Kenali Penyebab Disfungsi Ereksi

Disfungsi Ereksi menjadi gangguan seksual yang paling banyak dikeluhkan, setelah ejakulasi dini, oleh pria berusia 40-80 tahun di seluruh dunia.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 30 Agustus 2018  |  21:59 WIB
Kenali Penyebab Disfungsi Ereksi
Disfungsi ereksi - curejoy.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Disfungsi Ereksi menjadi gangguan seksual yang paling banyak dikeluhkan, setelah ejakulasi dini, oleh pria berusia 40-80 tahun di seluruh dunia.

Berdasarkan penelitian The Global Study of Sexual Attitudes and Behaviors (GSSAB) di 29 negara termasuk Indonesia, jumlah penderita DE terbesar ada di Asia Tenggara (28,1%), diikuti oleh Asia Timur (27,1%) dan Eropa Utara (13,3%).

Dokter Spesialis Andrologi dari RSUP Fatmawati Nugroho Setiawan mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi.

Antara lain disebabkan oleh gejala penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes, depresi dan gejala saluran kemih bawah. Penyakit ginjal kronis, multiple sclerosis, penyakit Peyronie, dan cedera yang berhubungan dengan perawatan terhadap kanker prostat.

Selain itu, faktor fisik dan psikologis juga dapat menyebabkan DE. Kondisi fisik seperti kerusakan saraf, arteri, otot polos, dan jaringan ikat di penis dapat menyebabkan DE. 

"Stres dan masalah hubungan personal juga menjadi faktor penyebab psikologis yang dapat memicu dan memperburuk DE. Disamping itu, DE juga dapat menjadi efek samping dari beberapa pengobatan seperti anti-hipertensi, antihistamin, antidepresan, penenang, penekan nafsu makan dan obat-obatan saluran kemih," ujarnya.

Sayangnya, belum banyak penderita DE yang mencari perawatan medis. Berdasarkan survei yang dilakukan pada 2004 kepada 948 pria dan 992 wanita yang aktif secara seksual di perkotaan negara-negara di Asia, hanya hanya 21% yang mencari perawatan medis sedangkan 45% diantaranya tidak mencari bantuan atau saran 


Penelitian serupa pada tahun 2011 menegaskan bahwa faktor sosial budaya, agama dan ekonomi mencegah pasien untuk berkonsultasi dengan dokter.

"Komunikasi antara dokter dan pasien memegang kunci penting dalam pengobatan DE," kata Handoko Santoso, Medical Director PT. Pfizer Indonesia. 

Pfizer berperan dalam membantu mendukung edukasi pasien untuk mendapatkan pengobatan yang paling tepat dan mencegah pasien dari tindakan mengobati sendiri untuk penyakit kompleks, seperti DE. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
disfungsi ereksi

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top