Pivot Penyelamat Startup di Ujung Kebangkrutan

Ada yang masih awam dengan istilah Pivot? Bahkan, ada yang sudah mengenalnya tetapi masih bingung mendefinisikannya. Saya akan bantu menjelaskan istilah ini. Saya akan membagi dua pengertiannya, yaitu apa itu pivot dan apa itu start up.
Tom MC Ifle, Director & Head Coach PT Aubade Makmur | 30 Agustus 2018 20:03 WIB
Tom Mc Ifle, Director & Head Coach PT Aubade Makmur - jibi

Ada yang masih awam dengan istilah Pivot? Bahkan, ada yang sudah mengenalnya tetapi masih bingung mendefinisikannya. Saya akan bantu menjelaskan istilah ini. Saya akan membagi dua pengertiannya, yaitu apa itu pivot dan apa itu start up.

Pivot adalah istilah untuk sebuah start up yang melakukan perubahan saat menyadari bahwa apa yang sudah dilakukannya tidak berjalan. Perubahan yang dilakukan masih sesuai dengan ide awal.

Adapun, pengertian start up sesuai dengan sumber yang saya dapat menurut Paul Graham.

Start up adalah sebuah perusahaan yang didesain untuk memiliki perkembangan dengan sangat cepat. Baru dirintis tidak serta merta membuat sebuah perusahan menjadi start up. Start up tidak selalu harus bergerak dalam bidang teknologi, memperoleh dana dari investor, dan melakukan exit. Hal yang paling penting adalah dapat berkembang dengan cepat. Semua yang berkaitan dengan start up akan mengikuti perkembangan perusahaan tersebut.

Mungkin ada yang berpikir sama seperti saya. Sebuah start up pasti tidak akan mengalami kesulitan, karena berpikir ada orang hebat di belakangnya. Mereka pasti bisa melewati setiap kesulitan dengan mudah dilewati. Ternyata, setelah saya baca dari beberapa sumber, sebuah start up perjalanannya tidak selamanya sesuai dengan rencana. Sama seperti perusahaan pada umumnya yang memiliki kendala, bahkan ada juga yang berpikir untuk pilihan berhenti, lanjut, atau berubah.

Rasa penasaran saya bertambah, apa yang biasanya menjadi kendala start up? Ternyata salah satu yang dapat mengganggu perjalanan start up menuju sukses itu adalah pivot. Menurut sumber yang saya baca, kebanyakan yang menjadi masalah start up adalah kapan masanya harus pivot?

Bukan perkara mudah melakukan sebuah perubahan itu. Tidak mengherankan, jika sebagian besar start up memiliki keraguan untuk memastikan dapat melakukan perubahan.

Ada banyak hal yang dapat memengaruhi pivot, di antaranya adalah produk. Bukan hal yang mudah mengeluarkan produk. Hal yang kedua adalah customer, bukan sesuatu yang mudah juga mendapatkan customer. Biasanya yang menjadi masalah dari kedua hal ini, yaitu start up cenderung memanjakan produknya melebihi yang seharusnya, kemudian merasa sudah menemukan pelanggan yang sesuai. Faktanya, pelanggan yang ditemukan bukanlah pelanggan yang sesungguhnya. Jumlahnya juga tidak signifikan. Kemudian menjadikan start up ragu. Apakah akan lanjut atau harus pivot?

Jawabannya, hasil dari penelusuran saya. Jika menemukan masalah seperti ini, sebaiknya start up mengambil langkah pivot. Salah satunya dengan mengedukasi pasar kendati hal itu bukan mudah. Memilih pasar yang lebih pasti dan solid. Itu menjadi pilihan yang lebih baik.

Tidak dapat dipungkiri, saat ini inovasi mungkin sebuah kata yang cukup sulit untuk bisa diraih oleh para start up. Mungkin karena banyak produk atau layanan start up hasil dari modifikasi atau perbaikan produk atau layanan start up lainnya. Dengan kondisi seperti itu, bukan tidak mungkin akan ada kompetitor yang dapat membuat produk yang sejenis atau mungkin mirip. Hal seperti inilah yang terkadang menjadi kendala start up sulit untuk bisa bergerak.

Ambil Keputusan

Sebagian start up ada yang cepat bergerak ambil keputusan dengan pivot. Sebagian lagi ragu dalam mengambil keputusan. Ada yang mengambil keputusan untuk membuat fitur yang beda dari sebelumnya, dan tentu saja dibuat menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Misalnya, Amazon bukanlah pelaku e-commerce pertama tetapi bisa menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Begitu juga dengan Google, bukanlah search engine yang pertama tetapi bisa melakukan pivot dan menjadi lebih baik dibandingkan kompetitornya.

Sebagai pengguna aplikasi, saya terkadang menyukai satu start up tetapi saya tidak mendapatkan aplikasi yang saya perlukan. Terkadang ada pikiran “seandainya ada aplikasi ini”. Mungkin saya bukan satu-satunya yang kadang terlintas pernyataan itu. Bisa jadi beberapa pelanggan di luar sana ada yang berpikir sama.

Ternyata, ada pelanggan yang meminta fitur tambahan. Bisa jadi, itu merupakan sinyal untuk pivot. Sebaiknya start up dengan cepat dan teliti merespons permintaan tersebut. Ternyata, start up seringkali melakukan kelalaian, tidak mendengar masukan pelanggan, dan pada akhirnya kehilangan satu momen untuk pivot lebih baik.

Menyikapi kondisi tersebut, sebaiknya segera direspons, kemudian memasukkan ke dalam rencana pengembangan. Lalu melakukan proses penelitian, seperti mengapa ada permintaan fitur itu? Apa manfaat yang bisa didapatkan oleh pelanggan, buat kelebihan fitur yang direncanakan dibandingkan dengan fitur yang sudah ada. Hal ini dilakukan agar dapat lebih meyakinkan start up untuk bisa melakukan pivot.

Contoh perusahaan yang bisa dibilang merupakan pivot start up adalah Instagram, Twitter, dan Youtube. Ketiga nama start up ini sudah tidak asing lagi, sudah sering didengar, dilihat, bahkan mungkin mengisi sebagian dari rutinitas kita.

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar ketiga start up di atas? Media sosial keren? Canggih? Kekinian? Atau apa? Yang pasti ketiganya banyak disukai orang karena beberapa fitur yang keren, memiliki kelebihan yang tentu saja tidak dimiliki oleh media sosial yang lainnya.

Masih banyak yang memilih untuk menggunakannya kendati datang pesaing yang tidak kalah keren. Hal itu karena pivot start up yang mereka lakukan.

Kita melihatnya saat mereka terdepan, tidak mengetahui hambatan dan kesulitan yang datang menimpa mereka. Hanya jika mereka terus bertahan menjadi yang terdepan. Mungkin respons akan permintaan atau kebutuhan pelanggannya segera dan dengan cepat mereka respons, yang di sebut dengan pivot. Pada zaman serba canggih dan cepat ini memang diperlukan keputusan yang juga harus cepat. Kalau tidak, mungkin akan tertinggal.

Jika ingin maju, key word-nya adalah mau berubah atau melakukan perubahan. Tidak heran, orang-orang yang berada di belakang start up itu haruslah mereka yang kuat. Mereka tidak mudah menyerah, kreatif, dan inovatif.

Salah satunya adalah pivot start up, yang tentunya bukan keputusan mudah. Sebaliknya, keputusan tetap harus dilakukan dengan berbagai konsikuensi yang kadang belum pasti, berhasil atau tidak.

Tag : StartUp
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top