Jangan Salah! Pubertas Bukan Ukuran Kesiapan Hamil

Secara anatomi, tubuh remaja perempuan belum siap untuk proses mengandung dan melahirkan. Banyak masyarakat salah sangka jika pubertas merupakan ukuran kesiapan seorang perempuan hamil.
Nindya Aldila | 21 Juli 2018 12:37 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Secara anatomi, tubuh remaja perempuan belum siap untuk proses mengandung dan melahirkan. Banyak masyarakat salah sangka jika pubertas merupakan ukuran kesiapan seorang perempuan hamil.

Dokter Spesialis Kebidanan & Penyakit Kandungan OMNI Hospitals Alam Sutera Handojo Tjandra mengatakan seseorang yang sudah mengalami pubertas belum dapat disebut dewasa karena pubertas menandakan si anak memasuki masa remaja.

Pada masa ini, organ reproduksi mulai bertumbuh dan baru berkembang menuju kedewasaan, jadi sebaiknya tidak digunakan untuk melakukan hubungan seksual dan reproduksi.

Ukuran rahim remaja putri pun belum siap untuk kehamilan dan ukuran panggul pun belum siap sepenuhnya untuk persalinan. Sehingga, persalinan pada masa remaja dapat meningkatkan risiko persalinan caesar dan komplikasinya.

“Jika dipaksa hamil dan bersalin, dapat menimbulkan komplikasi dan persalinan caesar karena ukuran panggul yang sempit, serta menimbulkan bekas caesar pada rahim seperti plasenta akreta atau perlengketan ari-ari pada rahim. Paskapersalinan juga rentan terjadi pendarahan,” ujarnya seperti dikutip dari siaran pers, Sabtu (21/7/2018).

Dampak hubungan seksual dan kehamilan di usia muda di antaranya adalah komplikasi obstructed labour (gangguan pada fungsi otot uterus karena terjadi peregangan uterus yang berlebihan), obstetric fistula (urin atau feses melalui vagina karena terjadi kebocoran akibat rusaknya organ kewanitaan).

Penyakit lain yang mengintai adalah carsinoma serviks (penyakit kanker leher rahim) karena semakin muda usia seseorang melakukan hubungan seksual pertama kalinya maka semakin besar risiko terkontaminasi virus pada daerah reproduksi.

Pada masa kehamilan, menurut Handojo, ibu juga rentan mengalami anemia (kurang darah) dan tekanan darah tinggi. Sayangnya, kondisi ini sering tidak terdeteksi pada tahap awal, padahal hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya kejang, perdarahan, bahkan kematian pada ibu.

Perkawinan usia dini berisiko menyebabkan kehamilan bermasalah yang berdampak pada bayi. Hal itu juga berisiko pada ibu ketika hamil atau melahirkan. Selain itu, juga berisiko menimbulkan kelahiran prematur, kelahiran dengan berat badan bayi rendah dan stunting (tubuh kecil dan pendek serta ukuran otak kecil).

“Masa kehamilan adalah masa pertumbuhan badan bagi ibu. Pada tahap ini, terjadi persaingan nutrisi antara janin dan ibu. Hal ini dapat mengakibatkan defisiensi nutrisi. Akibatnya berat badan ibu hamil seringkali sulit naik, terkena anemia. Sedangkan pada janin, berisiko lahir dengan berat lahir yang rendah. Anak yang lahir prematur, di masa depannya akan berisiko terkena komplikasi sindroma metabolik [obesitas, diabetes mellitus, hipertensi],” ujar Handojo.

Head of Health Claim Department Sequis A.P. Hendratno menambahkan, masa pubertas pada remaja putri terkait dengan mendapatkan haid dan tidak berhubungan dengan dewasa secara biologis maupun mental.

Organ reproduksi pun bertumbuh tidak persis sama untuk setiap orang, biasanya antara usia 16 -22 tahun. Organ intim berfungsi 100% biasanya ketika mencapai minimal 3-5 tahun pascahaid. Perkawinan usia anak biasanya tidak didasari oleh pengetahuan reproduksi.

“Hubungan seksual yang dilakukan di usia kurang dari 17 tahun dan dilakukan dengan paksaan, tanpa pengetahuan dasar kesehatan reproduksi mengandung risiko terkena penyakit menular seksual, penularan infeksi HIV, dan kanker leher rahim," ujar Hendra.

Risiko lainnya, menurut Handojo adalah dapat terjadi kematian pada janin. Oleh karena anatomi panggul remaja perempuan masih dalam pertumbuhan, proses persalinan dapat menjadi lama.

Akibatnya bayi mengalami kekurangan oksigen, dapat tercemar air ketuban, terinfeksi bakteri, dan ritme jantung melemah. Hal ini rentan menyebabkan kematian pada bayi.

Dia mengingatkan bahwa kematian pada bayi juga dapat terjadi jika pada persalinan ibu dalam keadaan depresi, karena tekanan darah meningkat sehingga rentan terjadi kejang sesaat setelah melahirkan (eklamsi).

Tag : hamil, puber
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top