Di Balik Sukses Konser di Wellington, Erwin Gutawa Bilang Hanya Berlatih 3 Jam

Jika ada tokoh musik yang dianggap menjadi penentu sukses konser The Symphony of Friendship dalam rangka 60 Tahun Hubungan Indonesia Selandia Baru, dialah Erwin Gutawa.
Arif Budisusilo | 11 November 2018 03:03 WIB
Musisi Erwin Gutawa (kanan) dan Edo Kondologit di Wellington, Selandia Baru. - Bisnis/Arif Budisusilo

Bisnis.com, WELLINGTON – Jika ada tokoh musik yang dianggap menjadi penentu sukses konser The Symphony of Friendship dalam rangka 60 Tahun Hubungan Indonesia Selandia Baru, dialah Erwin Gutawa.

Banyak pihak menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat untuk Erwin Gutawa, saat farewell dinner di kediaman Duta Besar RI Tantowi Yahya di Wellington, Sabtu (10/11/2018) malam.

Komposer musik Erwin Gutawa memang bertindak selaku arranger sekaligus konduktor Konser Persahabatan di Opera House, Wellington itu, dan dia mengaku puas.

Musisi ayah dan putrinya, Erwin Gutawa (kiri) dan Gita Gutawa. - Bisnis/Arif Budisusilo

Erwin tampak bangga Indonesia menjadi leader dalam konser yang melibatkan orkestra ternama sekaligus tertua dari Selandia Baru, Wellington Orchestra.

Meski kru orkestra berasal dari Wellington, begitu pun pendukung teknis termasuk sound engineer, Erwin-lah yang memutuskan hampir semua hal di atas panggung terkait performa pertunjukan itu.

Pemilihan lagu-lagu dilakukan bersama-sama dengan Dubes Tantowi, yang sekaligus bertindak sebagai host konser. Ada setidaknya 12 lagu dari Indonesia, terutama dari Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur, serta Selandia Baru yang diwakili nyanyian suku asli Maori.

Lagu yang ditampilkan di antaranya adalah Pokarekare Ana, love song tradisional suku Maori. Lagu itu dipekirakan lahir saat mulai berkecamuk Perang Dunia I pada 1914.

Ada pula Tangaroa Whakatmautai, lagu dengan ruh yang kuat menggambarkan Tangaroa, yang dianggap sebagai Tuhannya lautan. Suku Maori memang sangat "memuja" air dan lautan sebagai bagian terpenting dari harmoni kehidupan mereka.

Lagu itu dibawakan dengan apik oleh penyanyi cantik asal Maori, Maisey Rika.

Hits Indonesia yang dinyanyikan adalah Sio Mama dan Rame-Rame, yang membuat penonton berjingkrak di depan panggung.

Bahkan di tribun utama pun sejumlah penonton berdiri dan berjoget. Sesuatu yang tak lazim dalam perttunjukan konsep di Opera House yang biasanya 'sakral'.

   Jane Phialsa, penabuh drum andalan Erwin Gutawa. - Bisnis/Arif Budisusilo

Satu penampilan yang mengundang decak kagum adalah saat Andmesh Kamaleng, penyanyi asal NTT, feat penyanyi asal Maori Tama Waipara, di mana keduanya membawakan lagu Mimpi Sedih dan E Ipo bersama-sama.

Lagu Mimpi Sedih gubahan A Riyanto yang populer di era akhir 70-an itu memang sangat populer di kalangan negara-negara Pasifik, terutama Selandia Baru, karena diterjemahkan dalam lirik dan nada yang sangat mirip dengan lagu E Ipo.

Secara keseluruhan, kedua solois dari Maori yang mewakili Selandia Baru, Tama Waipara, dan Maisey Rika tampil memukau. Begitu pun tiga solois Indonesia, Edo Kondologit, Gita Gutawa, dan Andmesh Kamaleng.

Mereka tampil "perfecto", diiringi oleh Orkestra Wellington yang memainkan lagu-lagu dari Maori—suku asli Selandia Baru—yang “sangat Polinesia”, kemudian digabungkan dengan lagu-lagu dari Maluku, Papua, dan NTT.

Bahkan, saat Edo menyanyikan lagu pembuka Pangkur Sagu, suasana di dalam Opera House langsung "pecah". Tepuk tangan meriah saat lagu itu berakhir.

Show penutup dengan lagu Aoterao yang menggambarkan selebrasi terhadap bangsa, tanah air, keunikan, bahasa dan kehidupan manusia juga dinyanyikan meriah oleh seluruh artis pendukung.

Bahkan, saat show 1,5 jam itu berakhir setelah Dubes Tantowi bersama istri Dewi Yahya menyerahkan apresiasi kepada para penyanyi di atas panggung, penonton teriak beramai-ramai, "We want more... we want more..."

Maka, Erwin Gutawa pun tanggap…dan lagu Rame-Rame kembali menghentak Opera House yang membuat semua penonton berdiri dan banyak yang ikut bernyanyi.

Malam itu, Jumat (9/11/2018), suasana Opera House memang berbeda. Sebagian penonton jingkrak-jingkrak sepanjang konser selama hampir 2 jam itu.

Suasana tersebut lantas menjadi ‘tontonan’ tersendiri, mengingat lazimnya pertunjukan konser, penonton hanya tepuk tangan tanpa joget-jogetan.

Bahkan, menurut Tantowi, Ketua Parlemen Selandia Baru Trevor Mallard yang duduk di sampingnya sesekali melihat ke belakang, di mana sejumlah penonton berjingkrak berdiri.

Sukses pertunjukan juga terlihat dari antusiasme penonton yang merasa terlalu cepat selesai.

Meski semula dianggap sulit mendatangkan penonton, tempat duduk Opera House dengan kapasitas 1.300 tempat duduk itu penuh terisi.

    Nirina Zubir (kiri) dan Andmesh Kamaleng. - Bisnis/Arif Budisusilo

Hanya Berlatih 3 Jam

Wajar apabila Erwin, selaku konduktor dan arranger konser tampak puas. Lagu-lagu yang kebanyakan adalah nyanyian keseharian di Indonesia, utamanya orang-orang Papua, Ambon dan Flores diaransemen dengan sangat baik, berbeda, dan powerfull.

Saat farewell dinner, tatkala ditanya berapa lama butuh berlatih untuk pertunjukan itu, Erwin justru tertawa terbahak.

Di Jakarta, dengan grup band delapan orang yang lantas dibawanya ke Wellington, ia berlatih selama sekitar 3 pekan.

Yang tidak lazim adalah bagaimana berlatih dengan Orkestra Wellington, orkestra tertua di Selandia Baru yang terbiasa tampil dalam musik klasik itu.

Erwin mengaku bertukar partitur melalui whatsapp dan email.  Selebihnya, hanya berlatih 3 jam sehari sebelum pementasan, dan "check sound" mulai jam 15.00 waktu setempat, atau 3 jam menjelang pementasan.

"Saya surprise dengan anak-anak sini (Wellington) yang menyanyikan lagu Indonesia Raya," ujar Erwin.

Lagu Indonesia Raya memang dinyanyikan menyusul Lagu Kebangsaan Selandia Baru, saat pembukaan konser.

Keduanya dibawakan oleh kelompok paduan suara anak-anak, yang masih berusia SD dan SMP. Anak-anak itu tampak fasih melafal lagu Indonesia Raya tersebut.

"Padahal saya hanya kirim lagunya (partitur) sebulan sebelum konser," kata Erwin Gutawa.

Hasilnya, pertunjukan yang luar biasa, membuat puas dan senang banyak pihak terutama Dubes Tantowi Yahya dan jajaran KBRI.

Pasalnya, Dubes Tantowi memang berniat menjadikan budaya, utamanya musik, sebagai ujung tombak dalam mengatasi kendala diplomasi di kawasan Pasifik.

Banyak warga Indonesia dan juga warga Selandia Baru, berharap konser sejenis digelar lagi untuk waktu mendatang. Pasalnya, ia akan menjadi sarana baru bagi penguatan diplomasi budaya, guna mempererat hubungan kedua negara.

Diplomasi lewat musik, yang ditawarkan Duta Besar Tantowi Yahya, ternyata bisa menjadi viral dan fenomenal.

Tag : musik
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top