, [sektor keuangan] sudah ada fintech [financial technology], jadi sudah saatnya sekarang Medtech atau teknologi bidang keknologi,” kata Gabriel di Jakarta.

Dia mengatakan dengan pengembangan sistem TI yang jauh lebih optimal setidaknya dapat meningkatkan pelayanan terhadap pasien, apalagi di rumah sakit yang harus melayani lebih dari 1000 pasien per hari. Peningkatan kuantitas pasien di Indonesia dapat memunculkan permasalahan baru dari sisi kualitas layanan. Hal ini menjadi peluang bisnis untuk pengembangan sistem TI.

“Ini adalah pasar yang potensial. Apalagi dibantu oleh provider utama Jepang di Healthy IT yang berpengalaman di 125 negara,” katanya.

Indonesia memiliki penduduk 250 juta jiwa. Sampai dengan saat ini, sudah lebih dari 150 juta jiwa yang tercatat sebagai anggota Badan Penyelenggara Jaminan Sosial [BPJS] Kesehatan.

Akibatnya, terjadi lonjakan karena changing of behavior.Dia mengatakan untuk mendata identitas satu pasien saja paling tidak membutuhkan waktu 2 menit. Belum lagi jeda antar pasien. Apabila terdapat 1.000 pasien, rumah sakit dapat menghabiskan waktu 30 jam hanya untuk registrasi saja. Jadi, kebutuhan sistem yang terintegrasi secara online sangat mendesak.

Direktur Sistem Informasi Kesehatan PHC Medicom Takayuki Otsuka menambahkan PHC Medicom menawarkan pengembangan sistem perangkat lunak dalam pelayanan administrasi kepada pasien yang dapat memangkas waktu tunggu pasien, sehingga lebih efisien.

Pasalnya, masalah yang sering ditemukan di beberapa rumah sakit di Indonesia, secara sistem kinerja, pasien harus datang lebih pagi untuk mengambil antrean formulir pendaftaran. Apabila sitem TI sudah dikembangkan, hal tersebut tentu tidak berlaku lagi.

“Kami tidak hanya ingin membawa produk tetapi juga memberikan solusi.Kami ingin membantu membawa Healthy IT yang bisa menekan biaya, namun pelayanan rumah sakit semakin meningkat. Apalagi dengan adanya BPJS Kesehatan dan asuransi yang terintegrasi semakin banyak pasien yang berobat ke rumah sakit,” jelasnya.

Sehingga pasien cukup datang ke rumah sakit dengan memabawa kartu BPJS Kesehatan. Untuk itu, PHC Medicom berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam mengintegrasikan data pasien.

Akan disediakan mesin seperti ATM yang dapat mencetak administrasi pendaftaran dan rujukan poliklinik yang terintegrasi dengan kartu BPJS Kesehatan. Kendati begitu, Takayuki enggan untuk menyebutkan secara rinci besaran investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan perangkat lunak rumah sakit tersebut.

Hingga saat ini rumah sakit yang telah bekerja sama adalah RS Dharmais (Pusat Kanker Nasional) dan RS Umum Tangerang. Untuk mengembangkan sistem teknologi secara berkelanjutan atau jangka panjang, PHC Healthcare mengirimkan teknisi Jepang secara langsunguntuk memperbaharuhi sistem secara berkala.

“Saat ini kami masih fokus di Jakarta dan sekitarnya, karena Indonesia sangat luas tidak mungkin langsung menempatkan beberapa orang,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama RS Kanker Dharmais, Abdul Kadir, menanggapi, kerja sama tersebut untuk meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit setara internasional.

Dari segi peralatan infrastruktur perangkat lunak menjadi lebih efisien serta dapat mengurangi jumlah kerja sumber daya manusia di bidang administrasi untuk dapat diperbantukan di divisi lainnya. “Waktu tunggu yang biasanya memakan berjam-jam bagi pasien dapat dipangkas hingga 30 menit menjelang pemeriksaan saja, tanpa antre lagi,” katanya.

Lebih dari itu, sistem perangkat lunak juga akan melindungi dari serangan "hacker" yang pernah terjadi, integrasi dengan sistem keuangan juga akan mempermudah proses administrasi pasien.

Tag : kesehatan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top