Bedah Buku: Bapak Pangan Indonesia Bahas Serangga, Tanaman Kelor, dan Mikrobioma Usus

Bapak Pangan Indonesia Bedah Buku Tentang Serangga, Tanaman Kelor, dan Mikrobioma Usus
Eva Rianti | 06 September 2018 16:03 WIB
Buku Pangan karya FG Winarno - Bisnis/Eva Rianti

Bisnis.com, JAKARTA – Bapak Pangan Indonesia Florentinus Gregorius Winarno membedah tiga bukunya dalam satu waktu.

Buku pertama yang dibedah berjudul “Mikrobioma Usus: Peran Probiotik, Prebiotik, dan Parabiotik”.

Dalam buku setebal 228 halaman itu, Winarno –nama panggilannya- menuliskan tentang kemajuan ilmu dan teknologi dalam analisis mikrobioma usus dan implikasinya bagi penyakit serta teknik pengobatan.

“Pepatah Jepang menyebutkan pusat kehidupan manusia ternyata di perut. Adapun, pepatah China mengatakan proses kematian berasal dari usus. Tetapi manusia tidak sadar bahwa sesungguhnya kesehatan dipengaruhi oleh mikrobioma usus. Masa depan kita tergantung usus kita,” ujarnya dalam acara seminar dan bedah buku di Jakarta, Kamis (6/9/2018).

Adapun buku kedua yang dibedah berjudul “Tanaman Kelor: Nilai Gizi, Manfaat, dan Potensi Usaha”. Buku ini menerangkan bahwa tanaman kelor  atau dikenal dengan superfood adalah tanaman paling bergizi di dunia.

Tanaman kelor memiliki 90 kandungan senyawa gizi yang lengkap dan 46 jenis antioksidan yang berkhasiat serta menguntungkan kesehatan manusia.

“Nilai gizi tanaman ini mampu menjadi solusi atas masalah kurang gizi atau stunting bagi masyarakat perekonomian rendah,” tuturnya.

Selanjutnya, buku berjudul “Serangga Layak Santap: Sumber Baru bagi Pangan dan Pakan” adalah buku terakhir yang dibedah. Buku ini menjelaskan tentang keunggulan serangga dibandingkan hewan ternak pada umumnya.

“Serangga ini merupakan pakan alternatif yang sustainable. Selain bernilai gizi tinggi dengan kandungan protein tinggi, serangga juga ramah lingkungan, irit air, dan sangat rendah/ nir-emisi karbon kaca,” jelasnya.

Ahli Gizi dan Kesehatan Wijaya Lukito mengapresiasi buku tersebut dan menuturkan bahwa Indonesia mengalami banyak kasus penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan pencegahan berawal dari pangan. 

“Buku-buku tersebut mencantumkan big data tentang dunia pangan. Sangat bernilai dan komprehensif,” ujar Wijaya. 

Tag : buku, pangan, kelor
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top