Foxtrot Six Masuk Kategori 21+, Manoj Punjabi Kritik Lembaga Sensor

Bisnis.com, JAKARTA -- Manoj Punjabi mengkritik lembaga sensor yang memberikan batasan usia penonton dalam beberapa film yang diproduseri, termasuk film Foxtrot Six yang akan segera tayang.
Putri Salsabila
Putri Salsabila - Bisnis.com 14 Februari 2019  |  19:33 WIB
Foxtrot Six Masuk Kategori 21+, Manoj Punjabi Kritik Lembaga Sensor
Manoj Punjabi saat memaparkan kekecewaanya terhadap Lembaga Sensor Film Indonesia pada Konferensi Pers Foxtrot Six pada Rabu, (13/2 - 2019)

Bisnis.com, JAKARTA --  CEO PT. MD Pictures Tbk. Manoj Punjabi mengkritik lembaga sensor yang memberikan batasan usia penonton dalam beberapa film yang diproduseri, termasuk film Foxtrot Six yang akan segera tayang.

Dalam konferensi pers film Foxtrot Six pada Rabu (13/2/2019), selain membahas tentang film yang akan rilis pada 21 Februari mendatang, Manoj Punjabi dan Mario Kassar mengkritik perihal ‘sensor’ di Indonesia.

Mario Kassar, selaku produser film internasional mengatakan, “Hari ini saya baru mendapatkan berita tentang lembaga sensor yang memberikan standar usia pada film kami dalam kategori 21 tahun. Menurut saya itu terlalu banyak. Sebenarnya film ini tidak harus masuk dalam kategori itu,” ujarnya.

Manoj Punjabi menimpali pendapat Mario Kassar dan mempertanyakan hal serupa, “Saya setuju, ini yang selalu saya pertanyakan. Sebenarnya kriteria kita itu apa? Mengapa bisa [masuk kategori] 21?” ujarnya.

Produser film Danur ini menerima dan memahami apabila terdapat beberapa shoot yang harus dibuang, tetapi dia tidak dapat menerima tindakan ‘sensor’ yang memasukkan kategori Foxtrot Six menjadi dewasa (21 tahun), yang sebenarnya bisa menjadi lebih turun dari itu.

Manoj menambahkan bahwa film Foxtrot Six apabila diluar negeri akan masuk dalam kategori 13 tahun dengan bimbingan orang tua. “Tapi jika di luar negeri, [film seperti] ini masih masuk dalam kategori 13 tahun dengan bimbingan orang tua, bukan 17 tahun atau 21 tahun. Apa kriteria lembaga sensor Indonesia? Nggak jelas,” ujarnya.

Manoj merasa karyanya tidak dihargai, namun hal itu bukan menjadi salah satu permasalahan yang digaris bawahi, namun Manoj ragu apabila Hollywood mau aktif dan bekerja sama daalm perfilman Indonesia apabila kategori ‘sensor’ tidak konsisten.

Kemudian, Mario Kassar menimpali, “Dan ide kami untuk membuat film ini setara Hollywood agar film Indonesia bisa menjadi film yang berskala market internasional. Tapi jika seperti ini sudah 21 tahun, ini bisa menghambat,” ujarnya.

"Mile 22, masuk film kategori 17 tahun. film kita seperti ini malah dimasukkan ke kategori 21 tahun. Kalau memang kita salah, kita terima, dan apabila ini perlu dibicarakan, ya marilah.” ujar Manoj.

Manoj Punjabi berharap film Indonesia bisa bersaing dan bekerja sama serta mengundang Hollywood untuk aktif di industri film Indonesia. Hal yang ditakutkan adalah dengan adanya kriteria umur yang tampak belum jelas akan menjadi hambatan.

“Kalau film asing, diberi 17 tahun maksimal, mengapa film Indonesia tidak dihargai? Film seperti ini untuk anak 17 tahun. Saya berani dan memperbolehkan anak saya menonton ini. Nah, sekarang apa sih kriteria ‘sensor’ di Indonesia ? Apa ?” tambahnya.

Selain itu, Manoj juga sempat dikecewakan beberapa kali terkait dengan sensor film sebelum Foxtrot, seperti Sunyi, Silam, dan beberapa film karyanya yang terkendala dengan sensor film yang di luar harapan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top