Mengenal Bahaya Infeksi Luka Operasi dan Pencegahannya

Berdasarkan data WHO, di beberapa negara dengan penghasilan rendah dan menengah, terdapat sekitar 11% pasien yang terinfeksi setelah menjalani proses operasi/pembedahan.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 25 Agustus 2018  |  15:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Berdasarkan data WHO, di beberapa negara dengan penghasilan rendah dan menengah, terdapat sekitar 11% pasien yang terinfeksi setelah menjalani proses operasi/pembedahan.

Sedangkan di Afrika, 20% wanita yang menjalani operasi Caesar mengalami infeksi luka, yang berdampak negatif terhadap kesehatan mereka sehingga kesulitan dalam merawat bayi mereka.

infeksi luka bekas operasi ini dikenal dengan istilah SSI atau Surgical Site Infections. 

SSI adalah infeksi luka operasi yang disebabkan oleh bakteri yang masuk saat dilakukannya proses operasi yang terlihat 30 hari setelah operasi yang menyebabkan luka pada bagian tubuh manusia.

Beberapa SSI yang terjadi relatif ringan, sehingga dapat langsung diobati dengan cepat. Namun, jika dibiarkan, maka akan terjadi infeksi yang dapat menyebabkan seseorang menjadi resisten terhadap antibiotik dan bahkan berujung pada kematian.
 
Hingga saat ini, SSI masih menjadi salah satu permasalahan dalam pelayanan kesehatan. SSI sering terjadi dalam beberapa prosedur operasi, seperti colorectal, gastrointestinal, cardiovascular, neurologic,skin, ortopedi dan prosedur transfusi.
 
SSI juga telah menjadi infeksi yang paling umum terjadi di beberapa rumah sakit di Amerika Serikat. Angka kejadian SSI di Amerika Serikat sebesar 2-5% dari semua operasi rawat inap, dimana setara dengan 160.000 – 300.000 bahaya setiap tahun.[2]
 
“Saat ini SSI masih sering sekali terjadi di Indonesia, selama prosedur pembedahan berlangsung. Di Indonesia sendiri, persentase terjadinya SSI antara 5 – 8 %. Kesimpulannya, prevalensi healthcare-associated infections (HAI) di Indonesia sebanding dengan Negara lain.  Namun, prevalensi SSI pada pasien bedah di Indonesia tinggi. Maka dari itu dibutuhkan pencegahan SSI,” jelas Dr Adianto Nugroho, SpB KBD dalam siaran persnya. 
 
Melihat kondisi tersebut, maka World Health Organization (WHO), Center for Disease Control (CDC) dan American College of Surgeons (ACS) mengeluarkan panduan resmi (guidelines) yang mengatur secara khusus tentang pencegahan SSI. Pada WHO sendiri, Global Guidelines for the Prevention of Surgical Site Infection yang dikeluarkan pada bulan November 2016 terdiri dari 29 jenis rekomendasi yang meliputi 23 topik dalam pencegahan SSI pada pre-, intra danpostoperative.
 
Dr Hari Paraton, SpOG (K) menjelaskan, salah satu hal penting yang dapat dilakukan untuk mencegah SSI berdasarkan guidelines WHO adalah preoperative bathing, dimana pasien direkomendasikan untuk membersihkan seluruh bagian tubuh untuk mengurangi jumlah bakteri pada permukaan kulit pasien selama menjalanakan operasi, sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya SSI.

Selain itu, katanya,  baik WHO, CDC dan ACS merekomendasikan untuk menggunakan benang berlapis antimikroba dalam beberapa jenis operasi guna mengurangi risiko terjadinya SSI. Dalam hal ini, para ahli disarankan untuk menggunakan benang yang telah dilapisi oleh triclosan sebagai salah satu prosedur operasi.
 
Pada salah satu prosedur tersebut di atas, beberapa Lembaga kesehatan telah menciptakan rekomendasi untuk menggunakan chlorhexidine gluconate sebagai antiseptik dalam membersihkan seluruh kulit.
 
Prof Charles E. Edmiston, Jr, PhD juga menjelaskan, pentingnya pencegahan SSI sebelum menjalankan prosedur pembedahan pun menjadi hal yang sebaiknya ikut dipertimbangkan oleh tenaga ahli kesehatan. Dan berdasarkan metanalisis yang melibatkan 13 randomized controlled clinical trials (RCT) yang terdiri dari 3.568 pasien, terbukti bahwa penggunaan benang berlapis antimikroba ini dapat membantu menurunkan risiko terjadinya SSI.
 
Melihat angka kejadian SSI yang masih tinggi di Indonesia, maka edukasi untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan SSI sangat penting dan perlu diperhatikan. Namun edukasi mengenai pencegahan SSI tidak hanya dilakukan kepada para tenaga ahli kesehatan, tetapi juga kepada pasien dan keluarganya.

Karena itu,  PT Johnson & Johnson Indonesia melaksanakan roadshow berbasis bukti untuk secara lebih lanjut berbagi pembelajaran dan wawasan berbasis bukti dengan menghadirkan Charles E. Edmiston Jr., PhD., CIC – Emeritus Professor of Surgery dari Department of Surgery, Medical College of Wisconsin Milwaukee, Wisconsin USA.  
 
“Kami berharap edukasi mengenai guidelines pencegahan SSI dapat dilakukan secara merata kepada untuk mengurangi risiko terjadinya SSI. Dengan begitu, SSI diharapkan tidak lagi menjadi masalah dalam pelayanan kesehatan dan persentase terjadinya SSI dapat menurun di Indonesia,” tutup Ns. Costy Panjaitan, CVRM, SKM, MARS yang merupakan Konsultan Pengendalian Infeksi dan Pencegahan.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
infeksi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top