Anak Sulit Makan? Pakai Cara Seru Ini untuk Mengatasi

Berdasarkan data dari United Nations Children's Fund (Unicef) Parenting, 75% sumber energi otak pada anak berasal dari makanan. Sayangnya, memberikan makanan bagi anak terutama balita sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi setiap ibu.
Dewi Andriani | 26 November 2018 00:23 WIB
Ilustasi - Seorang anak makan buah dan sayur. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak, setiap orang tua harus dapat memperhatikan kecukupan asupan makanan dan nutrisi yang terbaik bagi sang buah hati. Sebab, makanan memiliki peranan yang sangat penting untuk mendukung perkembangan otak dan fisik sehingga anak dapat beraktivitas secara optimal.

Berdasarkan data dari United Nations Children's Fund (Unicef) Parenting, 75% sumber energi otak pada anak berasal dari makanan. Sayangnya, memberikan makanan bagi anak terutama balita sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi setiap ibu.

GTM atau yang diistilahkan dengan gerakan tutup mulut menjadi senjata andalan bagi anak yang tidak ingin makan atau saat memilih-milih makanan. Tidak jarang anak ogah makan karena bosan dengan menu yang disajikan atau terlalu sibuk bermain dan sudah kenyang dengan pemberian susu.

Dokter apesialis anak dari Rumah Sakit Brawijaya Margareta Komalasari mengatakan bahwa anak sudah harus diperkenalkan dengan makanan ketika mulai berusia 6 bulan. Pada saat itu, orang tua sudah dapat langsung memberikan menu makanan pendamping asi (MPASI) dengan menu empat bintang.

Namun, memang ada tantangan tersendiri yang harus dihadapi ibu ketika memberi makanan sang buah hati. Untuk itu, orang tua dituntut untuk dapat kreatif dalam menyajikan menu makanan terbaik sehingga asupan nutrisi sang buah hati dapat tercukupi secara optimal.

“Anak mungkin susah makan karena bosan dengan menu yang itu-itu saja atau karena rasanya yang cenderung hambar. Ibu sebetulnya sudah bisa menambahkan gula, garam, dan bumbu aromatik dalam takaran yang wajar,” tuturnya.

Bagaimanapun bayi juga sudah sudah mengenal rasa dan bisa menikmati makanan yang nikmat dan lezat. Namun, sambungnya, orang tua harus benar-benar memperhatikan batasan pemberian bumbu dalam proses pengolahan makanan sehingga anak tetap tidak kehilangan selera ketika mengonsumsi makanan yang bergizi.

 

Variasi Makanan

Di samping itu, dalam proses pengolahan makanan yang disukai si kecil, orang tua juga harus memastikan bahan makanan yang disajikan tetap segar. Sebab, umumnya sayuran dan buah-buahan sebagai bahan utama makanan si kecil, mudah layu dan busuk.

Jika sudah tidak segar, nutrisi yang pada makanan tersebut pun akan berkurang. Akibatnya orang tua harus sering membeli bahan makanan dan langsung mengolahnya agar dapat dikonsumsi oleh anak-anak.

Sabai Dieter Morschek, istri dari aktor Ringgo Agus Rahman sekaligus ibu dari Bjorka Dieter Morschek paham betul bahwa makanan yang sehat dan berkualitas menjadi kebutuhan utama yang harus dipenuhi untuk pertumbuhan buah hatinya.

Diakui olehnya di usia Bjorka yang masih balita, sang anak sudah mulai mengerti dengan rasa makanan. Hal ini pula yang mungkin membuatnya menjadi lebih memilih-milih makanan. Untuk itulah, sebagai orang tua, Sabai rajin memperkenalkan ragam cita rasa makanan kepada sang buah hati sejak dini, seperti sup sayur, jus buah ataupun olahan produk susu.

“Sejak dikaruniai seorang anak, saya dan suami semakin memperhatikan kesehatan keluarga terutama kualitas makanan yang kami konsumsi. Sebisa mungkin saya menyiapkan santapan segar bernutrisi bagi Bjorka untuk memastikan dia tumbuh sehat,” ujarnya.

Di samping itu, Sabai juga sering mengajak Bjorka untuk membantunya menyimpan dan menyiapkan bahan makanan sehingga anak merasa senang bisa terlibat sekaligus memperkenalkannya dengan berbagai bahan makanan.

Dalam menyimpan bahan makanan, wanita berusia 30 tahun tersebut benar-benar memperhatikannya sehingga makanan dapat tetap segar. Salah satu teknik penyimpanan makanan di lemari es adalah dengan menjaga kestabilan suhunya.

Namun kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Sabai, apalagi usia Bjorka saat ini baru menginjak 2 tahun, dan memiliki rasa ingin tahu tinggi. Biasanya, dia cenderung sering membuka-tutup lemari es untuk menyimpan dan mengambil makanan favoritnya.

“Saya selalu menyediakan cemilan kesukaan Bjorka dan kreatif mengolah menu sehat untuknya sehingga dia senang untuk mencicipi rasa baru yang sehat dan berkualitas, tapi jadi sering buka tutup kulkas,” tuturnya.

Ketika lemari pendingin sering dibuka tutup, maka dapat mengakibatkan suhu di dalamnya tidak stabil dan penyimpanan bahan makanan menjadi kurang optimal. Michael Adisuhanto, Senior Product Marketing Manager Digital Appliances, Samsung Electronics Indonesia mengatakan untuk mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya menghadirkan lemari es side by side berteknologi Precise Chef Cooling.

Teknologi tersebut memungkinkannya dapat mengontrol perbedaan suhu sehingga menjaga kualitas dan cita rasa setiap bahan makanan tetap segar dalam waktu lama sehingga nutrisnya pun selalu terjaga.

Selain itu, terdapat fitur Twin Cooling Plus yang memungkinkan pada orang tua menyimpan bahan makanan tanpa khawatir dengan bau yang tercampur, serta dapat membuat kesegaran makanan lebih tahan lama.

“Untuk menyimpan lebih banyak makanan, terdapat kompartemen yang lebih luas sehingga orang tua dapat leluasa mengatur penyimpanan makanan sehingga dapat terus memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari pada anak,” tuturnya.

 

Tag : parenting
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top